<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; Yang Tetap</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/category/yangtetap/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 12:40:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Today’s Highlight Special: Era Baru Penggunaan Kartu Kredit di Indonesia</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/today%e2%80%99s-highlight-special-era-baru-penggunaan-kartu-kredit-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/today%e2%80%99s-highlight-special-era-baru-penggunaan-kartu-kredit-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 16:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[What's on]]></category>
		<category><![CDATA[kartu kredit]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan]]></category>
		<category><![CDATA[utang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16349</guid>
		<description><![CDATA[Dalam masyarakat modern, khususnya kelas menengah dan atas, kartu kredit bukan lagi sesuatu yang asing. Hampir semua orang telah menggunakan kartu kredit dalam transaksi jual beli sehari-hari. Memang, kartu kredit  merupakan alat pembayaran yang praktis. Pengguna kartu kredit tidak perlu lagi membawa banyak uang tunai setiap kali ingin berbelanja. Berbagai fasilitas yang diberikan perbankan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam masyarakat modern, khususnya kelas menengah dan atas, kartu kredit bukan lagi sesuatu yang asing. Hampir semua orang telah menggunakan kartu kredit dalam transaksi jual beli sehari-hari. Memang, kartu kredit  merupakan alat pembayaran yang praktis. Pengguna kartu kredit tidak perlu lagi membawa banyak uang tunai setiap kali ingin berbelanja. Berbagai fasilitas yang diberikan perbankan untuk memanjakan nasabah pengguna kartu kredit pun semakin bervariasi. Hal tersebut tentu turut menjadi pertimbangan masyarakat untuk menggunakan kartu kredit.</p>
<p>Sayangnya, bertambah banyaknya jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia tidak selalu diiringi oleh bertambahnya pemahaman mengenai cara kerja kartu kredit itu sendiri. Hal ini akhirnya menimbulkan berbagai masalah baru di luar manfaat yang ditawarkan oleh alat pembayaran pengganti uang tersebut.</p>
<div id="attachment_16352" class="wp-caption alignleft" style="width: 460px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_8340.jpg"><img class="size-full wp-image-16352 " title="IMG_8340" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_8340.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ki-ka: Ade Siregar, Steve Martha, Puji Atmoko</p></div>
<p>Pemasaran kartu kredit oleh bank yang terlalu agresif tanpa diimbangi oleh pemberian informasi dan edukasi yang jelas turut menjadi penyebab kurangnya pemahaman masyarakat, selain kekurangpedulian masyarakat itu sendiri tentunya. Akibatnya, banyak pengguna kartu kredit yang terlibat utang hingga berlarut-larut. Selain itu, sejumlah permasalahan lain juga ikut meramaikan bisnis kartu kredit di Indonesia, seperti masalah pemalsuan kartu, pencurian data nasabah, penggunaan jasa pihak ketiga alias <em>debt collector</em> untuk menagih utang.</p>
<p>Permasalahan inilah yang diangkat dalam <em>talkshow</em> ”<em>Today’s Highlight Special</em>” pada hari Senin, 6 Februari 2012, pukul 14.00-17.00 WIB di Demang Resto and Coffee Lounge, Gedung La Monte, Jl. MH. Thamrin, Jakarta Pusat.</p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_8343.jpg"><img class="size-full wp-image-16354 alignleft" title="IMG_8343" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_8343.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p>Acara yang dipersembahkan oleh 103.8 FM Brava Radio dan Media Indonesia, serta disponsori oleh Bank Indonesia ini, mengangkat tema “Era Baru Penggunaan Kartu Kredit di Indonesia” untuk diskusi kali ini. Hadir sebagai narasumber Ketua Tim Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Puji Atmoko dan General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia, Steve Martha.</p>
<p>Para narasumber mengedepankan adanya revisi Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK). PBI APMK yang diterbitkan dengan nomor 14/2/PBI/2012 tanggal 6 Januari 2012 itu menggantikan PBI APMK yang diterbitkan pada 2009. Revisi ini ditujukan agar terwujud aturan permainan yang lebih komprehensif bagi industri kartu kredit nasional, serta tercipta industri yang lebih baik, adil, dan transparan, khususnya bagi pengguna kartu kredit.</p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_8297.jpg"><img class="size-full wp-image-16353 alignleft" title="IMG_8297" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_8297.jpg" alt="" width="300" height="450" /></a></p>
<p><em>Talkshow </em>dipandu dengan apik oleh salah seorang penyiar Brava Radio, Fika Rosemary dan dimoderatori oleh Askadiv Pemberitaan bidang Ekonomi Media Indonesia Ade Siregar.</p>
<p>Dari hasil perbincangan dan tanya jawab dengan para narasumber, dapat disimpulkan bahwa baik bank maupun nasabah harus lebih peduli terhadap peraturan dan ketentuan yang ada. Seperti yang diingatkan oleh Puji Atmoko, bahwa kartu kredit memang merupakan alat pembayaran, tapi berupa pinjaman, jadi, seperti perkataan Steve Martha, gunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran, bukan <em>income</em> tambahan. Pada akhirnya, diharapkan agar PBI APMK baru tersebut dapat menjadi penunjang, baik bagi perbankan untuk dapat mengelola penawaran, pemrosesan, serta penagihan kartu kredit dengan lebih baik, maupun bagi nasabah untuk dapat menggunakan kartu kredit secara lebih aman, nyaman, dan bijaksana. [aca]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/today%e2%80%99s-highlight-special-era-baru-penggunaan-kartu-kredit-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringati Setahun Revolusi, Laki-laki Ikut Perjuangkan Hak-hak Perempuan di Mesir</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/peringati-setahun-revolusi-laki-laki-ikut-perjuangkan-hak-hak-perempuan-di-mesir/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/peringati-setahun-revolusi-laki-laki-ikut-perjuangkan-hak-hak-perempuan-di-mesir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 12:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[pelecehan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16323</guid>
		<description><![CDATA[Kairo, Mesir – Pada 25 Januari lalu, suasana menjadi penuh harapan saat puluhan ribu aktivis Mesir turun ke jalan-jalan memperingati setahun revolusi, yang kali ini menuntut dipilihnya presiden baru sebelum adanya konstitusi baru. Berbagai cerita dari alun-alun Tahrir umumnya adalah tentang optimisme baru – tetapi ada juga beberapa cerita tentang pelecehan seksual. Banyak perempuan beraksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kairo,  Mesir – Pada 25 Januari lalu, suasana menjadi penuh harapan saat puluhan  ribu aktivis Mesir turun ke jalan-jalan memperingati setahun revolusi,  yang kali ini menuntut dipilihnya presiden baru sebelum adanya  konstitusi baru. Berbagai cerita dari alun-alun Tahrir umumnya adalah  tentang optimisme baru – tetapi ada juga beberapa cerita tentang  pelecehan seksual.</p>
