<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; Interaktif</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/category/interaktif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 12:40:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Samakah Buah Afrodisiak dengan Buah Khuldi?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/samakah-buah-afrodisiak-dengan-buah-khuldi/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/samakah-buah-afrodisiak-dengan-buah-khuldi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 12:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16372</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Saya mau bertanya dalam surat Thahaa ayat 121 disebutkan bahwa Nabi Adam as. dan Hawa memperlihatkan auratnya setelah memakan buah terlarang (khuldi). Makanan afrodisiak yang meningkatkan gairah seksual juga mungkin memiliki kriteria yang sama. contohnya adalah buah maca yang meningkatkan hormon seksual seketika setelah memakannya. pertanyaan saya, apakah makanan afrodisiak seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Saya mau bertanya dalam surat Thahaa ayat 121 disebutkan bahwa Nabi Adam as. dan Hawa memperlihatkan auratnya setelah memakan buah terlarang (khuldi). Makanan afrodisiak yang meningkatkan gairah seksual juga mungkin memiliki kriteria yang sama. contohnya adalah buah maca yang meningkatkan hormon seksual seketika setelah memakannya.</p>
<p>pertanyaan saya, apakah makanan afrodisiak seperti buah maca itu dilarang?</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>[Hamba Allah - via <a href="http://www.alifmagz.com/kirim-pertanyaan/">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa’alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Terjemahan Q.S. Thâhâ (20): 121 itu kurang lebih begini: <em>Maka keduanya memakan darinya, lalu tampaklah bagi keduanya sau’ât (aurat) keduanya sehingga mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga dan melanggarlah Adam terhadap Tuhannya maka sesatlah ia</em>. Memang boleh jadi upaya menutup aurat yang dilakukan oleh Adam dan Hawa itu merupakan pertanda bangkitnya nafsu seksual. Ini seperti dikatakan oleh Sayyid Quthub ketika menafsirkan ayat ini. Larangan mendekati pohon itu pun, masih menurut Sayyid Quthub, boleh jadi karena buahnya mengantar kepada kesadaran tentang adanya dorongan-dorongan seksual dalam diri manusia. Tetapi, sekali lagi, itu adalah kemungkinan. Banyak mufasir lain yang tidak menghubungkan ayat ini dengan bangkitnya nafsu seks.<br />
Saya cenderung berpendapat bahwa larangan Allah kepada Adam dan Hawa agar tidak memakan buah khuldi tidak serta merta mengandung larangan kepada kita untuk memakan buah-buahan lain yang berpotensi meningkatkan hormon seksual. Apalagi jika mengonsumsi makanan (afrodisiak) seperti itu dilakukan oleh pasangan suami istri yang relatif “bermasalah” dalam hubungan seks mereka. Sebagai upaya mengatasi “masalah” seksual mereka, mengonsumsi afrodisiak justru merupakan langkah pengobatan yang baik. </p>
<p>Lagi pula, banyak dari makanan-makanan yang digolongkan sebagai afrodisiak pada dasarnya adalah makanan-makanan yang halal. Daging, susu, telur, coklat, kacang-kacangan, adalah makanan-makanan yang dianggap cukup baik dalam membangkitkan libido seseorang. Dan makanan-makanan itu adalah halal sehingga boleh dikonsumsi.</p>
<p>Demikian,<em> wallahu a’lam.</em></p>
<p>[Muhammad Arifin, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>]</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/samakah-buah-afrodisiak-dengan-buah-khuldi/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/samakah-buah-afrodisiak-dengan-buah-khuldi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Poligami Tanpa Sepengetahuan Istri Pertama?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/bolehkah-poligami-tanpa-sepengetahuan-istri-pertama/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/bolehkah-poligami-tanpa-sepengetahuan-istri-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 08:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[poligami]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16343</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Teman saya dipoligami sebagai istri kedua, tapi tanpa sepengetahuan istri pertama. Dengan alasan takut istri pertama minta cerai. Karena alasan itu pulalah teman saya tidak mendapatkan pembagian malam selama pernikahannya. Suaminya hanya datang siang hari, itu pun jarang. Pak ustadz berdosakah sang suami tersebut? [Ummu Hamzah via formulir pertanyaan] Jawab: Wa&#8217;alaikumussalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Teman saya dipoligami sebagai istri kedua, tapi tanpa sepengetahuan istri pertama. Dengan alasan takut istri pertama minta cerai. Karena alasan itu pulalah teman saya tidak mendapatkan pembagian malam selama pernikahannya. Suaminya hanya datang siang hari, itu pun jarang. Pak ustadz berdosakah sang suami tersebut?</p>
