Setiap Muslim yang memiliki harta sampai pada batas tertentu [nisab] wajib mengeluarkan zakat. Salah satu rukun Islam ini diberikan kepada delapan golongan yang berhak menerimanya. Ternyata, pengalaman membayar zakat itu berbeda-beda bagi setiap orang, terutama bagaimana cara menghitungnya, periode pembayaran dan kepada siapa diberikan. Berikut penuturan orang-orang tentang pengalaman membayar zakat.
Hindria Dewi
Masalah zakat ini rawan bagi saya. Meski saya tahu ada penghitungan zakat dari gaji yang sudah dikurangi pengeluaran, namun saya lebih memilih dari gaji kotor saja. Bagi saya itu lebih aman daripada kurang. Zakat saya hitung dari gaji kotor setiap bulan dikalikan 2,5 persen.
Arief Rachman
Dua hari setelah mendapat gaji saya keliling mencari orang-orang yang berhak menerima zakat. Biasanya anak-anak yatim di lingkungan sekitar, bisa saudara, atau orang lain. Terkadang saya berikan kepada orang yang saya temui di jalan dan kelihatan sangat membutuhkan. Pernah juga saya berikan ke panti asuhan, namun bukan sebagai donatur tetap. Zakat itu dihitung 2,5% dari take home pay saya setiap bulan sebelum dikurangi pengeluaran.
Andri Alvian
Untuk zakat, setiap bulan saya menyisihkan 2,5% dari gaji saya sebelum dikurangi pengeluaran. Tapi setiap tahun saya hitung pula 2,5% sebagai zakat. Zakat yang saya keluarkan setiap bulan saya salurkan ke lembaga zakat, sedangkan yang tiap tahun saya bagikan ke saudara-saudara yang berhak menerimanya.
K. Puspita
Setiap tahun saya hitung total gaji saya, 2,5% dari itu saya keluarkan untuk zakat. Tapi ada yang mengatakan, total gaji itu setelah dikurangi macam-macam pengeluaran. Zakat itu saya bagikan langsung kepada tetangga-tetangga di sekitar tempat tinggal saya, terkadang kepada saudara-saudara yang berhak menerimanya. Saya masih kurang yakin dengan lembaga yang ada.
Sulthon Nurrahman
Saya lebih memilih untuk mengeluarkan zakat perbulan dari gaji setelah dikurangi pengeluaran. Besarnya 2,5% dari pendapatan bersih itu. Zakat itu saya percayakan kepada lembaga zakat untuk mengelolanya.
Tian Arief
Kalau dihitung-hitung, saya masih belum wajib mengeluarkan zakat karena belum sampai nisab. Namun, saya mengikuti anjuran untuk mengeluarkan sedekah sebesar 2,5% dari gaji saya setiap bulan setelah dikurangi pengeluaran.
Suhari
Wah, kalau zakat dikeluarkan dari penghasilan dikurangi pengeluaran bisa-bisa saya tak pernah mengeluarkan zakat. Karena itu saya memilih menghitung zakat dari penghasilan kotor saya, namun saya hitung total setiap tahun. Zakat itu saya berikan kepada orang-orang di kampung saya, biasanya menjelang lebaran. « []