
Memilih sekolah bagi si kecil yang baru mulai sekolah memang tidak mudah. Perlu kejelian orangtua untuk memilihkan yang terbaik bagi sang buah hati.
Terutama bagi anak-anak yang baru mau mencoba bersekolah di prasekolah. Tentu banyak sekali yang perlu diperhatikan karena tiap sekolah memiliki kurikulum, pendekatan, cara pengajaran serta nilai-nilai yang berbeda.
Tiap anak juga memiliki kebutuhan akan sekolah yang berbeda dengan anak lain. Anak yang kreatif mungkin membutuhkan sekolah yang yang memiliki pendekatan pada aktifitas kreatif dan seni, sedang balita yang aktif dan gemar mengambil risiko mungkin dapat mencoba sekolah alam yang dapat memenuhi kebutuhannya akan ruang gerak, dan sebagainya. Tentu pengenalan terhadap apa yang dibutuhkan si kecil menjadi acuan utama bagi memilihkan sekolah yang terbaik bagi mereka.
Namun, sebelum menilai hal-hal yang lebih serius dari sebuah sekolah, yang pertama adalah melihat apa yang kasat mata dari sebuah sekolah saat Anda berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain untuk mencari yang terbaik bagi si kecil. Beberapa hal yang dapat dilihat, antara lain:
- Keadaan fisik bangunan sekolah dan pembagian ruangan. Apakah fisik bangunan sekolah tersebut tampak kokoh, tidak ada bagian-bagian yang dapat membahayakan si kecil, misalnya tangga kayu yang sudah rapuh. Perhatikan juga pembagian ruangan, apakah ruang kelas terlihat luas dengan sirkulasi udara yang cukup dan bersih.
- Kelas yang tampak menyenangkan dengan tempelan hasil karya para murid. Perhatikan apakah semua karya murid ditempel atau hanya yang terbaik saja. Karena karya murid, betapapun bentuknya harus dihargai. Cara ini membuat Anda tahu bagaimana sekolah memperhatikan perbedaan kebutuhan para siswanya. Selain itu setting klas bisa dilakukan dimana saja, tidak harus di ruang kelas.
- Alat-alat permainan yang digunakan tampak terawat, bersih, mendidik dan mendidik.
- Apakah ada ruang terbuka yang luas dan memungkinkan anak-anak aktif melakukan kegiatan fisik.
- Bagaimana cara staf dan guru memperlakukan murid. Apakah mereka terlihat dominan dengan berusaha mengendalikan dan memerintah, atau terlihat hangat dan tulus memperhatikan siswanya. Posisi guru mengajar juga tidak hanya di depan, namun guru tampak aktif mendekati siswa.
- Jika memungkinkan, cari sekolah yang tiap kelasnya memiliki lebih dari satu guru dengan rasio guru-murid yang tidak terlalu banyak.
- Perhatikan wajah-wajah siswa yang belajar di sana. Apakah terlihat senang, ataukah tegang.
- Sebisa mungkin cari sekolah yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah untuk menghindarkan si kecil dari kelelahan di perjalanan.
Selain itu, untuk mengetahui baik atau tidaknya sekolah, Anda dapat mencari tahu dari teman, kerabat, atau langsung pada staf pengajar, antara lain:
- Kurikulum tetap tidak menyimpang dari kurikulum nasional, namun sekolah juga memperhatikan perbedaan unik tiap siswa. Perlakuan terhadap anak-anak yang lambat dalam menangkap pelajaran berbeda dengan yang cepat menangkap. Ada bimbingan khusus pada siswa dalam kelompok-kelompok kecil.
- Tidak sembarangan mendorong siswa untuk berprestasi, terutama prestasi akademis namun membantu siswa memenuhi tahapan perkembangannya dan memaksimalkan seluruh potensinya sesuai dengan kebutuhan dan keunikkan masing-masing.
- Rancangan aktivitas yang beragam dan sesuai dengan tahap perkembangan dan kebutuhan anak. Aktivitas tampak kreatif dengan alat bantu peraga yang menarik sehingga dapat memaksimalkan potensi anak.
- Apakah visi dan misi sekolah sama dengan visi dan misi Anda dalam mendidik anak.
- Jika perlu, ajak si kecil untuk mencoba program trial yang biasanya ditawarkan oleh sekolah. Coba beberapa kali, dan tanyakan pada si kecil bagaimana pendapat mereka mengenai sekolah tersebut. Apakah mereka senang, ataukah tampak tidak bersemangat?
