16/04/2010

Selingkuh itu Indah?

Seorang selebritis ternama mencoba-coba ‘bermain api’ dengan selingkuh. Seorang pejabat yang sudah berkeluarga mencoba menjadi ‘lelaki hidung’ belang dengan selingkuh. Mengapa selingkuh selalu terjadi di berbagai kesempatan? Apakah karena selingkuh itu indah?

Ungkapan selingkuh itu indah sangat populer dalam kehidupan kita. Saking ‘indah’, sepertinya peminat selingkuh semakin banyak. Faktanya, media seringkali memberitakan orang-orang yang terlibat selingkuh sehingga itu menarik perhatian publik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], pengertian selingkuh berkonotasi negatif. Selingkuh artinya: 1] tidak berterus-terang; tidak jujur; suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; curang: serong 2] korup.
utama_selingkuh_ed54Dari pengertian itu, selingkuh bermakna luas, tidak hanya dalam hubungan cinta orang berpasangan, tetapi juga bermakna bagi orang yang berhubungan dengan orang banyak, misalnya koruptor. Meskipun maknanya bisa berterima secara luas, toh selingkuh lebih populer dalam konteks hubungan dua insan. Itu pun tidak terbatas hanya pada masalah cinta, tetapi juga yang bersifat ekonomi, misalnya seorang suami yang menyembunyikan penghasilannya kepada istri untuk kepentingan pribadi. Sebaliknya, seorang istri pun memperdaya sang suami dengan berbohong bahwa uang belanjanya tidak cukup atau habis. Padahal uang tersebut digunakan untuk kepuasan dirinya. Intinya, selingkuh mengandung sifat dan sikap yang menyembunyikan sesuatu dan bisa merugikan satu pihak. Karena selingkuh berkonotasi negatif, dalam ajaran Islam pun perbuatan itu diharamkan.

Islam memandang selingkuh adalah pelanggaran yang bisa berdampak buruk, tidak hanya pada orang yang melakukannya, tetapi juga bisa mengorbankan orang lain. Terutama selingkuh cinta, Islam melarangnya karena perbuatan ini termasuk zina. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an Surah al-Isrâ’ [17] ayat 32, yang terjemahannya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Ayat tersebut turun karena memang dari dulu manusia mudah tergoda untuk berbuat zina. Apalagi zaman sekarang, peluang untuk berselingkuh bisa kapan saja dan di mana saja, bisa dengan cara hang out ke luar kota, ke bioskop, café, via telepon, SMS, chatting, e-mail, jejaring sosial, dan semacamnya. Memang tidak ada larangan untuk melakukan aktivitas itu, tapi bagi orang yang tidak kuat iman, aktivitas tersebut rentan mendatangkan selingkuh.

Apapun caranya untuk berselingkuh, tidak kuat iman adalah penyebab utama bahwa seseorang terjebak dalam perselingkuhan. Persoalan tidak kuat iman ini biasanya terdorong oleh berbagai sebab juga, seperti: karena iseng, merasa tidak cocok dengan pasangan, dan lingkungan di sekitarnya [lingkungan dalam pergaulan, pekerjaan, atau tetangga]. Karena itulah dalam konteks hubungan sosial, Rasulullah Saw bersabda, yang terjemahannya: “Janganlah laki-laki berduaan dengan wanita yang tidak halal baginya kecuali dengan mahramnya, karena yang ketiga adalah setan.” [HR Ahmad dan Syaikha].

Sangat wajar kalau Islam menyatakan selingkuh diharamkan. Pasalnya, selingkuh bisa berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia. Terutama dalam kehidupan rumahtangga, pastinya selingkuh akan meningkatkan angka perceraian, kemiskinan, broken home bagi anak-anaknya sehingga menghambat perkembangan mentalnya, pembunuhan atau perusakan oleh korban yang sakit hati, aborsi, dan hukuman normatif dari orang-orang terdekatnya, baik saudara, maupun tetangga.

Betapa buruknya dampak selingkuh, kita seyogyanya senantiasa harus berhati-hati dalam pergaulan dan yang lebih penting bisa menjaga keharmonisan keluarga dengan terus berkomunikasi dan sama-sama belajar tentang Islam, terutama yang berkaitan dengan pernikahan dan rumahtangga.

Tips Perkawinan Bahagia
M. Quraish Shihab dalam bukunya Pengantin al-Qur’an [Kalung Permata buat Anak-anakku] memberikan nasihat-nasihat yang berharga agar kehidupan pernikahan bahagia dan harmonis sehingga pasangan bisa menghindari perselingkuhan. Dalam salah satu bab di buku tersebut Quraish berbagi nasihat bagaimana memantapkan ikatan perkawinan. Menurutnya, untuk memantapkan perkawinan, pasangan memang seharusnya mengenal baik kebiasaan masing-masing dan bisa saling menyesuaikan dengan kebiasan tersebut. Setelah tahu sama tahu, pasangan ini harus mengomunikasikan hak dan kewajiban masing-masing dengan berpegang pada nilai-nilai keseimbangan. Quraish merangkum nilai keseimbangan ini dengan beberapa poin, di antaranya:

  1. Keseimbangan hak dan kewajiban antara suami dan istri;
  2. Keseimbangan dalam take and give;
  3. Keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran; keseimbangan antara sarana dan tujuan;
  4. Keseimbangan antara keinginan meraih ketentraman dan kedamaian dengan kecenderungan berspekulasi dan menerobos bahaya;
  5. Keseimbangan antara tugas dan cinta.

Itu baru sebagian nilai keseimbangan yang bisa menjadi penguat keharmonisan rumahtangga karena masih ada keseimbangan lain yang sebenarnya bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya keharmonisan dalam hubungan cinta dan pernikahan dalam Islam tidak ada maksud lain agar pasangan yang berumahtangga bisa menjalani keindahan keluarga dengan sakinah, mawaddah, wa rahmah. Dengan begitu, godaan untuk selingkuh bisa dihindari. Jika masih ada yang mengatakan selingkuh itu indah ya memang wajar, tapi keindahannya berlaku untuk golongan setan, na’udzubillâh min dzalik. « [yogira] – foto: sxc


Beri komentar

Email


Artikel sebelumnya
Jajak Pendapat
 

Di bulan Puasa ini, bagaimana pengeluaran Anda dibanding bulan lainnya?

Loading ... Loading ...
Artikel ALiF Terkini
Alifmagz di Facebook
 
 
Peta situs Copyright © AliF Magazine 2010