<p>Banyak perempuan beraksi menuntut perubahan, dan mereka didampingi  beberapa laki-laki, yang menunjukkan peran penting yang mestinya juga  harus mereka mainkan untuk menghentikan perilaku semacam itu.</p>
<p>Pelecehan seksual dalam aksi-aksi demonstrasi bukanlah topik yang  populer di Mesir karena para aktivis khawatir kalau isu ini akan memberi  media negara amunisi untuk memudarkan revolusi, dan koran-koran  berbahasa Inggris yang menulisnya dituding melakukan sensasionalisme.  tetapi hal itu memang terjadi, dan para perempuan Mesir tengah angkat  bicara soal itu. Pada Desember 2010, sebagian mereka meluncurkan <em>HarassMap</em>, sebuah peta Google yang digunakan untuk mengumpulkan dan menjadikan berbagai aduan sebagai bukti.</p>
<p>Samira Ibrahim, seorang aktivis yang ditahan, menjadi sorotan berita  baru-baru ini ketika ia memenangi gugatan atas militer karena melakukan  “tes keperawanan” terhadapnya semasa ia ditahan. Kemenangannya  menunjukkan pada orang-orang yang menyangkal adanya masalah ini bahwa  ini memang kenyataan.</p>
<p>Demikian pula, tindakan melaporkan berbagai kejadian pelecehan di sebuah  peta menunjukkan pada orang-orang bahwa kejadian-kejadian ini memang  terjadi.</p>
<p>Namun upaya para perempuan perlu dibarengi oleh para lelaki sehingga  ketika seorang pemudi meneriaki seorang pelaku pelecehan di tempat umum,  para lelaki maju mendampingi mereka untuk segera mengecam aksi-aksi  semacam itu.</p>
<p>Sayangnya, para pelaku pelecehan tidak menghargai pendapat perempuan  seperti pendapat sesama lelaki, sehingga para lelaki memang harus angkat  bicara untuk mendukung para perempuan.</p>
<p>Temui saja Wael, Mohammed dan Ahmed, tiga pemuda yang melakukan hal  berbeda, beraksi demi perempuan – dalam cara mereka masing-masing.</p>
<p>November lalu, Wael al-Sana’aani, 26, tengah duduk-duduk di sebuah tenda  di luar alun-alun Tahrir di Kairo di mana ia dan para demonstran tengah  melobi Liga Arab soal revolusi Yaman. Dari tendanya ia melihat seorang  gadis yang dihajar oleh sekelompok anak muda. Mereka mendorongnya jatuh  ke pagar baja yang ada di tengah jalan di hadapannya. “Saya pun beraksi  seperti Rambo,” tutur Wael beberapa hari kemudian, sembari memeragakan  gerakannya mengangkat gadis itu dengan lengannya dan buru-buru  mengamankannya ke tenda. Ia menyembunyikan gadis itu di belakang  beberapa papan kayu dan menghadapi beberapa pemuda yang datang meminta  gadis itu. “Mereka bilang aparat keamanan, tetapi saya tahu (mereka  bukan),” katanya. Ketika akhirnya ada keluarga yang lewat, ia akhirnya  membopong gadis itu ke mobil dan meminta mereka membawanya pulang.</p>
<p>Tetapi apakah satu aksi heroik cukup? Mohammed el-Hateeb, 24, menganggap  bicara juga sama pentingnya. Di pasar-wisata Kairo, Khan el-Khalili, ia  mendapati seorang pemandu mengatakan kepada seorang turis perempuan  kalau dirinya “merangsang dan menggairahkan”. “Yang Anda lakukan itu  salah!” ia memberi tahu anak muda itu.</p>
<p>“Siapa yang melakukan hal yang benar di zaman sekarang?” jawab anak itu.</p>
<p>Mohammed ialah seorang relawan pengabdian masyarakat di <em>HarassMap</em>, yang nama Arabnya, Imsik Mutaharrisy, secara harfiah berarti “Tangkap Pelaku Pelecehan”. Lima puluh persen relawan <em>HarassMap</em> adalah laki-laki. Sebagai salah satu relawan, ia bicara ke para lelaki  yang berdiri atau duduk-duduk di jalanan: penjaga gerbang, penjual  sayur, ataupun orang-orang di kedai kopi. Ia menerangkan ke satu demi  satu orang bahwa menggoda dengan siulan dan colak-colek itu bukanlah  tindakan jantan, dan mendorong mereka untuk campur tangan kalau ada  seorang perempuan dilecehkan. Februari ini ia akan ikut serta melatih  lebih banyak lagi anak muda untuk membantunya.</p>
<p>Ada pula Ahmed Awadalla, 27, yang seorang pembela HAM yang suka  blak-blakan. Ketika ia kehilangan ayahnya saat masih muda, ia dan  keempat saudarinya diasuh oleh ibu mereka dan ia menunjukkan bagaimana  para perempuan menghadapi lebih banyak kesulitan ketimbang laki-laki  dalam mengakses hak-hak asasi dasar seperti kesehatan dan pendidikan.  Kini, ia menulis secara terbuka isu-isu jender, diskriminasi dan  pelanggaran HAM dalam bahasa Inggris di blognya, <em>Rebel With a Cause</em>,  dan menjadi seorang direktur program di sebuah LSM Mesir yang  membidangi pendidikan kesehatan seks dan reproduksi. Penting untuk  angkat bicara soal pelecehan, katanya, dan penting bagi laki-laki untuk  membela hak-hak perempuan karena ketimpangan jender di Mesir menghalangi  pembangunan negara ini.</p>
<p>Dunia butuh laki-laki seperti mereka.</p>
<p>Kata-kata Awadalla menggemakan ucapan Hibaaq Osman, pendiri organisasi  hak perempuan Mesir, Karama. “Apa yang baik buat perempuan baik buat  Mesir,” katanya pada hadirin di konferensi <em>Change Your World</em> Januari lalu di Kairo, yang fokus pada penggunaan teknologi oleh  perempuan untuk menciptakan perubahan positif. Dan yang baik untuk para  perempuan baik pula untuk seluruh dunia. Ini dimulai dengan sikap  sedikit lebih menghargai. [Alice Hackman]</p>
<p>###</p>
<p>*Alice Hackman ialah seorang jurnalis lepas di Kairo. Anda bisa mengikuti @harassmap di Twitter.</p>
<p>Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).</p>
<p>Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 03 Februari 2012, www.commongroundnews.org<br />
Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/peringati-setahun-revolusi-laki-laki-ikut-perjuangkan-hak-hak-perempuan-di-mesir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Mesir Sirnakan Ketakutan Masa Lalu Lewat Film</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/orang-mesir-sirnakan-ketakutan-masa-lalu-lewat-film/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/orang-mesir-sirnakan-ketakutan-masa-lalu-lewat-film/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 11:01:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[wawasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16227</guid>
		<description><![CDATA[Kairo, Mesir – Setahun setelah revolusi Mesir, kebebasan berekspresi tengah memutus keheningan tentang berbagai masalah penting di Mesir yang sebelumnya dianggap tabu. Sebuah film fitur yang baru saja diluncurkan menjadi sebuah contoh bagaimana seni di Mesir bisa menjadi sebuah alat efektif untuk membentuk kesadaran masyarakat dan mengakhiri kebungkaman. Asmaa adalah film fitur Mesir pertama yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kairo,  Mesir – Setahun setelah revolusi Mesir, kebebasan berekspresi tengah  memutus keheningan tentang berbagai masalah penting di Mesir yang  sebelumnya dianggap tabu. Sebuah film fitur yang baru saja diluncurkan  menjadi sebuah contoh bagaimana seni di Mesir bisa menjadi sebuah alat  efektif untuk membentuk kesadaran masyarakat dan mengakhiri kebungkaman.</p>
<p><em>Asmaa</em> adalah film fitur Mesir pertama yang secara simpatik  mengetengahkan berbagai tantangan khusus yang dihadapi oleh para  penderita AIDS di sana.</p>
