Oleh Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD[K] *]
Antibiotika baru luas digunakan pada perang dunia pertama. Jumlah dan kemampuannya juga terbatas. Apa yang terjadi jika tubuh manusia terserang infeksi pada era sebelum ada antibiotika? Apa yang dapat menyembuhkan luka para prajurit Romawi dalam peperangan? Jawabannya adalah pembersihan dengan air panas atau alkohol.
Namun, sebenarnya, yang berperan sangat penting adalah kekebalan tubuh mereka. Inilah miracle atau keajaiban yang sebenarnya. Bukan antibiotika, bukan obat-obatan lain, melainkan tubuh kita sendiri. Umpama negara, tubuh kita dilengkapi seperangkat sistem pertahanan. Sistem pertahanan tersebut sudah terbentuk ketika kita masih dalam kandungan. Setelah lahir ke dunia, sistem kekebalan tersebut mulai berfungsi. Sistem tersebut semakin kuat ketika menjadi dewasa dan mulai menurun lagi saat kita menua. Sistem pertahanan kita dilengkapi dengan ‘komputer canggih’. Sistem ini mampu membedakan musuh [kuman, bakteri, jamur] atau teman [makanan, minuman]. Jika ada musuh maka akan ditolak. Namun jika teman yang bermanfaat bagi tubuh sendiri akan diterima dan diserap dengan baik.
Tak banyak yang mengetahui bahwa susunan selaput lendir usus bayi berubah sesuai dengan perubahan komposisi air susu ibu [ASI]. Jadi tubuh bayi menyesuaikan diri dengan perubahan komposisi ASI, dan komposisi ASI berubah sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi. Betapa harmonisnya!
Jika kita kemasukan kuman tifoid, maka tubuh akan membentuk zat anti terhadap kuman tersebut. Sekiranya kuman tifoid masuk lagi ke tubuh tiga tahun kemudian misalnya, maka zat anti pada tubuh kita kita akan mengenalinya dan mengikatnya. Jika jumlah kuman tidak terlalu banyak maka tubuh kita akan terselamatkan.
Perkembangan antibiotika menyebabkan manusia lupa pada kekebalan tubuh. Kita beranggapan penyakit infeksi disembuhkan oleh antibiotika [kita lupa pada kekebalan tubuh]. Namun Allah mengingatkan. Pada tahun 1981 sejumlah anak muda masuk rumah sakit di California karena pneumonia. Infeksi yang biasanya mudah diatasi dengan antibiotika sederhana. Namun ternyata mereka meninggal. Para dokter terkejut. Apa yang terjadi? Ternyata mereka telah kehilangan kekebalan tubuh. Kekebalan tubuhnya dilumpuhkan oleh virus yang disebut Human Immunodefficiency Virus [HIV]. Penggunaan antibiotika yang canggih sekalipun tak dapat menyelamatkan nyawa anak-anak muda tersebut. Barulah pada tahun 1996 para pakar kedokteran menemukan obat antiretroviral yang dapat menekan jumlah virus HIV sehingga kekebalan tubuh dapat pulih kembali.
Sekarang berkat kekebalan tubuh yang pulih, penderita AIDS yang jumlahnya 30 juta lebih di dunia dapat hidup dengan kekebalan tubuh yang baik. Mereka juga dapat hidup produktif. Alangkah hebatnya kekebalan tubuh kita. Karena itu kita tak boleh lupa kepada penciptanya: Allah swt. « []
*] Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia [FK-UI]