<p>[Ummu Hamzah via <a href="http://www.alifmagz.com/kirim-pertanyaan/">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Memang, dalam fikih tidak ada syarat bagi seorang suami yang hendak menikah lagi (berpoligami) untuk memberi tahu atau meminta izin terlebih dahulu dari istri pertamanya. Tetapi dalam praktiknya, semua istri-istri Rasul saw. saling tahu siapa saja istri-istri beliau. Nabi saw. tidak merahasiakan salah satu istri beliau dari istri yang lain. Tidak menikah lagi lewat pintu belakang.</p>
<p>Mengapa harus dirahasiakan dari istri pertama? Mengapa harus lewat pintu belakang? Kalau takut istri pertama minta cerai, mengapa menikah lagi? Menurut hemat saya, kalau sudah “berani” berpoligami, semestinya berani pula menghadapi segala “risiko”-nya. Termasuk membagi jatah bermalam, dan tidak merahasiakan perkawinannya yang kedua atau ketiga. Saya khawatir suami teman Ibu itu terjebak dalam <em>mu‘âsyarah</em> (perlakuan suami istri) yang tidak adil terhadap istri yang kedua. Kalau takut berbuat tidak adil, beristri satu saja lebih baik. Itu antara lain pesan al-Qur’an dalam surah an-Nisâ’ (4): 3. Kalau beristri lebih dari satu, keadilan harus diciptakan. </p>
<p>Demikian, <em>wallahu a’lam.</em></p>
<p>[Muhammad Arifin, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>)</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/bolehkah-poligami-tanpa-sepengetahuan-istri-pertama/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/bolehkah-poligami-tanpa-sepengetahuan-istri-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimanakah Adab Bershalawat yang Benar?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-adab-bershalawat-yang-benar/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-adab-bershalawat-yang-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 12:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16340</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Bagaimanakah adab yang benar dalam pengucapan shalawat kita kepada Nabi Muhammad SAW, seperti Allahumma shalli &#8216;ala Muhammad wa &#8216;ala ali Muhammad. Apakah hukumnya dengan penambahan Sayyidinna di dalam pengucapan shalawat tersebut? Adakah dalilnya? Jazakallah. Wassalamu&#8217;alaikum wr. wb. [Lola - via formulir pertanyaan] Jawab: Wa’alaikumussalam wr. wb. Soal penggunaan kata sayyidinâ (yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Bagaimanakah adab yang benar dalam pengucapan shalawat kita kepada Nabi Muhammad SAW, seperti <em>Allahumma shalli &#8216;ala Muhammad wa &#8216;ala ali Muhammad</em>. Apakah hukumnya dengan penambahan Sayyidinna di dalam pengucapan shalawat tersebut? Adakah dalilnya?</p>
<p>Jazakallah.<br />
Wassalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>[Lola - via <a href="http://www.alifmagz.com/kirim-pertanyaan/">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa’alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Soal penggunaan kata <em>sayyidinâ</em> (yang artinya ‘yang dipertuan’, ‘tuan kami’, ‘penghulu kami’, ‘pemimpin kami’) sebelum nama Nabi Muhammad saw. ketika kita bershalawat kepada beliau, menurut hemat saya, tidak ada masalah. Rasulullah saw. sendiri bahkan menyebut dirinya sayyid. Coba kita lihat hadis riwayat Imam Muslim yang berasal dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “<em>Aku adalah sayyid (tuan, pemimpin) anak cucu Adam pada Hari Kiamat, orang pertama yang kuburnya dibuka, dan orang pertama yang memberi dan diberi syafaat.</em>” </p>
<p>Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah berkata tentang Hasan bin Ali r.a., “<em>Sesungguhnya anak (cucu)-ku ini adalah sayyid.</em>” (H.R. Bukhari). Bahkan di antara sesama sahabat-sahabat Nabi pun tidak jarang kita temukan mereka saling memanggil <em>sayyid</em> kepada yang lain. Umar bin al-Khaththab, misalnya, pernah mengatakan tentang Abu Bakar r.a., “Abu Bakar adalah <em>sayyid</em> kita, dan dia telah memerdekakan <em>sayyid</em> kita.” (<em>sayyid</em> yang kedua yang dimaksud oleh Umar bin Khaththab adalah Bilal bin Rabah). Ini kita temukan dalam riwayat Imam Bukhari.</p>