<p>Film yang ditulis dan diarahkan oleh Amr Salama ini bertujuan mendorong  pengertian yang lebih baik tentang orang-orang yang menderita AIDS dan  didasarkan pada kisah nyata seorang perempuan desa yang ambisius dan  berani. Meski orang Mesir umumnya akan menaruh iba pada orang-orang yang  sakit, mereka cenderung tidak bersimpati pada seseorang yang didiagnosa  terkena AIDS, dan beberapa orang malah memandang mereka yang mengidap  virus HIV sebagai para pendosa. <em>Asmaa</em> karenanya bisa memainkan peran penting untuk menumbuhkan dialog.</p>
<p>Tidak seperti para perempuan lain di kampungnya, sang srikandi film ini  menolak untuk berhenti bekerja setelah menikah, namun akhirnya berujung  dengan kematian. Setelah melewati pengalaman pilu saat menyadari dirinya  mempunyai AIDS, depresi pun muncul. Asmaa, yang di akhir umur 30-an,  dijauhi oleh masyarakat dan tidak bisa mendapat pekerjaan. Selain itu,  ia bahkan tidak bisa dijadwalkan untuk operasi bedah yang semestinya  dilakukan karena para dokter menolak mengoperasinya lantaran takut  terinfeksi. Yang lebih parah lagi, karena stigma terkait AIDS, ia merasa  tidak sanggup memberi tahu putrinya tentang penyakitnya itu.</p>
<p>Sayangnya, nasib Asmaa sama seperti yang lain. Menurut sebuah laporan oleh <em>Egyptian Initiative for Personal Rights</em> (EIPR), stigma seputar orang-orang yang terkena AIDS di Mesir sering  kali menghalangi mereka mencari layanan medis atau secara terbuka  membicarakan status HIV mereka dengan orang lain. Selain itu, para  penderita AIDS dan orang-orang yang diduga terinfeksi HIV bisa tidak  mendapat layanan kesehatan seperti pembedahan dan perawatan medis ketika  mereka melahirkan. Para penderita AIDS bisa juga menemui kesulitan  untuk mendapatkan rumah, pekerjaan, asuransi atau dilarang bepergian ke  luar negeri.</p>
<p>Sang perempuan yang hidupnya memberi inspirasi film ini meninggal karena  ia tidak bisa dioperasi – lantaran keengganan masyarakat dan para  dokter untuk menolongnya. Lingkungan yang patut disayangkan ini didukung  oleh penelitian-penelitian EIPR belakangan ini, yang menemukan bahwa  para dokter dan perawat sering kali ragu memberi layanan kesehatan pada  para penderita AIDS karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai  pengendalian infeksi, keraguan tentang langkah-langkah pencegahan serta  stigma moral menyangkut hubungan intim terlarang. Tetapi, dengan  memotret masalah-masalah ini secara jujur dan manusiawi, film ini  membantu menumbuhkan dialog dan pengertian tentang penyakit ini.</p>
<p>Dan di Mesir pascarevolusi, film bukanlah ajang satu-satunya yang  menentang citra stereotipe para penderita AIDS dan meningkatkan  kesadaran dalam masyarakat. Salah satu prakarsa penting adalah Forum  Mesir untuk Melawan Stigma dan Diskriminasi terhadap Para Pengidap HIV –  koalisi pertama yang berusaha meningkatkan kesadaran tentang penyakit  ini. Koalisi yang dibentuk pada 2010 ini beranggotakan 15 organisasi dan  membantu menyoroti diskriminasi terhadap para penderita AIDS.</p>
<p>Langkah berani lain untuk membongkar tabu lama adalah sebuah buku karya  jurnalis Mesir Ashraf Amin yang diterbitkan pada Maret 2011. <em>Letters from Egypt: AIDS Testimonials of Stigma and Discrimination</em>,  merupakan sebuah kumpulan beragam cerita para penderita AIDS yang  berupaya memanusiakan orang-orang yang menderita penyakit ini. Buku ini  mendapat liputan positif di media dan memunculkan perbincangan di  kalangan orang-orang dari kelas sosial dan usia yang berbeda, serta di  organisasi-organisasi masyarakat sipil. “Saya sangat terharu ketika  seorang pemuda di kantor saya yang tidak pernah kuliah memberi tahu saya  kalau ia ingin sekali mendapatkan buku itu dan setelahnya kami  berdiskusi panjang tentang AIDS. Percakapan seperti inilah yang menjadi  alasan saya menulis buku itu,” Ashraf Amin menjelaskan.</p>
<p>Kendati begitu, masih ada swasensor bila menyangkut isu AIDS. Melalui  seni dan kebebasan baru yang dialami setelah revolusi, banyak orang  Mesir berharap mereka akan terus mengatasi ketakutan-ketakutan lama dan  menemukan cara-cara baru untuk secara kreatif membicarakan penyakit ini.  Tahun lalu, orang Mesir tidak saja telah meningkatkan keterlibatan  sosial dan politik mereka, tetapi juga membahas kembali cara-cara  berpikir lawas tentang hak asasi dan martabat manusia. Secara alamiah  perubahan luas semacam itu memerlukan waktu. tetapi jika rakyat Mesir  menjaga momentum pascarevolusi ini, dalam beberapa tahun mendatang  tampaknya kita akan melihat Mesir baru yang berlandaskan keadilan dan  kebebasan. [Rasha Dewedar]</p>
<p>###</p>
<p>* Rasha Dewedar ialah seorang jurnalis Mesir dengan minat khusus isu-isu  jender dan Timur Tengah, yang juga pendiri Egyptianwomenvoice.net.</p>
<p>Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).</p>
<p>Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 27 Januari 2012, www.commongroundnews.org<br />
Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/orang-mesir-sirnakan-ketakutan-masa-lalu-lewat-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Let&#8217;s Cook with Dad for Mommy</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/lets-cook-with-dad-for-mommy/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/lets-cook-with-dad-for-mommy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 13:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[What's on]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16200</guid>
		<description><![CDATA[Kegiatan bersama antara ayah dan anak selalu menarik untuk kita lihat. Dalam acara &#8220;Let&#8217;s Cook with Dad for Mommy&#8221; di Atrium Giggle dan Rumah Main Cikal, fX Senayan, lantai 5 ini, kita bisa melihat para ayah muda mendekor kue berbentuk rumah cokelat bersama anak mereka masing-masing untuk kemudian dipersembahkan bagi para ibu. Acara yang diadakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kegiatan bersama antara ayah dan anak selalu menarik untuk kita lihat. Dalam acara &#8220;Let&#8217;s Cook with Dad for Mommy&#8221; di Atrium Giggle dan Rumah Main Cikal, fX Senayan, lantai 5 ini, kita bisa melihat para ayah muda mendekor kue berbentuk rumah cokelat bersama anak mereka masing-masing untuk kemudian dipersembahkan bagi para ibu.</p>
