19/05/2010

Masjid Bergaya Cina, Simbol Keragaman Indonesia

Bangunannya memang terlihat eksotik, arsitekturnya juga unik karena kaya warna. Strukturnya, yang mirip kuil, dicat warna merah tua dan merah jambu, serta dipuncaki oleh sebuah kubah berwarna hijau giok. Dua menara berbentuk pagoda berjenjang lima mengapit sisi-sisinya, lengkap dengan sentuhan bergaya Cina di atapnya. Namun, bila lebih jeli diamati, tampaklah bulan sabit dan bintang bertengger di atas kubahnya. Bangunan ini ternyata bukan sebuah klenteng, melainkan Masjid Muhammad Cheng Ho.

Masjid Cheng Ho

Masjid ini, yang merupakan perpaduan budaya Tionghoa dan Islam, tak akan mungkin dibangun pada zaman Orde Baru, ketika keuangan dan kekuasaan negara Indonesia difokuskan pada upaya mempertahankan stabilitas nasional. Di bawah kekuasaan Suharto, ekspresi budaya Tionghoa dalam segala bentuknya dianggap sebagai ancaman bagi identitas nasional, dan karena itu ditindas.

Seiring reformasi 1998, sejumlah undang-undang yang diskriminatif terhadap etnis Tionghoa dihapus, dan sejak itu di Indonesia terjadilah kebangkitan budaya Tionghoa secara perlahan tapi pasti. Bagi banyak orang, hal ini merupakan proses penemuan dan penyembuhan diri karena warga Tionghoa bisa lagi memeluk etnisitasnya secara lebih terbuka.
Upaya lain juga telah dilakukan untuk menghidupkan kembali identitas Tionghoa. Pembangunan masjid yang juga dinamai Masjid Muhammad Cheng Hoo di Surabaya pada 2002 adalah salah satu contoh kebangkitan ini. Masjid ini terletak dekat pusat kota dan desainnya sangat terpengaruh oleh gaya arsitektur Cina, yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang bergaya Jawa. Masjid Cheng Ho Palembang, yang dibangun pada 2006, terilhami oleh desain masjid ini.
Masjid itu menggunakan nama Cheng Ho, yang umum dikenal sebagai Zheng He, seorang laksamana angkatan laut Cina abad ke-15 berperan cukup penting dalam penyebarluasan Islam di Indonesia. Menurut sejarawan lokal, Cheng Ho mengunjungi Palembang empat kali antara tahun 1405 dan 1433 untuk menumpas kawanan bajak laut di selat Malaka.
Setiba di Palembang, saya bertanya ke sopir saya tentang Masjid Cheng Ho, dan ia terkejut mendengar ada masjid dengan nama Tionghoa di daerah itu.

Seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Sriwijaya yang menemani saya selama kunjungan, juga mengatakan kalau dia tak pernah mendengar tentang masjid itu. Meski dia sering lewat daerah itu, dia selalu mengira bahwa bangunan dengan menara kembar itu adalah sebuah klenteng. Tidak cuma dia, kebanyakan orang juga mengira demikian.
Masjid Cheng Ho punya desain arsitektur yang unik, yang memadukan unsur-unsur budaya lokal Palembang dengan nuansa Cina dan Arab. Masjid yang dibangun di atas tanah 5.000 meter persegi ini berada di sebuah kompleks perumahan kelas menengah. Menara di kedua sisi masjid meniru klenteng-klenteng di Cina, dicat warna merah dan hijau giok.

Masjid ini mulai digunakan sejak Agustus 2008. Tidak ada pembatas yang memisahkan jamaah laki-laki dan perempuan di dalam masjid. Laki-laki salat di lantai pertama, sedang perempuan di lantai kedua. Di lingkungan masjid ini ada sebuah rumah kecil buat imam, sebuah kantor, sebuah perpustakaan, dan sebuah ruang serbaguna.
Fungsi masjid Cheng Ho lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid ini menghelat kegiatan-kegiatan agama dan kemasyarakatan, dan telah menjadi sebuah tujuan wisata, yang menarik para pengunjung dari Malaysia, Singapura, Taiwan dan bahkan Rusia. Bahkan, saat saya tiba, masjid ini tengah dipenuhi puluhan pelajar sekolah menengah pertama yang merayakan maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka menyimak pembacaan Al-Qur’an dan mendapat pelajaran agama.
Masjid Cheng Ho menjadi bukti bahwa di Indonesia ada ruang bagi para warga untuk mengekspresikan identitas unik mereka – percampuran tradisi dan budaya Tionghoa dan Islam dalam konteks lokal Indonesia.
###
*) Evi Nurvidya Arifin ialah peneliti tamu Institute of Southeast Asian Studies, Singapura. Artikel terjemahan ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dengan seizin The Jakarta Globe.

Sumber: The Jakarta Globe, 4 Mei 2010, www.thejakartaglobe.com
Artikel ini telah mengalami penyuntingan seperlunya dari ALiF tanpa mengubah isi cerita Artikel sepenuhnya dapat dilihat di www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.


Beri komentar

Email


Artikel sebelumnya
Artikel sebelumnya
Jajak Pendapat
 

Di bulan Puasa ini, bagaimana pengeluaran Anda dibanding bulan lainnya?

Loading ... Loading ...
Artikel ALiF Terkini
Alifmagz di Facebook
 
 
Peta situs Copyright © AliF Magazine 2010