<p><em>Nah</em>, kalau Hasan bin Ali r.a. dipanggil sayyid, Abu Bakar dipanggil <em>sayyid</em>, Bilal bin Rabah yang dulunya seorang budak belian juga dipanggil <em>sayyid</em>, apakah salah kalau kita memanggil baginda Rasulullah dengan sebutan <em>sayyid</em>? Bukankah beliau justru seharusnya lebih dihormati daripada yang lain? Bukankah beliau juga mengatakan, “<em>Aku adalah sayyid anak cucu Adam pada Hari Kiamat?</em>” </p>
<p>Memang, ada sebuah hadis yang boleh jadi dipahami oleh sebagian orang sebagai dasar larangan memanggil beliau dengan sebutan <em>sayyid</em>. Ibnu Syukhair, dalam riwayat itu, berkata, “Aku bertolak dalam sebuah delegasi Bani Amir menuju Rasulullah saw. Lalu kami berkata kepada beliau,<em> ‘Anta sayyidunâ</em> (Engkau adalah <em>sayyid</em> (tuan, yang dipertuan, pemimpin) kami.’ Beliau berkata, <em>‘As-sayyid Allâh</em> (Yang Dipertuan adalah Allah).’ Kami berkata lagi, ‘Engkau juga yang paling utama dan paling terhormat di antara kami.’ Beliau lalu berkata, ‘Katakan saja apa yang ingin kalian katakan atau sebagian yang ingin kalian katakan! Jangan kalian tertarik oleh setan.’” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Al-Albani. </p>
<p>Terkesan dari jawaban Nabi dalam hadis di atas bahwa beliau tidak mau disebut <em>sayyid</em>. Tetapi itu tidak berarti beliau melarang panggilan itu sama sekali. Beliau hanya khawatir penyebutan seperti itu akan membawa seseorang kepada pengkultusan beliau hingga dipersamakan dengan Tuhan. Buktinya, di bagian akhir hadis itu beliau mengatakan, “Katakanlah apa yang ingin kalian katakan.”</p>
<p>Mungkin akan timbul pertanyaan berikut: Kalau begitu, berarti yang tidak memakai sayyidina itu salah? Tidak juga. Sebab dalam redaksi shalawat yang beliau contohkan ketika ada beberapa sahabat bertanya kepada beliau, beliau tidak menyebut sayyid di depan nama beliau. Jadi, mau pakai sayyidina silakan, tidak juga silakan.</p>
<p>Demikian, <em>wallahu a’lam</em>.</p>
<p>[Muhammad Arifin, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>]</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-adab-bershalawat-yang-benar/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-adab-bershalawat-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Hikmah Pengulangan dalam al-Qur&#8217;an?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/apakah-hikmah-pengulangan-dalam-al-quran/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/apakah-hikmah-pengulangan-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 08:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16331</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Saya menemukan banyak pengulangan dalam al-Qur’an termasuk pengulangan kisah-kisahnya. Mengapa demikian? Bukankah pengulangan itu mubazir? [Hamba Allah - via formulir pertanyaan] Jawab: Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb. al-Qur’an bukanlah sebuah kitab ilmiah seperti kitab-kitab lainnya yang dikenal para ilmuwan. Ia adalah kitab dakwah yang turun berinteraksi dengan masyarakat. Karena itu, pengulangan perintah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Saya menemukan banyak pengulangan dalam al-Qur’an termasuk pengulangan kisah-kisahnya. Mengapa demikian? Bukankah pengulangan itu mubazir?</p>
<p>[Hamba Allah - via <a href="http://psq.or.id">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>al-Qur’an bukanlah sebuah kitab ilmiah seperti kitab-kitab lainnya yang dikenal para ilmuwan. Ia adalah kitab dakwah yang turun berinteraksi dengan masyarakat. Karena itu, pengulangan perintah dan larangannya atau kisah-kisahnya menjadi sangat wajar. Bukankah Anda dapat saja mengulang perintah atau kisah yang sama kepada seseorang tertentu, bila Anda mengetahui bahwa dia belum melaksanakannya secara sempurna atau menangkap pesan Anda? Ini kalau memang benar dugaan Anda bahwa ada pengulangan kisah di dalam al-Qur’an.</p>
<p>Namun, kenyataannya tidak demikian. Misalnya, kisah Mûsâ banyak sekali ditemukan dalam berbagai surah al-Qur’an. Jika Anda mengamati redaksinya, Anda pasti menemukannya berbeda. Dan informasi yang diberikannya pun tidak sepenuhnya sama, terlebih lagi pesanpesan yang tersirat di dalamnya. Sebab, dalam berbagai kisahnya, al-Qur’an ingin menekankan pesan-pesan tertentu. Tidak jarang sebuah kisah mengandung sekian banyak pesan, tetapi tidak dapat ditampung dalam satu redaksi saja. Demikianlah di antara hikmah “pengulangan” kisah-kisah dalam al-Qur’an.</p>