<p>Acara yang diadakan oleh <a href="http://www.buahhati.net/" target="_blank">Buah Hati</a> dan  <a href="http://rumahmain.cikal.co.id" target="_blank">Rumah Main Cikal</a> pada hari Sabtu 28 Januari 2012 yang lalu ini melibatkan interaksi ayah dan anak, yang sangat penting untuk meningkatkan kedekatan (<em>bonding</em>) di antara keduanya. Kegiatan memasak dan mendekor juga baik untuk menstimulus motorik halus dan kasar  serta meningkatkan kemampuan koordinasi anak.</p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8108.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-16206" title="IMG_8108" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8108.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8112.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-16207" title="IMG_8112" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8112.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8145.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-16208" title="IMG_8145" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8145.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8161.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-16209" title="IMG_8161" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8161.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8100.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-16210" title="IMG_8100" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8100.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p>Sementara para ayah dan anak mendekor kue mereka, para ibu mengikuti <em>talkshow</em> bersama Sitta Karina yang membahas tentang novel terbarunya, Rumah Cokelat.  Setelah <em>talkshow</em>, para peserta dapat menggunakan <em>voucher</em> yang tersedia untuk digunakan di <em>tenants</em> fX The Lifestyle X&#8217;ntre, antara lain: Footsie, Kaffein, Wardah, Make Over, Anahata, dan Mazee. Peserta juga bisa meminta tanda tangan Sitta Karina.</p>
<p>Acara &#8220;Let&#8217;s Cook with Dad for Mommy&#8221; dipandu oleh para MC kocak yang terdiri dari &#8220;mimin&#8221; @ID_AyahASI, komunitas para ayah pendukung pemberian ASI di Indonesia. Acara juga dimeriahkan oleh penampilan Popzzle, grup vokal yang membawakan lagu-lagu anak. Semua peserta berkesempatan untuk mendapatkan <em>voucher</em> dari Giggle Fun Factory dan hadiah langsung dari toko-toko rekomendasi Multiply.com. Sedangkan para pemenang mendapatkan <em>voucher family dinner</em> dari Rumah Main Cikal, Shabu Tei, dan Mangkok Putih, juga <em>voucher</em> dari Footsie.</p>
<div id="attachment_16211" class="wp-caption alignright" style="width: 460px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8163.jpg"><img class="size-full wp-image-16211" title="IMG_8163" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8163.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sitta Karina, sebagai salah seorang juri, sedang berkeliling menilai karya peserta</p></div>
<div id="attachment_16212" class="wp-caption alignright" style="width: 460px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8248.jpg"><img class="size-full wp-image-16212" title="IMG_8248" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8248.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Popzzle mengajak anak-anak ikut menari mengikuti lagu</p></div>
<div id="attachment_16213" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8263.jpg"><img class="size-full wp-image-16213" title="IMG_8263" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8263.jpg" alt="" width="300" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Penyerahan hadiah kepada salah seorang pemenang</p></div>
<div id="attachment_16214" class="wp-caption alignright" style="width: 460px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8259.jpg"><img class="size-full wp-image-16214" title="IMG_8259" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8259.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Para pemenang dekorasi rumah cokelat</p></div>
<div id="attachment_16215" class="wp-caption alignright" style="width: 460px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8273.jpg"><img class="size-full wp-image-16215" title="IMG_8273" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8273.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Foto bersama para peserta, juri, dan MC</p></div>
<p>Novel Rumah Cokelat sendiri diterbitkan oleh Buah Hati pada Januari 2012. Bekerja sama dengan Multiply.com, mulai 1 Februari 2012 akan diadakan promo pembelian Rumah Cokelat bertandatangan Sitta Karina dan berhadiah <em>voucher</em> untuk berbelanja di <a href="http://kububuku.multiply.com/products/listing/10059/10059?utm_source=twitter&amp;utm_medium=social&amp;utm_content=influencer_buahhati&amp;utm_campaign=seller_kububuku" target="_blank">Multiply.com</a>, bagi 100 pembeli pertama. [teks: aca; foto: richa]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/lets-cook-with-dad-for-mommy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Family Gathering Living Quran Club</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/family-gathering-living-quran-club/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/family-gathering-living-quran-club/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 15:32:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[What's on]]></category>
		<category><![CDATA[cikal]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[living quran]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16180</guid>
		<description><![CDATA[Living Quran Club mempersembahkan: Family gathering dengan tema &#8220;Pendidikan Anak yang Efektif dalam Islam&#8221; Waktu:  Sabtu, 11 February 2012 Tempat: Gedung Serba Guna Sekolah Cikal, Jl. Tb Simatupang kav. 18, Jakarta Selatan Pukul: 09.00 &#8211; 12.30 WIB Acara: - Kajian orang tua: Pendidikan Anak yang Efektif dalam Islam - Performance siswa Living Quran Club Pembicara: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><span style="font-family: Arial;"><span>Living Quran Club mempersembahkan:</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span>Family gathering dengan tema &#8220;</span></span>Pendidikan Anak yang Efektif dalam Islam&#8221;</p>
<p>Waktu:  Sabtu, 11 February 2012</p>
<p>Tempat: Gedung Serba Guna Sekolah Cikal, Jl. Tb Simatupang kav. 18, Jakarta Selatan</p>
<p>Pukul: 09.00 &#8211; 12.30 WIB</p>
<p>Acara:</p>
<p>- Kajian orang tua: Pendidikan Anak yang Efektif dalam Islam<span style="font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p>- Performance siswa Living Quran Club</p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span>Pembicara: </span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span>- Najeela Shihab (praktisi pendidikan)</span></span></p>
<p>- DR. H. Ali Nurdin, MA (Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur&#8217;an)</p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span>Registrasi Hubungi: 021 &#8211; 78836417 atau </span></span><span style="font-family: Arial;"><span>e-mail ke <a rel="nofollow" href="mailto:mimmi@psq.com" target="_blank">mimmi@psq.com</a> </span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span>Paling lambat 8 Februari 2012.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/family-gathering-living-quran-club/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lawan Kebencian Lewat Interaksi yang Tidak Terduga</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/lawan-kebencian-lewat-interaksi-yang-tidak-terduga/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/lawan-kebencian-lewat-interaksi-yang-tidak-terduga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 10:59:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[berbagi]]></category>
