23/03/2010

Dilema Ujian Nasional: Antara Kualitas & Kejujuran

utama_ujian_ed51Tanggal 22 sampai 26 Maret ini, Ujian Nasional [UN] setingkat SMA/SMK/MA digelar secara serentak. Namun, persoalan seputar UN kembali terulang lagi. Selain hasilnya dituntut berkualitas, peserta UN juga wajib mengikutinya secara jujur.

Menjelang UN tiba, biasanya banyak sekali pelajar, guru, dan orangtua murid merasa was-was. UN seperti medan pertempuran. Kalau gagal, seperti kekalahan yang membuat sedih dan kecewa. Kalau berhasil, seperti kemenangan yang berbuah asa dan bahagia. Tentu saja sangat manusiawi, siapapun yang merasa terlibat dengan UN, pasti ingin sukses. Tapi, dengan cara yang bagaimanakah untuk meraih kesuksesan tersebut?

Tak bisa dipungkiri, nyaris setiap tahun UN di Indonesia selalu bermasalah. Misalnya, terjadinya kebocoran dan jual beli soal ujian, terhambatnya distribusi soal ujian. Juga tak lupa, masalah sistem pendidikan, khususnya mengenai kurikulum yang belum bisa mengakomodasi sekolah secara nasional, mengingat jenjang standarisasi pendidikan sekolah tidak seimbang, antara di kota dan pelosok desa.

Itu baru secara teknis dalam pelaksanaannya. Belum lagi yang bersifat non teknis, seperti ketidaksiapan mental peserta UN, keluhan guru perihal beban dan tanggungjawabnya atas perolehan nilai murid yang tidak sepadan dengan kesejahteraan yang diterima, dan masih banyak lagi.

Ini artinya, meraih kesuksesan pendidikan melalui UN tidaklah semudah membalik tangan. Apalagi kesuksesan pendidikan ini harus bermuara pada cita-cita luhur bangsa: membangun manusia yang cerdas, kaya dalam berkarya, dan berakhlak mulia. Ini sebenarnya yang selalu menjadi agenda penting dalam dunia Pendidikan Nasional kita. Lantas bagaimanakah kita menyikapi problematika UN dan pendidikan berikut cara mendapatkan kesuksesannya?

Kualitas Pendidikan Ditentukan oleh Kejujuran
Jujur adalah salah satu sifat terpuji namun sulit diterapkan dalam berbagai kegiatan, termasuk dalam UN. Setiap UN dilaksanakan, pasti kita menemukan berita atau isu yang berkaitan dengan kejujuran. Entah dalam konteks peserta UN, guru, orangtua murid, maupun orang-orang tertentu yang memanfaatkan UN untuk kepentingan bisnis. Di sinilah nilai kejujuran begitu berharga, namun justru kurang dihargai oleh orang-orang yang menilai UN hanyalah momentum untuk mencapai keberhasilan pendidikan dengan akumulasi angka [kuantitas], dengan menafikan keberhasilan budi pekerti [kualitas].

Sebagai Muslim, seyogyanya kita menilai UN lebih menitikberatkan pada keberhasilan dilihat secara kualitas yang pelaksanaannya disertai dengan kejujuran. Pasalnya, Islam memandang kejujuran dalam pendidikan adalah modal utama bagi umat yang ingin hidup berkualitas [cerdas dan berbudi pekerti]. Bukankah Allah menilai manusia bukan dari nilai angka-angka, tapi dari nilai pengalaman dan perbuatannya.

Dalam ajaran Islam, sifat jujur selalu menjadi salah satu dasar penilaian budi pekerti seseorang. Hal ini dipertegas Imam al-Ghazali dalam buku legendarisnya, Ihya Ulumuddin. Cendikiawan sekaligus tokoh pendidikan Islam ini membagi sikap jujur [shidq] menjadi enam kategori, yakni 1] jujur dalam lisan dan bertutur kata; 2] jujur dalam berniat dan berkehendak; 3] jujur dalam berobsesi dan bercita-cita; 4] jujur dalam menepati obesesi; 5] jujur dalam beramal dan bekerja; 6] jujur dalam maqam-maqam beragama.

Pembagian jenis jujur menurut al-Ghazali tersebut berbenang merah dengan manusia yang bekepentingan dengan pendidikan [lisan, bertutur kata, niat, obsesi, cita-cita, beramal, dan bekerja]. Adanya korelasi antara kejujuran dan pendidikan, sebenarnya bisa menciptakan suatu keunggulan pada diri manusia. Faktanya, kita mengenal Rasulullah Saw adalah sosok yang jujur. Dengan kejujuran itulah beliau menjadi pemimpin yang berhasil dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dalam keluarga, bisnis, politik, sosial, dan budaya. Padahal menurut riwayat, beliau tidak mendapatkan pendidikan formal yang tinggi. Beliau bisa mencapai kesuksesan bukan dari lomba, kompetisi atau sejenisnya yang dinilai dengan angka, tetapi dari budi pekertinya yang terpuji, termasuk jujur.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” [HR. Bukhârî].

Pentingnya kejujuran untuk kebaikan umat menjadi nilai yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab kejujuran adalah fondasi untuk membangun peradaban yang maju, baik secara duniawi, maupun spiritual. Jika dihubungkan lagi dengan dunia pendidikan, kejujuran ikut menciptakan sistem pendidikan yang sehat pula. Hal ini ditegaskan juga oleh pakar pendidikan, Prof. Dr. M. Mastuhu, M.Ed. Dalam bukunya bertajuk Sistem Pendidikan Nasional Visioner [SPNV], Lentera Hati [2007]. Mastuhu mengemukakan tujuan SPNV. Menurutnya, tujuan yang diidealkan SPNV adalah clock builders [alumni pendidikan yang cerdas dan bermoral tinggi dalam mencari rezeki di bumi ini melalui jalan Tuhan, mengolah di jalan Tuhan, dan membelanjakannya di jalan Tuhan pula]. Guna mencapai tujuan ideal itu, apakah bangsa kita sudah siap menjalani prosesnya, minimal disertai dengan kejujuran? « [yogira] – foto: sxc


Beri komentar

Email


Artikel sebelumnya
Jajak Pendapat
 

Di bulan Puasa ini, bagaimana pengeluaran Anda dibanding bulan lainnya?

Loading ... Loading ...
Artikel ALiF Terkini
Alifmagz di Facebook
 
 
Peta situs Copyright © AliF Magazine 2010