<p>[M. Quraish Shihab, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/apakah-hikmah-pengulangan-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimanakah Menyikapi Perbedaan Terjemahan al-Qur&#8217;an?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-menyikapi-perbedaan-terjemahan-al-quran/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-menyikapi-perbedaan-terjemahan-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 13:42:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[terjemah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16325</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Saya menemukan perbedaan, bahkan pertentangan, terjemahan ayat-ayat al-Qur’an yang dilakukan Disbintal ABRI. Contohnya adalah antara ayat 55 dalam surah Âli ‘Imrân dengan ayat 157 dalam surah an-Nisâ’ antara ayat 158 dalam surah al-A‘râf dengan ayat 56 dalam surah al-Furqân, ayat 23 dalam surah Fâthir, dan ayat 70 dalam surah Shâd. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Saya menemukan perbedaan, bahkan pertentangan, terjemahan ayat-ayat al-Qur’an yang dilakukan Disbintal ABRI. Contohnya adalah antara ayat 55 dalam surah Âli ‘Imrân dengan ayat 157 dalam surah an-Nisâ’ antara ayat 158 dalam surah al-A‘râf dengan ayat 56 dalam surah al-Furqân, ayat 23 dalam surah Fâthir, dan ayat 70 dalam surah Shâd.</p>
<p>Saya curiga jangan-jangan ada pemalsuan di dalamnya. Bagaimana tanggapan Bapak?</p>
<p>[Hamba Allah - via <a href="http://psq.or.id">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Kecurigaan Anda pada mushaf al-Qur’an yang diterjemahkan oleh Disbintal ABRI tidak pada tempatnya. Kecurigaan Anda timbul karena tidak memahami secara benar kandungan ayat-ayat yang Anda nilai saling berlawanan. Perlu diketahui bahwa perbedaan tidak selalu mengakibatkan kontradiksi. Sesuatu baru dinamakan bertentangan bila subjek, objek, waktu, tempat, syarat, dan keadaannya sama, lalu informasinya tidak sama. Jika salah satu hal yang disebut di atas tidak sama, maka ia tidak bertentangan. “Si A memukul B” tidak mutlak bertentangan dengan “Si A tidak memukul B,” walaupun yang dimaksud dengan A dalam redaksi pertama dan kedua sama. Sebab, boleh jadi, B yang dimaksudkan tidaklah sama. Kalaupun keduanya sama, boleh jadi, waktunya berbeda. Demikian seterusnya. Ayat-ayat yang Anda ragukan sebagai saling bertentangan itu demikian keadaannya. Ayat 55 dalam surah Âli ‘Imrân menginformasikan bahwa Allah berfirman kepada Nabi ‘Îsâ bahwa dia akan diwafatkan, diangkat ke sisi-Nya, dan disucikan. Sementara itu, ayat 157 dalam surah an-Nisâ’ berbicara tentang bantahan al-Qur’an kepada mereka yang menyatakan bahwa Nabi ‘Îsâ dibunuh atau disalib. Ini adalah dua informasi yang berbeda, tetapi tidak bertentangan. Demikian juga halnya dengan ayat 158 dalam surah al-A‘râf yang berbicara tentang kerasulan Muhammad saw. yang tidak pandai membaca (ummî) dan diutus untuk seluruh manusia.</p>
<p>Ayat ini tidak bertentangan dengan ayat 56 dalam surah al-Furqân yang menjelaskan bahwa beliau diutus dengan membawa berita gembira dan peringatan. Sebab, berita gembira dan peringatan itu ditujukan kepada seluruh manusia. Bahkan, ayat ini tidak juga bertentangan dengan ayat 23 dalam surah Fâthir atau ayat 70 dalam surah Shâd yang hanya menyebut fungsi beliau sebagai pembawa peringatan, karena penyebutan itu dilakukan dalam konteks penekanan, dan bukan dalam arti membatasi tugas beliau pada fungsi itu. Demikian semoga menjadi jelas.</p>
<p>[M. Quraish Shihab, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Al-Qur'an</a>]</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-menyikapi-perbedaan-terjemahan-al-quran/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-menyikapi-perbedaan-terjemahan-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Menerima Kunjungan Saudara yang tidak Disukai Suami?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/bolehkah-menerima-kunjungan-saudara-yang-tidak-disukai-suami/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/bolehkah-menerima-kunjungan-saudara-yang-tidak-disukai-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:20:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16319</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Suami saya tidak menyukai saudara saya dengan alasan yang tidak saya ketahui. Bolehkah saya menerima saudara saya dan mempersilakan masuk bila datang bertamu? [Era - via formulir pertanyaan] Jawab: Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb. Prinsipnya memang seorang istri harus menaati suaminya selama suami tidak mengajaknya melakukan kemaksiatan. Lâ thâ‘ata li makhlûq fî ma‘shiyat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Suami saya tidak menyukai saudara saya dengan alasan yang tidak saya ketahui. Bolehkah saya menerima saudara saya dan mempersilakan masuk bila datang bertamu?</p>