		<category><![CDATA[bersatu]]></category>
		<category><![CDATA[interaksi]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[prasangka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16116</guid>
		<description><![CDATA[Chicago – Martin Luther King, Jr., pejuang hak-hak sipil terkenal Amerika, pernah mengatakan, “Orang saling membenci karena mereka takut satu sama lain, mereka saling takut karena mereka tidak kenal satu sama lain, dan orang tidak saling kenal karena mereka sering kali terpisah satu sama lain.” Rakyat Amerika mengenang jasanya setiap 16 Januari, sebuah momen tepat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Chicago –  Martin Luther King, Jr., pejuang hak-hak sipil terkenal Amerika, pernah  mengatakan, “Orang saling membenci karena mereka takut satu sama lain,  mereka saling takut karena mereka tidak kenal satu sama lain, dan orang  tidak saling kenal karena mereka sering kali terpisah satu sama lain.”  Rakyat Amerika mengenang jasanya setiap 16 Januari, sebuah momen tepat  untuk bertanya, bagaimana kita bisa memutus siklus ini?</p>
<p>Merenungkan pertanyaan ini, saya teringat dengan masyarakat saya yang  pernah menghadapi masalah ini ketika ada tetangga dari ras kulit hitam  dibunuh oleh seorang pembela fanatik supremasi kulit putih. Selama  berbulan-bulan kami berkumpul setiap malam di tempat di mana pembunuhan  terjadi untuk berjalan-jalan dan berbincang. Praktik sederhana ini  menjadi sebuah peristiwa yang transformatif. Itu menjadi tanggapan kami  atas kesedihan komunal demi mendukung keluarga korban, mempertahankan  kebertetanggaan kami dan membingkai kembali hidup kami menyusul rasa  terkejut atas adanya kebencian yang menyusup.</p>
<p>Dua tahun kemudian, serangan 11 September menghadirkan trauma dan  ketakutan dalam skala global. Kita melihat seluruh dunia tersentak. Kita  pun segera menyaksikan ketakutan menjelma menjadi tindakan membuat  stereotipe dan kecurigaan yang pukul rata. Kejadian-kejadian reaksi  kebencian awal-awal tertuju pada individu-individu yang tidak bersalah  di seluruh Amerika Serikat. Prasangka, intimidasi, fitnah, dan sikap  kasar terus menyasar orang-orang Muslim terutama tetapi berdampak pula  pada yang lain – orang Sikh, Hindu, Kristen Asia Selatan dan Kristen  Arab – di Amerika Serikat dan yang lainnya. Dalam pekerjaan saya, saya  terhubung erat dengan keluarga dari orang-orang yang tidak bersalah yang  telah terbunuh dalam reaksi ini. Saya merasakan kegelisahan yang luar  biasa atas suara-suara jahat yang kini menuai untung, dukungan dan citra  beken dari prasangka yang timbul.</p>
<p>Apa prakarsa praktis yang bisa menyembuhkan dinamika yang sangat umum  yang King gambarkan, yang mewujud dalam rasisme, xenofobia, Islamofobia  dan prasangka-prasangka lain? Adakah sesuatu yang lebih efektif dari  dialog, yang bisa dengan mudah menghentikan perpecahan?</p>
<p>Saya yakin kegiatan jalan-jalan yang masyarakat saya lakukan, dan sebuah  prakarsa lain yang disebut “acara berbagi”, lebih memikat ketimbang  program-program menganalisis berbagai agama atau membandingkan berbagai  budaya, dan lebih mudah dilakukan di masyarakat, sekolah, universitas,  organisasi dan perusahaan. Kesederhanaan prakarsa-prakarsa ini bahkan  bisa melemahkan keterpisahan dan misinformasi yang sudah mengurat akar  di antara orang-orang dari agama, etnis atau latar belakang berbeda.</p>
<p>Acara berbagi — yang gratis dan ramah-keluarga—bisa dilangsungkan di  ruang tamu, balai warga, komunitas agama, aula sekolah ataupun tempat  makan siang di perkantoran. Di masyarakat, kegiatan ini bisa  berganti-ganti tempat setiap bulannya. Para peserta diajak untuk berbagi  musik, seni, puisi, cerita tentang harapan dan mimpi-mimpi,  perkembangan pekerjaan mereka, atau bahkan perkembangan permainan game  mereka, demi mengekspresikan sesuatu yang berkembang, secara pribadi  bermakna atau penting.</p>
<p>Pada suatu kegiatan seperti itu, seorang warga Bangladesh Amerika  menghibur para peserta dengan berbagai cerita tentang menghadapi  identitas sementara menghadapi kelompok di dalam kelompok. Di sekolahnya  dulu, dialah satu-satunya anak Muslim berkulit coklat. Ia terkejut  begitu mengetahui ada orang-orang Kristen dan Yahudi, tidak sekadar  “orang kulit putih”; lalu menemukan sebuah masjid setempat yang dipenuhi  dengan orang Muslim Bosnia berkulit cerah. Ia pun menjadi pandai  bercanda untuk menghapus sekat-sekat ini. Kegiatan “berbagi” semacam itu  menciptakan pintu masuk lewat mana kita bisa melihat “orang lain”  sebagai sesama manusia dan menemukan berbagai kemungkinan untuk saling  peduli dan berteman.</p>
<p>Sama halnya, jalan bareng terus-terusan sangatlah berbeda dengan pawai  tunggal atau jalan santai lintas agama tahunan, yang telah menjadi hal  biasa. Dalam komunitas saya, kami sadar akan manfaat kegiatan  berkesinambungan ini. Kegiatan-kegiatan ini bahkan menarik buat  tetangga-tetangga yang tidak banyak berkomunikasi, yang enggan untuk  memasuki pintu orang lain atau memasuki rumah ibadah yang tidak  familiar. Orang-orang yang tidak tertarik dengan dialog atau pertemuan  tetapi sekadar ingin bersantai dengan jalan-jalan, mereka bisa dengan  mudah keluar-masuk. Namun karena jalan-jalan ini reguler dan  berkelanjutan, hubungan yang lebih baik pun terjalin.</p>
<p>Sebagian besar kita memiliki kecurigaan atau stereotipe yang tidak kita  sadari tentang kelompok lain. Namun, ketika orang tua mendorong kereta  bayi bersama-sama dan menyadari diri mereka membandingkan catatan  perkembangan anak, fakta bahwa yang satu mengenakan jilbab dan lainnya  memakai yarmulka menjadi tidak lagi terlalu memecah-belah. Kita bahkan  boleh jadi membayangkan akan menjadi sekutu yang ingin “melakukan hal  yang luar biasa berbeda” bagi orang lain dan membayangkan mereka  mengambil risiko serupa untuk kita.</p>
<p>Kendati membuat gerakan atau kampanye aksi politik itu menantang,  prakarsa-prakarsa ini bisa dengan mudah ditiru. Prakarsa-prakarsa ini  bisa mengantar kita ke berbagai peluang di mana sesuatu yang menarik dan  luar biasa bernilai mengakar di antara manusia, suatu penawar  penghinaan dan perusakan.</p>
<p>Dalam kesederhanannya, praktik-praktik ini menjanjikan cita-cita yang  King contohkan: bahwa kita saling bersua dengan keterbukaan terhadap  kemanusiaan kita bersama yang esensial, dan mengakui kerinduan yang  sama-sama kita miliki akan sebuah dunia di mana kita semua merasa  dihargai dan aman. [Anya Cordell]</p>
<p>###</p>
<p>* Anya Cordell, penerima anugerah Spirit of Anne Frank Award, ialah seorang pembicara dan penulis Yahudi. Ia adalah pengarang <em>Race: An Open &amp; Shut Case</em>,  yang mengurai anggapan-anggapan lazim tentang apa yang kita sebut  “ras”, yang disebut sebagai salah satu “buku untuk mengubah hidup Anda”  oleh N’Digo Magazine, dan pengarang, <em>Where the Anti-Muslim Path Leads</em>.</p>
<p>Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).</p>
<p>Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Januari 2011, www.commongroundnews.org<br />
Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/lawan-kebencian-lewat-interaksi-yang-tidak-terduga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Misi Lintas Agama Akbar Ahmed, dalam Puisi dan Prosa</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/misi-lintas-agama-akbar-ahmed-dalam-puisi-dan-prosa/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/misi-lintas-agama-akbar-ahmed-dalam-puisi-dan-prosa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 13:59:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16022</guid>
		<description><![CDATA[Shawnee Mission, Kansas – Memuji antologi puisi terbaru Akbar Ahmed, Suspended Somewhere Between: A Book of Verse, Greg Mortenson, pengarang Three Cups of Tea, mengatakan, “Siapa saja yang ingin memahami Islam dewasa ini harus membaca kumpulan puisi Akbar Ahmed. Kita diberi wawasan yang langka tentang dilema, kepedihan dan keputusasaan tetapi juga akhirnya cinta dan harapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shawnee Mission, Kansas – Memuji antologi puisi terbaru Akbar Ahmed, <em>Suspended Somewhere Between: A Book of Verse</em>, Greg Mortenson, pengarang <em>Three Cups of Tea</em>,  mengatakan, “Siapa saja yang ingin memahami Islam dewasa ini harus  membaca kumpulan puisi Akbar Ahmed. Kita diberi wawasan yang langka  tentang dilema, kepedihan dan keputusasaan tetapi juga akhirnya cinta  dan harapan dari kaum Muslim melalui bait-bait sosok renaisans sejati  ini.” Di sebuah dunia yang terlampau sering terlihat terkotak-kotak oleh  sekat agama dan budaya, karya Ahmed memberi sebuah model penting  tentang apa yang diraih melalui pengertian antariman.</p>
<p>Dalam suatu rangkaian tur di University of Missouri-Kansas City untuk mempromosikan buku ini, Ahmed, <em>Ibn Khaldun Chair</em> Kajian Islam, American University, Washington DC dan mantan duta besar  Pakistan untuk Inggris, menjelaskan bahwa pengalaman hidupnya, yang  dituangkan dalam ekspresi artistik koleksi puisi ini, “… mencerminkan  situasi kita hari ini ketika kita semakin tampak terdampar di suatu  tempat di antara berbagai budaya, tempat, bangsa dan masa.” Salah satu  tantangan terbesar manusia ke depan adalah pencarian toleransi dan  saling penerimaan di antara semua bangsa dan negara. Dan Ahmed  menegaskan kembali komitmen jangka panjangnya pada pencarian itu dengan  mendorong dialog antaragama dan membangun pengertian di antara  orang-orang dari etnis dan keyakinan agama yang berbeda.</p>
<p>Ahmed, yang disebut BBC sebagai “ahli terkemuka dunia tentang Islam kontemporer”, jugalah <em>Distinguished Chair</em> pertama untuk Kajian Timur Tengah dan Islam di Akademi Angkatan Laut AS  di Annapolis, Maryland, dan peneliti senior non-residen Brookings  Institution, sebuah lembaga think-tank di Washington DC. Jabatan-jabatan  ini merupakan bukti dedikasinya bersama para tokoh agama lain untuk  mendorong upaya-upaya kerjasama dalam kerukunan agama dan pengertian  antaragama.</p>
<p>Dalam bukunya yang terbit tahun 2007, <em>Journey into Islam: The Crisis of Globalization</em> Ahmed menuturkan pengalamannya memimpin suatu tim anak muda Amerika  dalam sebuah tur ke tiga kawasan besar dunia Muslim: Timur Tengah, Asia  Selatan dan Asia Tenggara. Mereka mengajukan kuesioner ke orang-orang  Muslim di masing-masing negara, dan mengikuti seminar, jamuan makan  siang dan obrolan santai, terlibat dalam diskusi yang terus terang  tentang perbedaan agama, politik dan budaya serta membahas berbagai  bidang di mana mereka mungkin bisa menemukan kesamaan.</p>
<p>Upaya itu berujung pada sebuah program serupa dengan anak-anak muda  Amerika yang disebut Journey into America di mana timnya mengunjungi  lebih dari 75 kota dan 100 masjid untuk mencoba memahami komunitas  Muslim di Amerika Serikat. Kajian ini melahirkan sebuah film yang telah  dipertontokan di kampus-kampus dan festival film di seluruh dunia, serta  sebuah buku, <em>Journey into America: The Challenge of Islam</em>, yang  diterbitkan oleh Brookings Institution Press pada 2010. Seperti  diikhtisarkan di situs Journey into America, kajian ini “mengeksplorasi  dan mendokumentasikan bagaimana orang-orang Muslim tengah menyesuaikan  diri dalam masyarakat AS, dan berupaya menempatkan pengalaman Muslim di  AS dalam konteks identitas Amerika yang lebih luas. Karena itu, kajian  ini menjadi kontribusi besar bagi kajian sejarah dan budaya Amerika.”</p>
<p>Dengan menggunakan beragam media untuk mengeksplorasi pesan koeksistensi damainya, Ahmed juga telah membuat drama, <em>Noor</em>, yang digambarkan di <em>Washington Post</em> sebagai “senandung pujian untuk toleransi beragama”, yang dipentaskan  di sejumlah tempat. Alur ceritanya mengisahkan penculikan seorang pemudi  bernama Noor dan tiga saudaranya – yang seorang sufi, seorang birokrat  pemerintah sekuler, dan seorang fundamentalis – yang merepresentasikan  berbagai aliran dalam komunitas Muslim modern dalam pandangan Ahmed.</p>
<p>Dalam pengantar koleksi puisinya, Ahmed menyatakan, “Saya telah banyak  bepergian, banyak menyaksikan, banyak menderita, dan banyak yang telah  saya nikmati dari orang-orang yang saya jumpai dan tempat-tempat yang  saya kunjungi.” Dalam puisi penutup yang berjudul “What is it that I  seek?” (Apakah yang aku cari?), kita diberi sebuah bait ringkasan yang  menarik tentang apa yang mengarahkan ke pengertian dan penerimaan  antaragama di antara orang-orang yang dijumpainya dalam perjalanan  hidupnya:</p>
<p>“Ia adalah hadiah terbesar dari Tuhan<br />
Ia mengangkat kita sangat tinggi<br />
Ia adalah titian di atas jurang<br />
Ia adalah cinta, cinta, cinta”</p>
<p>[Mark Scheel]<br />
# # #</p>
<p>* Mark Scheel ialah seorang penulis dan mantan redaktur yang tinggal di  Shawnee Mission, Kansas. Ia tengah menggarap sebuah novel bertema lintas  agama.</p>
<p>Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).</p>
<p>Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Januari 2012, www.commongroundnews.org<br />
Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/misi-lintas-agama-akbar-ahmed-dalam-puisi-dan-prosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Selamatkan Tari Tradisional Indonesia, Mungkinkan Adanya Perubahan</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/untuk-selamatkan-tari-tradisional-indonesia-mungkinkan-adanya-perubahan/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/untuk-selamatkan-tari-tradisional-indonesia-mungkinkan-adanya-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 14:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[pemersatu]]></category>
