Usia menjadi rahasia Ilahi. Tak satu pun manusia yang mengetahui, berapa jatah usianya di dunia ini. Refleksi tentang kematian bisa membuat manusia memahami makna dan hakikat kehidupan.
Sesuatu akan menjadi lebih berharga apabila keberadaanya terbatas. Nah, bagaimana jika yang terbatas itu usia kita. Satu pertanyaan untuk dijawab, bagaimana kita menghargai hidup kita jika diketahui usia kita tinggal enam bulan lagi?
Kali ini ALiF menanyakan pertanyaan tersebut kepada beberapa orang melalui media internet. Cukup menarik jawaban mereka. Secara umum jawaban-jawaban itu bisa dikelompok-kelompokkan.
Untuk keluarga atau orang-orang yang dicintai:
- Mempererat hubungan antarkeluarga.
- Memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan.
- Sering berkumpul dan mengingat masa-masa indah yang pernah dilalui bersama.
Dari sisi spiritualitas:
- Melakukan taubat nasuha [sungguh-sungguh bertobat] atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
- Memperbanyak ibadah.
- Berdoa untuk kebaikan hidup setelah mati.
- Mengurangi keluhan.
- Menikmati sisa hidup dengan lebih berkualitas.
- Berserah diri pada Yang memiliki kehidupan.
Perubahan perilaku:
- Memperbanyak amal jariyah.
- Berupaya lebih banyak menularkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain.
- Mempererat silaturahmi.
- Mencoba melakukan sesuatu hal yang telah diimpikannya.
- Mempersiapkan hal-hal teknis seperti mengembalikan pinjaman [hutang], mengurus asuransi, menyiapkan makam, dan lain-lain.
Berusaha menghasilkan sebuah karya:
- Menulis pengalamanpengalaman selama hidup sampai pada saatnya tidak bisa menulis lagi untuk disebarluaskan pada saatnya agar orang yang membaca bisa terinspirasi untuk lebih menghargai hidup.
- Berbagi cerita kepada orang lain melalui buku atau blog agar mereka tak mudah menyerah dalam menjalani hidup.
Selain jawaban-jawaban di atas masih ada satu jawaban lagi yang tak masuk dalam kelompok-kelompok tersebut. Yang pertama, ada rasa was-was dengan kematian yang akan segera datang. Kemudian muncul penolakan, yang diikuti dengan mencari alternatif pengobatan sehingga usianya lebih panjang lagi.
Muncul juga jawaban yang cenderung tak mempersoalkan usia yang terbatas itu. Ia menjalani hidup seperti biasa. Baginya, persiapan menghadapi mati itu seharusnya dilakukan setiap saat tanpa mempedulikan berapa pun usia kita. « [imam]