<p>[Era - via <a href="http://psq.or.id">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Prinsipnya memang seorang istri harus menaati suaminya selama suami tidak mengajaknya melakukan kemaksiatan.<em> Lâ thâ‘ata li makhlûq fî ma‘shiyat al-Khâliq</em> (tidak ada ketaatan kepada sesama makhluk dalam berbuat maksiat kepada Sang Khalik). Demikian kurang lebih bunyi sebuah hadis. Hanya saja, secara umum kita semua juga dianjurkan oleh Rasulullah saw. untuk tidak saling membenci, tidak saling iri dan dengki, tidak saling mencari-cari kesalahan pihak lain. “Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara,” begitu bunyi bagian akhir dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui Abu Hurairah r.a. itu. Artinya, tidak menyukai orang tanpa alasan yang jelas merupakan perbuatan yang kurang baik. </p>
<p>Dalam kasus yang Ibu tanyakan, belum jelas apakah suami Ibu juga melarang Ibu untuk bertemu dengan saudara Ibu itu? Sebab, boleh jadi, suami Ibu tidak menyukai saudara Ibu, tetapi sebenarnya tidak melarang Ibu untuk tetap menjaga silaturahmi dengannya. Termasuk menemuinya atau menerimanya ketika datang berkunjung ke rumah. Hemat saya, kalau mempersilakan saudara Ibu masuk rumah akan membuat suami Ibu semakin tidak suka (dengan alasan yang bisa dimengerti) sebaiknya Ibu memilih menaati suami tanpa ikut-ikutan tidak suka.</p>
<p>Demikian, <em>wallahu a’lam.</em></p>
<p>[Muhammad Arifin, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>]</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/bolehkah-menerima-kunjungan-saudara-yang-tidak-disukai-suami/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/bolehkah-menerima-kunjungan-saudara-yang-tidak-disukai-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimanakah Adab Orang Tua atas Kelahiran Bayinya?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-adab-orang-tua-atas-kelahiran-bayinya/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-adab-orang-tua-atas-kelahiran-bayinya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 13:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16309</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Pak Ustad saya mau tanya, apa sajakah yang harus dilakukan selaku orang tua atas kelahiran bayinya? Karena saya melihat banyak ritual yang tidak jelas sumbernya yang mengakibatkan perbuatan syirik. Mohon penjelasannya. Wassalamu&#8217;alaikum wr. wb. [Dodiastyo H - via formulir pertanyaan] Jawab: Wa’alaikumussalam wr. wb. Hal-hal yang perlu dilakukan orangtua terkait dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Pak Ustad saya mau tanya, apa sajakah yang harus dilakukan selaku orang tua atas kelahiran bayinya? Karena saya melihat banyak ritual yang tidak jelas sumbernya yang mengakibatkan perbuatan syirik. Mohon penjelasannya.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>[Dodiastyo H - via <a href="http://www.alifmagz.com/kirim-pertanyaan/">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa’alaikumussalam  wr. wb.</p>
<p>Hal-hal yang perlu dilakukan orangtua terkait dengan kelahiran anak, sebagai berikut:<br />
1. Azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri bayi. Ini pendapat mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali. Pendapat ini didasarkan pada hadis riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi melalui Abu Râfi‘, di mana ia berkata, “<em>Aku melihat Rasulullah saw. melakukan azan pada telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh Fatimah.</em>” Oleh at-Tirmidzi hadis ini dinilai shahih. Namun demikian, persoalan ini bukan persoalan yang disepakati oleh seluruh ulama. Imam Malik memandang makruh mengumandangkan azan di telinga bayi yang baru lahir. Walhasil, Anda boleh melakukannya mengikuti pendapat Imam Syafii, Hanafi, dan Hanbali. Anda juga boleh tidak melakukannya mengikuti pendapat Imam Malik.</p>