		<category><![CDATA[tari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=16016</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Indonesia &#8211; Pada November 2011, Badan PBB Urusan Pendidikan, Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) secara resmi menambahkan Saman Gayo, sebuah tarian duduk dari daerah Gayo Lues, Aceh, dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Pelindungan Mendesak. Meski tradisi budaya Indonesia lainnya — termasuk batik dan wayang — telah pula diakui sebagai bagian warisan budaya dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta,  Indonesia &#8211; Pada November 2011, Badan PBB Urusan Pendidikan, Pengetahuan  dan Budaya (UNESCO) secara resmi menambahkan Saman Gayo, sebuah tarian  duduk dari daerah Gayo Lues, Aceh, dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda  yang Memerlukan Pelindungan Mendesak. Meski tradisi budaya Indonesia  lainnya — termasuk batik dan wayang — telah pula diakui sebagai bagian  warisan budaya dari Indonesia, Saman Gayo adalah yang pertama yang  dinyatakan perlu adanya langkah-langkah mendesak untuk menyelamatkannya.</p>
<p>Selaku orang Indonesia dan pengajar tarian Aceh, saya bangga bahwa Saman  Gayo telah diakui oleh UNESCO. Namun, saya juga khawatir bahwa  alih-alih melestarikan tarian ini tetap hidup, status baru Saman Gayo  malah secara tidak sengaja akan membuatnya mandeg dan merosot jika hanya  diasosiasikan dengan waktu dan ruang sejarah yang spesifik, dan  bukannya menjadi sebuah tradisi hidup yang bisa menghubungkan banyak  kelompok orang.</p>
<p>Saman Gayo dipentaskan oleh sekelompok laki-laki yang duduk dalam  barisan rapat yang melakukan gerak tangan dan badan bagian atas secara  serentak dan diiringi oleh nyanyian. Saman Gayo berbeda dari tari-tarian  duduk yang lain karena ditampilkan dengan menggunakan bahasa dan kostum  Gayo, dan bukannya bahasa dan kostum Aceh pesisir. Di Indonesia,  tarian-tarian semacam ini sering kali memasukkan tema-tema Islami dalam  lirik lagu mereka.</p>
<p>UNESCO beralasan mengapa Saman Gayo sangat mendesak diselamatkan karena  menurunnya jumlah para tokoh yang memiliki pengetahuan tentang Saman  Gayo, langkanya para penari terampil, dan kurangnya dana untuk  pementasannya – yang semuanya berakibat pada menurunnya frekuensi  pementasan tari ini.</p>
<p>Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, mendukung  prakarsa ini dan November lalu mengatakan: “Kita khawatir bahwa jika  [Saman Gayo] tidak segera didaftarkan, bangsa lain mungkin akan  mengklaimnya sebagai milik mereka [...] Untuk mencegah [ini], tari ini  harus segera didaftarkan, dilindungi dan dipromosikan.” Kendati Ibu  Menteri ingin Saman Gayo diakui dan dilindungi, ia juga berkepentingan  agar Saman Gayo diakui sebagai milik khas Indonesia.</p>
<p>Saya mempertanyakan pemikiran bahwa agar suatu bentuk seni tetap menjadi  tradisi yang hidup, ia harus dibatasi ke suatu kawasan atau seperangkat  aturan. Justru, purisme ini bisa mengakibatkan kemandegan, penurunan  dan akhirnya kepunahan tradisi budaya.</p>
<p>Kalau kita melihat Saman Gayo dalam konteks tari Aceh yang lebih luas,  kita menemukan dua tari duduk dari Aceh – Saman Gayo dan Ratoh Duek –  yang daerah asalnya hanya berjarak beberapa puluh kilometer, namun  menempuh jalur yang sangat berbeda. Tidak seperti Saman Gayo, kesuksesan  dan popularitas di tingkat dunia dari tari Ratoh Duek, yang umumnya  ditampilkan dalam bahasa Aceh oleh para perempuan, tidak tergantung pada  status internasional khusus apa pun, tetapi pada popularitasnya di  tingkat akar rumput.</p>
<p>Sejak tahun 1960-an, tari-tari duduk dari Aceh, termasuk Saman Gayo,  telah dipentaskan di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan dan  Yogyakarta. Namun, Ratoh Duek menjadi yang paling populer dan paling  luas dipentaskan karena adanya dukungan dari para seniman Aceh,  sekolah-sekolah, kampus-kampus, LSM-LSM dan pemerintah. Tetapi  popularitas ini terutama adalah karena daya tarik tarian ini bagi anak  muda, yang telah menjadikan tarian ini suatu kegiatan ekstrakurikuler  yang populer di seantero Indonesia. Selain itu, popularitasnya tidak  terbatas di Indonesia. Berbagai institusi pendidikan dan kebudayaan  internasional telah mengkajinya, sering kali dengan datang ke Indonesia  untuk belajar dari guru-guru lokal.</p>
<p>Salah satu kunci popularitas Ratoh Duek adalah keterbukaan tarian ini  pada hibridisasi. Kostum, lagu dan variasi gerakan yang baru telah  dimasukkan ke dalam penampilan tarian ini yang mencerminkan nilai-nilai  global, serta pergeseran para penampil tari yang tidak lagi hanya  perempuan. Ratoh Duek mengekspresikan pesan-pesan juga Islami dalam  lirik-lirik lagunya, tetapi daya tarik utamanya adalah fokusnya pada  harmoni dan kerja tim. Bahkan, Ratoh Duek telah menjadi begitu populer  karena sekarang juga diperagakan oleh non-Muslim, sesuatu yang langka di  dunia yang terkotak-kotak seperti sekarang.</p>
<p>Ratoh Duek telah terbukti menjadi sebuah kekuatan pemersatu. Sebelum  bermigrasi ke luar Aceh, tarian ini menjadi sarana kegiatan bersama di  mana orang-orang dari keluarga, kampung atau status sosial yang berbeda  sama-sama berpartisipasi. Kini, anak muda dari latar belakang etnis,  jender, agama dan negara yang berbeda duduk berdampingan dan menampilkan  tarian ini di panggung-panggung di seluruh dunia.</p>
<p>Orang-orang yang khawatir bahwa Saman Gayo “terancam” dan perlu segera  diselamatkan semestinya belajar dari Ratoh Duek, yang tidak saja telah  “dilestarikan” tetapi juga telah berkembang, sebagian besarnya dengan  menjadi terbuka terhadap perubahan. Kalau kita benar-benar ingin  memastikan hidup dan langgengnya Saman Gayo, kita harus memungkinkan  salah satu tradisi besar Indonesia ini untuk menyesuaikan diri. [Marzuki Hasan]</p>
<p>###</p>
<p>* Marzuki Hasan ialah dosen di Institut Kesenian Jakarta. Ia juga  seorang penyanyi, penari dan koreografer yang mengajarkan banyak tarian  Aceh selama lebih dari 50 tahun. Berbagai contoh tari Saman Gayo bisa  dilihat <a href="http://www.youtube.com/watch?v=1izAWryfBSE"> di sini</a>.</p>
<p>Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).</p>
<p>Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Januari 2012, www.commongroundnews.org<br />
Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/untuk-selamatkan-tari-tradisional-indonesia-mungkinkan-adanya-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muslim, dan Orang Kristen, yang Sepenuhnya Amerika</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/muslim-dan-orang-kristen-yang-sepenuhnya-amerika/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/muslim-dan-orang-kristen-yang-sepenuhnya-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 15:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[prasangka]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=15702</guid>
		<description><![CDATA[Boston, Massachusetts – Selama akhir pekan lalu, para pengunjuk rasa berkumpul di toko-toko Lowe yang menjual peralatan rumah, dan mengkritik keputusan perusahaan ritel itu baru-baru ini untuk mencabut iklannya dari sebuah acara televisi, All-American Muslim. Keputusan Lowe ini menyusul pengaduan dari Florida Family Association – sebuah kelompok Kristen evangelis konservatif yang bertujuan untuk “mendidik masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Boston, Massachusetts – Selama akhir pekan lalu, para pengunjuk rasa berkumpul di toko-toko Lowe yang menjual peralatan rumah, dan mengkritik keputusan perusahaan ritel itu baru-baru ini untuk mencabut iklannya dari sebuah acara televisi, All-American Muslim. Keputusan Lowe ini menyusul pengaduan dari Florida Family Association – sebuah kelompok Kristen evangelis konservatif yang bertujuan untuk “mendidik masyarakat tentang apa yang mereka bisa perbuat untuk membela, melindungi dan mendorong nilai-nilai tradisional Alkitab” – bahwa acara ini adalah “propaganda”. Mereka juga mengatakan “bahwa [acara ini] menutup-nutupi bahaya dari agenda Islam yang cukup jelas bagi kebebasan Amerika dan nilai-nilai tradisional.”</p>
