Coba perhatikan jika ada perhelatan bola yang digelar Persija. Jalan-jalan pasti dipenuhi The JakMania [para supporter Persija-red] berpakaian oranye dengan memakai atribut kebesaran mereka. Seru memang memperhatikan ulah The JakMania menyuarakan fanatisme pada klub kesayangan mereka. Ini juga menunjukkan bagaimana mereka mendukung klub sepakbola asal daerah mereka sendiri.
Tapi coba perhatikan lebih seksama. Para penggila bola yang biasanya menyewa metro mini maupun kopaja ini umumnya didominasi kaum remaja. Dengan berani mereka ‘bertengger’ di atap bis sewaan mereka sambil menabuh gendang atau bernyanyi-nyanyi. Di antara mereka bahkan terselip anak-anak gadis cantik, berusia remaja, yang menggunakan pakaian minim mengikuti jejak teman-teman pria mereka.
Tak hanya itu, diantara mereka juga didapati supporter liar yang tertangkap kedapatan membawa puluhan senjata tajam, seperti golok, pedang, clurit, panah silet, gunting, dan gear [Vivanews, Kamis, 25 Maret 2010]. Bukan hanya pada The JakMania, tapi kondisi ini sepertinya juga dialami banyak supporter muda dari berbagai klub sepakbola tanah air. Apa yang terjadi pada anak-anak ini? Apa yang membuat anak-anak ini terlibat vandalisme atau memiliki keinginan untuk merusak dan menghancurkan? Rasanya perilaku ini tak hanya dimiliki oleh para supporter liar ini, namun aksi tawuran pelajar di berbagai daerah juga mencerminkan hal yang sama.
Masa remaja identik dengan masa ‘topan dan badai’. Mereka mengalami masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Suasana hati yang mereka alami di masa ini sungguh tidak mengenakkan, antara suasana ketergantungan dan ketidaktergantungan, karena mereka merasa bukan kanak-kanak lagi, namun belum mampu mengemban tugas seperti orang dewasa. Sehingga situasi seperti ini dapat membingungkan mereka.
Masa ini juga dikenal sebagai masa mencari jati diri. Pencarian tersebut tercermin dalam aktivitas berkelompok untuk memenuhi kebutuhannya diterima dan diakui. Masa ini umumnya mereka patuh pada norma kelompok yang sangat kuat, walaupun norma tersebut bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Mengapa remaja-remaja ini dapat terlibat pada kelompok-kelompok yang salah? Di mana orangtua mereka? Bukankah mereka juga mendapatkan pelajaran nilai dan moral dalam pelajaran agama di sekolah?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak bisa melihat masalah ini hanya dari satu sisi. Atau menimpakan kesalahan hanya pada orangtua, sekolah, maupun pemerintah secara terpisah. Karena ini adalah tanggungjawab bersama. Kerjasama antara orangtua, masyarakat, para pendidik, dan pemerintah. Dari rumah, jarak yang tanpa sadar diciptakan orangtua karena penerapan pola asuh keras menguasai maupun terlalu membebaskan yang tidak tepat bagi anak-anak ini, juga hubungan yang tidak harmonis antara anggotanya membuat rumah menjadi tempat yang sangat tidak nyaman bagi anak. Anak pun mencari pelampiasan ke luar bersama teman-temannya.
Penerapan disiplin yang tidak konsisten, baik di rumah maupun sekolah juga rentan penyimpangan. Misalnya orangtua yang kerap mengharuskan anak shalat, sedangkan ia sendiri tidak secara konsisten melakukannya. Selain itu pendidikan agama di sekolah yang hanya diterapkan sebagai formalitas untuk memenuhi prasyarat nilai minimal saja, tanpa adanya penghayatan yang lebih dalam, dapat ditinjau kembali. Misalnya membawa anak terjun langsung melakukan bakti sosial untuk mencoba rasakan apa yang dialami orang yang mengalami musibah bencana, sehingga pelajaran tidak hanya melulu diisi dengan hafalan saja. Orangtua atau sekolah juga bisa menyalurkan bakat anak dengan mengikutsertakan mereka pada kegiatan-kegiatan yang lebih positif untuk mengisi waktu luang, sekaligus mendukung kebutuhan mereka akan ekspresi diri.
Di luar semua itu, ajaklah anak-anak ini menjadi sahabat dan bukan musuh yang harus dibasmi. Sebagai Muslim yang menjunjung ukhuwah, kita sebaiknya ikut menyebarkan cinta kasih pada anak-anak kita ini. Mereka juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari pihak-pihak yang peduli, terutama dari kedua orangtua dan guru-gurunya. Ajak mereka bicara dari hati ke hati, mendiskusikan apa yang mereka butuhkan untuk membekali diri.
Guru juga tidak perlu menciptakan jarak, karena dengan menganggap anak didik seperti anak sendiri yang terbuka terhadap masukkan, saran dan keluhan dari anak didik, maka anak-anak ini akan merasa aspirasi mereka diterima dan mereka mendapatkan perhatian yang cukup dari orang-orang yang menjadi panutan mereka di sekolah. Orangtua pun dapat menciptakan suasana rumah yang menyenangkan yang diliputi kasih sayang, sehingga membuat anak betah berada di rumah tanpa perlu mencari kesenangan dan perhatian dari orang lain di luar rumah.
Seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bazzâr dari Ibnu ‘Umar ra. Bahwa Rasul Saw pernah bersabda, “Sesungguhnya pada setiap pohon terdapat buah, dan buahnya hati adalah anak. Sesungguhnya Allah tidak akan mengasihi mereka yang tidak mengasihi anaknya. Dan demi nyawaku yang berada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang memiliki sifat kasih sayang.” « [esthi] – foto: sxc