<p>2. <em>Tahnîk</em>. Tahnîk adalah menggosok-gosokkan kurma yang sudah dikunyah ke langit-langit mulut bayi. Ini berdasarkan informasi Ibunda Aisyah r.a. di mana ia berkata, bahwa kepada Rasulullah saw. didatangkan bayi lalu beliau melakukan tahnîk kepada mereka. Informasi ini diriwayatka oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadis lain melalui Abu Musa r.a. bahwa ia berkata, “<em>Aku memperoleh anak lalu aku bawa kepada Rasulullah saw., dan beliau kemudian memberinya nama Ibrahim dan melakukan tahník terhadapnya.</em>” Kalau tidak ada kurma, <em>tahnîk</em> boleh dilakukan dengan madu. (Lihat al-Mawsû‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah).</p>
<p>3. Akikah. Akikah adalah menyembelih kambing sebagai tanda syukur atas kelahiran bayi. Ulama sepakat bahwa akikah tidak wajib, melainkan anjuran (sunnah). Dalam mazhab Abû Hanîfah, sunnah pun tidak karena dalam pandangan ulama mazhab ini, menyembelih hewan kurban pada Idul Adha dan tiga hari sesudahnya telah membatalkan anjuran Nabi saw. untuk melaksanakan akikah. Meski demikian, Abu Hanifah tidak melarang atau menilai haram akikah. Sebagian ulama menganjurkan agar sebagian daging akikah dimasak dahulu sebelum diantar atau dibagikan kepada orang-orang yang dipandang pantas. Imam Malik tidak menganjurkan mengadakan acara akikah (seremonial, selamatan) di rumah dengan mengundang orang untuk makan.</p>
<p>Bersamaan dengan akikah yang dilakukan pada hari ketujuh kelahiran bayi (boleh juga setelah hari ketujuh selama anak itu belum mencapai usia balig), juga dilakukan pemberian nama, dan pencukuran sebagian atau seluruh rambut bayi. Orangtua lalu menimbang rambut itu dan bersedekah senilai harga perak (atau emas) seberat timbangan rambut itu. </p>
<p>4. Khitan. Ini, antara lain, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan melalui Abu Hurairah r.a. oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda, “<em>Ada lima hal yang merupakan fitrah, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis.</em>” Cukup beragam pendapat ulama tentang khitan ini, antara lain bahwa khitan merupakan wajib bagi laki-laki dan kehormatan bagi perempuan, tidak wajib, seperti kata Ibn Qudâmah dalam al-Mughnî.</p>
<p>5. Selain itu, seorang ibu sangat dianjurkan untuk menyusui bayinya sampai usia dua tahun (baca Q.S. al-Baqarah [2]: 233). Cukup banyak manfaat kesehatan maupun kejiwaan dari ASI bagi anak.</p>
<p>Demikian, mudah-mudahan memadai. <em>Wallahu a’lam. </em></p>
<p>[Muhammad Arifin, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>]</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-adab-orang-tua-atas-kelahiran-bayinya/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/bagaimanakah-adab-orang-tua-atas-kelahiran-bayinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Hukumnya Investasi Logam Mulia?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/apakah-hukumnya-investasi-logam-mulia/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/apakah-hukumnya-investasi-logam-mulia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16299</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. 1. Apakah hukumnya dalam Islam tentang investasi jangka panjang dalam bentuk dinar/ emas? 2. Halalkah keuntungan yang didapat dari hasil menabung dinar/ emas? 3. Jika dinar akan dijual, agen penjualan akan memotong sekitar 4% dari harga dinar yg berlaku saat itu, halalkah pemotongan yang dilakukan agen tersebut? Terima kasih [Diaz - [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>1. Apakah hukumnya dalam Islam tentang investasi jangka panjang dalam bentuk dinar/ emas?<br />
2. Halalkah keuntungan yang didapat dari hasil menabung dinar/ emas?<br />
3. Jika dinar akan dijual, agen penjualan akan memotong sekitar 4% dari harga dinar yg berlaku saat itu, halalkah pemotongan yang dilakukan agen tersebut?</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>[Diaz - via <a href="http://www.alifmagz.com/kirim-pertanyaan/">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa’alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Berjual-beli dinar atau emas (pada umumnya ketika penjualan dilakukan harga sudah mengalami kenaikan), termasuk praktik jual beli yang sah-sah saja. Itu jual beli yang halal. Apalagi kalau selama emas dalam genggaman kita selalu mengeluarkan zakatnya setiap tahun apabila sudah mencapai nisab, menyimpan emas seperti itu bukan termasuk yang dilarang. Yang dilarang adalah menimbun atau menyimpan emas dan tidak mau mengeluarkan zakat atau sedekahnya. Kita tahu, di dalam al-Qur’an adal kecaman terhadap orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah. (Baca Q.S. at-Tawbah [9]: 34).</p>
<p>Perlu diketahui terlebih dulu alasan pemotongan itu.</p>
<p>Demikian, <em>wallahu a’lam.</em></p>