Hal-hal di atas tentu dapat disesuaikan dengan kebutuhan buah hati Anda dan tidak dapat dijadikan patokan, karena setiap keluarga memiliki prioritas yang berbeda dalam mencari sekolah yang terbaik bagi sang buah hati. [esthi]
RUMAH SEBAGAI SEKOLAH ANAK
Pendidikan bagi anak adalah persoalan pembangunan sumberdaya manusia: suatu upaya yang sangat penting dan sangat mendasar bagi setiap orang tua dalam mengemban tanggungjawab mempersiapkan anak menuju masa depan. Pendidikan yang baik dan terencana menjadi tuntutan yang harus dipenuhi oleh setiap orang tua. Melalui pendidikan yang baik dan terencana, diharapkan potensi anak dapat tumbuh dan berkembangnya secara baik dan benar (normal). Ketika dewasa mereka menjadi pribadi-pribadi yang mandiri serta tangguh: mampu berkarya dan memiliki andil di dalam membangun kehidupan.
Guna memenuhi kebutuhan itu dituntut kesadaran setiap keluarga memiliki pemahaman yang cukup tentang manusia (anak) serta dunia pendidikan yang ada. Dua bentuk pemahaman ini akan sangat membantu orang tua dalam menyalurkan dan menciptakan kondisi pendidikan sesuai kebutuhan anak. Tanpa dibekali kesadaran ini kemungkinan besar setiap orang tua akan salah langkah: bukan membangun melainkan menghancurkan potensi yang ada pada diri anak.
Fakta yang ada, justeru pada dua persoalan di atas kebanyakkan orang tua tidak memiliki dan memahami pengetahuan memadai. Kebanyakkan orang tua mempercayakan penuh masalah perkembangan jiwa anak pada lembaga-lembaga pendidikan yang ada, baik pendidikan formal maupun non formal. Mereka sudah cukup puas dan merasa benar jika mereka sudah menyekolahkan anak dan mendorong anak menjadi rajin pergi ke sekolah. Mereka berpandangan bahwa sekolah tempat membangun budi pekerti dan mendapatkan ilmu yang berguna bagi anak. Mereka yakin dan percaya sekolah akan mampu membina anak dan membekali ilmu bagi masa depan mereka. Sikap itu telah menggeser fungsi rumah (rumah tangga) yang sangat fital menjadi sekedar tempat pulang, bernaung dan bercengkrama.
Sikap ini jelas salah. Dan kesalahan sikap orang tua yang demikian ini akan semakin nyata jika setiap orang tua mau mempelajari tentang potensi anak dan kaitannya dengan sistem kehidupan yang ada. Bahwa potensi anak sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi yang ada dan terjadi di tempat ia dibesarkan: terutama kondisi kesadaran kehidupan (ilmu pengetahuan) dan mental manusia-manusia di sekelilingnya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Sistem Pendidikan Nasional Indonesia yang ada saat ini sangat tidak mendukung bagi tumbuh dan kembangnya potensi anak: bahkan secara ekstrim saya menilainya sebagai perusak potensi dan jiwa anak didik. Kurikulum pendidikan yang ada tak ubahnya mesin sampah pengetahuan yand dijejalkan ke dalam kepala anak-anak Indonesia. Dengan begitu sitem pendidikan yang ada telah mengubah fungsi akal menjadi bak pembuangan sampah bukan sebagai sistem pencerna ilmu pengetahuan.
Buah pendidikan yang dihasilkan dapat kita lihat melalui diri kita sendiri dan orang-orang di sekeliling kita. Akan semakin jelas buah rusak itu tercermin pada pribadi-pribadi pejabat negara yang dapat dikatan sebagian besar bermental korup. Serta terseok-seoknya bangsa Indonesia dalam upaya meraih kemajuan pembangunan bangsa dan negara.
Semua fakata ini menjadi hambatan terbesar bagi perkembangan potensi dan jiwa anak. Oleh karena itu memilih sekolah sebaik apa pun yang ada di Indonesia bukanlah sikap yang benar bagi para orang tua dalam rangka mempersiapkan pendididkan yang baik bagi anak-anak mereka. Seluruh sekolah di Indonesia sama: mesin perusak. Semua orang tua tidak bisa mengelak dari perangkap buruk dunia pendidikan nasional ini.
Cuma ada satu cara untuk menyiasati: menjadikan rumah sebagai sekolah alamiah anak.