22/03/2010

Kecerdasan Spiritual dengan Zikir

utama_zikir_ed51Di televisi banyak tokoh atau pejabat yang terlihat cerdas dalam berbicara atau berpendapat. Tapi sayangnya, kecerdasan mereka yang lain digunakan untuk tindakan atau sikap kurang terpuji. Inilah salah satu indikasi kecerdasan spiritual terabaikan.

Manusia diberi kelebihan akal. Dari akallah kecerdasan manusia bisa bisa bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Namun, belakangan ini, kita melihat dalam pemberitaan bahwa ada beberapa tokoh yang kelihatan cerdas, tapi diduga berbuat kurang terpuji di mata publik, misalnya dari cara bicara yang sangat emosial dan kurang santun, berbuat asusila, manipulasi wewenang, dan juga paling terlihat adalah keterlibatan sejumlah tokoh dan pejabat dalam kasus korupsi. Mengapa orang-orang yang dinilai cerdas ini justru berbuat tidak terpuji?

Lazimnya, intelektual dan kecerdasan seseorang selalu dinilai dari IQ [Inteligent Quotient]. Dalam keseharian, kita terkadang mendengar komentar? “Eh, Si A pintar ya? IQ-nya pasti tinggi. Si B bodoh, kayaknya IQ-nya rendah, deh..”. Demikianlah gambaran orang pada umumnya melihat nilai kecerdasan seseorang. Padahal ada dua lagi kecerdasan yang perlu diketahui, yakni EQ [Emotional Qoutient] atau kecerdasan emosial dan SQ [Spirtual Qoutient] kecerdasan spiritual. EQ lebih menekankan pada keterampilan mengelola emosial. Sementara SQ penekannya pada perpaduan keterampilan IQ dan EQ. Nah, jika kita menyaksikan beberapa orang yang terlihat cerdas tapi tidak bisa mengendalikan emosinya dan juga berbuat tidak terpuji, Itu berarti orang tersebut kurang bisa mengelola SQ-nya. Oleh karena itulah, seyogyanya kita memperhatikan pentingnya SQ dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi unsur-unsur dan nilai kecerdasan dalam SQ banyak terdapat dalam ajaran Islam.

Dr. Muhammad Thohir, SpKJ dalam bukunya berjudul 10 Langkah Menuju Jiwa Sehat menyebutkan pentingnya SQ dalam diri manusia. Menurutnya, kecerdasan spiritual adalah fondasi yang diperlukan untuk mengfungsikan kecerdasan intelektual dan emosional secara efektif. Dengan memfungsikan SQ, niscaya manusia bisa berhasil menemukan kebermaknaan dalam hidup serta menemukan etika dan morak untuk membimbing jalan kehidupan. Kecerdasan spiritual juga dimanfaatkan untuk mendidik hati dan budi pekerti. Lantas, bagaimana caranya mendapatkan hasil tersebut yang paling ideal menurut Islam?

Dalam Islam, nilai spiritualitas seseorang dinilai dari caranya dalam memahami hidup melalui perenungan dan zikir tak henti-henti kepada Allah swt. Jika dikaitkan dengan pemanfaatan SQ, memang seharusnya zikir menjadi aktivitas yang tepat dalam berproses mendapatkan SQ.

Pengertian zikir bermacam-macam. Banyak ulama memberikan definisi zikir. Meskipun demikian, makna zikir itu sendiri tetap punya fungsi dan tujuan yang sama, yakni, membangun kedekatan dengan Allah agar manusia terhindar dari perbuatan tercela. Tapi dari asal usul katanya yang ditafsirkan dari al-Qur’an, zikir bisa berarti mengucapkan dengan lidah/menyebut sesuatu. Zikir juga punya pengertian mengingat dan menghafal. Secara umum, zikir juga berarti memelihara sesuatu.

Zikir pun bisa dikategorikan pengertiannya secara sempit dan luas. Secara sempit zikir berarti dengan lidah, yakni menyebut nama Allah dengan lidah atau ucapan, seperti mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah, dll. Sedangkan zikir secara luas, yakni kesadaran tentang kehadiran Allah, di mana dan kapan saja, serta kesadaran akan kebersamaan-Nya dengan makhluk; kebersamaan dalam arti pengetahuan-Nya terhadap apapun di alam raya ini. Serta bantuan dan pembelaan-nya terhadap hamba-hamba-Nya yang taat. [M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Zikir & Doa; Lentera Hati 2006].

Dari pengertian zikir tersebut, jelas bahwa kapasitas SQ seorang Muslim tergantung pada pemahaman dan pengamalan zikir itu sendiri. Apalagi dalam konteks zikir lebih luas, sangatlah berkesinambungan dengan keutamaan SQ seseorang dalam berbagai tindakan, sikap, dan perbuatan di berbagai aspek kehidupan.

Dengan berzikir secara benar, kita sebenarnya menjalani kehidupan cara Rasulullah Saw. Di mana pun dan kapan pun, beliau selalu berzikir kepada Allah untuk mempertahankan kesimbangan IQ dan EQ-nya. Bukankah Allah berfirman; “Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat [pula] kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari [nikmat]-Ku” [QS al-Baqarah [2]: 152].

Semoga dengan berzikir, kita selalu menjadi Muslim yang cerdas sekaligus ber-akhlakul karimah. Âmîn. « [yogira]


Beri komentar

Email


Artikel sebelumnya
Jajak Pendapat
 

Di bulan Puasa ini, bagaimana pengeluaran Anda dibanding bulan lainnya?

Loading ... Loading ...
Artikel ALiF Terkini
Alifmagz di Facebook
 
 
Peta situs Copyright © AliF Magazine 2010