<p>[Muhammad Arifin, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>]</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/apakah-hukumnya-investasi-logam-mulia/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/apakah-hukumnya-investasi-logam-mulia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Tahlil dan Peringatan Maulid Nabi Termasuk Bid&#8217;ah?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/aakah-tahlil-dan-peringatan-maulid-nabi-termasuk-bidah/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/aakah-tahlil-dan-peringatan-maulid-nabi-termasuk-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 12:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16292</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Dalam pandangan beberapa ulama, ada bid‘ah yang baik dalam ibadah. Apakah tahlil dan Maulid Nabi saw. termasuk bid‘ah. Mohon penjelasan Bapak tentang hal tersebut. [Aprizul Suamudia dan Jamain Sadri via formulir pertanyaan] Jawab: Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb. Bid‘ah dari segi bahasa adalah sesuatu yang baru, belum ada yang sama sebelumnya. Tentu saja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Dalam pandangan beberapa ulama, ada bid‘ah yang baik dalam ibadah. Apakah tahlil dan Maulid Nabi saw. termasuk bid‘ah. Mohon penjelasan Bapak tentang hal tersebut.</p>
<p>[Aprizul Suamudia dan Jamain Sadri via <a href="http://www.alifmagz.com/kirim-pertanyaan/">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Bid‘ah dari segi bahasa adalah sesuatu yang baru, belum ada yang sama sebelumnya. Tentu saja, dalam kehidupan ini banyak hal baru yang bukan saja bersifat material, melainkan juga immaterial dan bukan saja dalam adat kebiasaan, tetapi juga dalam praktik-praktik yang berkaitan dengan agama. Hal yang baru itu boleh jadi baik dan boleh jadi juga buruk. Jika demikian, pastilah ada bid‘ah yang baik dan buruk. Agama ada yang berkaitan dengan ibadah murni (mahdhah) dan ada juga yang bukan ibadah murni (ghair mahdhah). Bid‘ah dalam hal-hal yang bukan ibadah murni dapat dibenarkan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama. Katakanlah penggunaan telepon dan teleks untuk menggantikan pertemuan langsung dan ucapan dalam ijab dan kabul pada transaksi perdagangan bahkan pernikahan.</p>
<p>Di sisi lain, banyak ulama yang menganalisis sebab-sebab Rasul saw. tidak mengerjakan sesuatu. Ada yang tidak beliau kerjakan karena sejak semula itu terlarang dan ada juga yang tidak beliau kerjakan karena ketika itu belum ada alasan atau dorongan mengerjakannya. Nah, bila kemudian ada alasan yang mendorong dan dapat dibenarkan, bid‘ah dalam hal ini dapat dibenarkan, seperti menulis dan membukukan al-Qur’an dalam satu mushaf pada masa Abû Bakar ra. Kita semua tahu bahwa pada masa Rasul saw., al-Qur’an belum dibukukan bukan saja karena ayat-ayat masih silih berganti turun selama hidup Rasul saw., melainkan juga karena kebutuhan untuk membukukannya belum dirasakan. Ini berbeda setelah beliau wafat. Ada lagi yang tidak dikerjakan Rasul saw. karena ketika itu ada dorongan atau sebab untuk tidak mengerjakan.</p>
<p>Shalat Tarawih berjamaah pada mulanya beliau lakukan di masjid dengan delapan rakaat dan banyak sahabat mengikutinya. Dari malam ke malam semakin banyak. Ketika itu, beliau khawatir jangan sampai ada yang menduga shalat itu wajib, maka beliau hentikan dan shalat di rumah sendirian. Ketika beliau wafat dan kekhawatiran telah sirna, Sayyidina ‘Umar menganjurkan shalat Tarawih dilaksanakan di masjid dan berjamaah dengan dua puluh rakaat plus witir. Sayyidina ‘Utsmân ra. juga melakukan apa yang tidak dilakukan Rasul saw. Ketika kota Madinah telah melebar dan penduduknya bertambah, pada hari Jumat, beliau azan dua kali padahal pada masa Nabi saw. hanya sekali.</p>
<p>Demikianlah bid‘ah—dalam ibadah pun—tidak semuanya terlarang jika dasar pokoknya ada. Memang, pada dasarnya, dalam hal ibadah murni, segalanya tidak boleh kecuali apa yang dikerjakan Rasul saw., sedangkan dalam soal muamalat, segalanya boleh kecuali yang dilarang. Akan tetapi, ulama pun menegaskan bahwa apa yang ditinggalkan Rasul saw. hendaknya dikaji mengapa ketika Nabi saw. hidup, beliau tidak mengerjakannya. Kalau memang suatu ibadah atau pekerjaan ada alasan untuk mengerjakannya dan diketahui bahwa Rasul saw. tidak mengerjakannya, karena enggan, kemudian ada sesudah beliau yang mengada-ada, itulah bid‘ah yang sesat. Itulah yang tidak diterima Allah swt. dan itu yang dimaksud dengan setiap bid‘ah dhalâlah (sesat) dan semua dhalâlah di neraka. Dalam konteks ini, ulama berbeda pendapat tentang tahlil, maulid, dan sebagainya. </p>
<p>Demikian, <em>wallâhu a‘lam.</em></p>
<p>[M. Quraish SHihab, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>]</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/aakah-tahlil-dan-peringatan-maulid-nabi-termasuk-bidah/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/aakah-tahlil-dan-peringatan-maulid-nabi-termasuk-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Memilih Tidak Menikah untuk Mendekatkan Diri pada Allah?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/bolehkah-memilih-untuk-tidak-menikah-untuk-mendekatkan-diri-pada-allah/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/bolehkah-memilih-untuk-tidak-menikah-untuk-mendekatkan-diri-pada-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 08:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menikah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16276</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. Apakah menikah merupakan anjuran agama? Bolehkah seseorang tidak menikah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah? [Fuad Maulani - via formulir pertanyaan] Jawab: Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa ada tiga orang sahabat Nabi saw.—‘Ali bin Abî Thâlib, ‘Abdullâh bin ‘Amr bin al-‘Ash, dan ‘Utsmân bin Maz‘un—berkunjung ke rumah Nabi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>Apakah menikah merupakan anjuran agama? Bolehkah seseorang tidak menikah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah?</p>
<p>[Fuad Maulani - via <a href="http://www.alifmagz.com/kirim-pertanyaan/">formulir pertanyaan</a>]</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Dalam satu riwayat disebutkan bahwa ada tiga orang sahabat Nabi saw.—‘Ali bin Abî Thâlib, ‘Abdullâh bin ‘Amr bin al-‘Ash, dan ‘Utsmân bin Maz‘un—berkunjung ke rumah Nabi, ingin mengetahui ibadah beliau. Mereka sadar bahwa ibadah mereka masih kurang. Karena itu, masing-masing bertekad untuk meningkatkannya. Ada yang akan shalat malam terus-menerus, ada juga yang bermaksud berpuasa sepanjang masa, dan yang ketiga ingin tidak kawin sama sekali.</p>
<p>Maksud mereka pun didengar oleh Nabi saw. Beliau lalu menjelaskan bahwa ketakwaan bukan dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah manusia atau melampaui batas dalam ibadah. Nabi bersabda, “Demi Allah, aku adalah yang paling takut—di antara kamu—kepada Allah, dan aku paling bertakwa kepada-Nya. Tetapi aku tetap berpuasa (pada suatu hari) dan tidak berpuasa (di hari yang lain).</p>
<p>Aku shalat dan tidur, dan aku juga kawin. Siapa yang tidak senang mengikuti sunnahku maka dia bukan dari (umat)-ku” (HR. Bukhârî dan Muslim melalui sahabat Nabi, Anas bin Mâlik).</p>
<p>Kata sunnah dalam hadits di atas bukan dalam pengertian hukum, yang berarti “Siapa yang mengerjakannya mendapatkan ganjaran dan yang mengabaikannya tidak berdosa.” Akan tetapi, ia berarti cara hidup Nabi, sehingga tidak secara otomatis yang tidak kawin dinilai keluar dari Islam.</p>
<p>Perkawinan sendiri hukum asalnya adalah mubah (boleh dilaksanakan boleh tidak), walaupun terkadang ia menjadi wajib, yaitu bagi seseorang yang mampu secara fisikal dan material, dan khawatir terjerumus ke lembah dosa. Bisa juga perkawinan terlarang, bagi yang tidak mampu secara fisikal dan material; sedangkan bagi mereka yang belum mampu secara material dianjurkan untuk menangguhkan perkawinannya sampai dia mampu. Demikian pesan QS. an-Nûr [24]: 33. Dalam konteks ini pula Nabi saw. menganjurkan kepada para pemuda untuk berpuasa, “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu (secara fisikal dan material) untuk kawin, hendaklah kawin. Itu lebih dapat menghalangi pandangan (melihat yang terlarang) dan lebih membentengi alat kelamin serta barang siapa yang tidak mampu (secara material tapi mampu secara fisikal), maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa (menjadi) penangkal baginya” (HR. Bukhârî dan Muslim melalui sahabat Nabi, ‘Abdullâh bin Mas‘ûd).</p>
<p>Demikian, <em>wallâhu a‘lam</em>.</p>
<p>[M. Quraish Shihab, Dewan Pakar <a href="http://psq.or.id">Pusat Studi al-Qur'an</a>]</p>
<p>===</p>
<p>Anda juga bisa bertanya dengan mengisi form berikut :<br />
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/bolehkah-memilih-untuk-tidak-menikah-untuk-mendekatkan-diri-pada-allah/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/bolehkah-memilih-untuk-tidak-menikah-untuk-mendekatkan-diri-pada-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