<p>All-American Muslim ialah sebuah acara realiti yang memotret lima keluarga Arab-Amerika Muslim di Dearborn, Michigan. Tujuan acara ini adalah memberi para pemirsa suatu jendela untuk melihat kehidupan orang-orang Muslim keturunan Arab yang tinggal di Amerika Serikat dewasa ini. Karena acara ini mempertontonkan situasi kehidupan nyata, acara ini kadang menyertakan berbagai kejadian diskriminasi dan bagaimana keluarga memilih untuk menanganinya.</p>
<p>Selaku seorang profesor teologi yang membidangi Islam maupun Kristen, saya sering kali diminta berkomentar tentang isu-isu terkait agama. Setelah mencoba mencermati berbagai episode acara tersebut dan blog-blog tentang tayangan ini, saya temukan bahwa di antara para keluarga ini ada yang sedang merencanakan resepsi pernikahan, menikah, menghadapi tantangan mengasuh keluarga, menyadari bahwa menjadi seorang ayah berarti mementingkan kesejahteraan dan kebutuhan anak-anak di atas kepentingan sendiri, melatih tim sepak bola sekolah menengah, dan merenungkan status menjadi ibu sebagai hadiah yang terbesar dari Tuhan.</p>
<p>Saya pribadi tidak menemukan ada hal yang menyudutkan, berbahaya atau mengandung propaganda dari tayangan ini. Bahkan, kesan saya, fokus pada keluarga memang menjadi inti kebebasan dan nilai Amerika tradisional.</p>
<p>Lalu apa masalahnya?</p>
<p>Masalahnya sepertinya adalah ketidaktahuan tentang siapa orang Muslim itu dan apa yang mereka yakini. Kendati ada upaya-upaya sejak 11 September untuk mendidik publik Amerika tentang Islam dan Muslim, tetap saja pemahaman dan informasi yang akurat masih minim, dan ini sayangnya sering kali melahirkan ketakutan, kebencian, prasangka, kefanatikan dan, akhirnya, diskriminasi, yang sangat mengakar.</p>
<p>Tetap diam saja setelah ada prasangka dan kebencian berarti ikut bergabung dengan orang-orang itu. Sama seperti kita menuntut agar Muslim angkat bicara untuk melawan orang-orang yang melakukan aksi terorisme dan ekstremisme atas nama Islam, orang Kristen juga harus angkat bicara untuk melawan orang-orang yang mendakwahkan kebencian, kefanatikan dan kebodohan atas nama Kristen.</p>
<p>Selaku orang Amerika, saya percaya bahwa kita memiliki kewajiban untuk mengemban tanggung jawab yang mengiringi kebebasan berpendapat – tanggung jawab untuk memastikan bahwa kata-kata kita tidak digunakan untuk melukai orang lain, entah secara fisik atau emosional; tanggung jawab untuk menggunakan kata-kata kita untuk menyampaikan informasi yang akurat daripada melanggengkan stereotipe negatif; dan tanggung jawab untuk menggunakan kata-kata kita untuk membangun, alih-alih meruntuhkan, masyarakat dan satu sama lain.</p>
<p>Selaku orang Kristen, apalagi menjelang perayaan Natal, saya ingin menggunakan kebebasan berpendapat saya untuk menjelaskan bahwa Muslim dan Kristen meyakini banyak sekali nilai-nilai yang sama – pentingnya keluarga, kepedulian akan keadilan sosial dan pentingnya iman kepada Tuhan. Meski Muslim dan Kristen tidak sepakat tentang apakah Yesus itu putra Tuhan, namun Muslim memandang Isa memiliki kedudukan tinggi sebagai salah satu nabi dan utusan Tuhan yang membawakan wahyu Tuhan melalui Injil kepada manusia.</p>
<p>Al-Qur’an mengajarkan bahwa Isa adalah “sabda dari Allah” (3: 45) dan “ruh dari Allah” (4: 171), yang dikandung dan dilahirkan oleh Maryam (3: 47 dan 19: 16-23), yang telah diajari “Kitab dan hikmah, dan Taurat serta Injil” oleh Tuhan (3: 48). Al-Qur’an juga mengingatkan kita bahwa Isa datang untuk “menyembuhkan orang yang terlahir buta dan terkena kusta,” untuk “membangkitkan orang mati” (3: 49 dan 5: 110) dan untuk “membenarkan Taurat yang datang sebelumnya” (3: 50). Ajaran-ajaran ini pada dasarnya sama dengan apa yang orang Kristen yakini tentang Yesus, dan menawarkan titik kesamaan ketika kita tengah menjelang Natal – saat-saat penuh harapan, persahabatan dan, yang paling penting, perdamaian di muka bumi.</p>
<p>Agama kita bersama, entah Muslim atau Kristen, memerintahkan kita untuk mencintai Tuhan dan sesama manusia. Saya berdoa agar lebih banyak orang Kristen dan Muslim yang akan menggunakan kejadian terakhir ini untuk bersilaturahim satu sama lain dan mengenali seberapa banyak kesamaan yang kita miliki lewat kekuatan cinta itu, daripada membiarkan ketakutan terus memecah dan menaklukkan kita. [Dr. Natana J. DeLong-Bas]</p>
<p>###</p>
<p>* Dr. Natana J. DeLong-Bas ialah Pemimpin Redaksi The [Oxford] Encyclopedia of Islam and Women dan pengarang Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. Ia mengajar perbandingan agama di Boston College.</p>
<p>Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).</p>
<p>Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 23 Desember 2011, www.commongroundnews.org<br />
Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/muslim-dan-orang-kristen-yang-sepenuhnya-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan dan Teknologi: Kunci untuk Raih Masa Depan Lebih Baik</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/perempuan-dan-teknologi-kunci-untuk-raih-masa-depan-lebih-baik/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/perempuan-dan-teknologi-kunci-untuk-raih-masa-depan-lebih-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 15:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agushery</dc:creator>
				<category><![CDATA[What's on]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=15695</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang mengira, perempuan adalah bagian dari teknologi yang tak tereksplorasi dengan baik. Dunia teknologi seolah menjadi domain kaum pria. Perangkat keras, perangkat lunak, internet dan beberapa hal teknis yang melingkupinya, seakan diluar jangkauan kaum hawa. Itu mungkin prasangka yang banyak kita ketahui dari masyarakat umumnya. Namun tahukah, kini angka-angka statistik banyak menunjukkan hal sebaliknya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang mengira, perempuan adalah bagian dari teknologi yang tak tereksplorasi dengan baik. Dunia teknologi seolah menjadi domain kaum pria. Perangkat keras, perangkat lunak, internet dan beberapa hal teknis yang melingkupinya, seakan diluar jangkauan kaum hawa. Itu mungkin prasangka yang banyak kita ketahui dari masyarakat umumnya. Namun tahukah, kini angka-angka statistik banyak menunjukkan hal sebaliknya.</p>
<p>Paling tidak, ini yang terlihat dari seminar yang diselenggarakan hari Kamis (22 Desember 2011) lalu. Melalui acara seminar &#8216;Perempuan &amp; Teknologi&#8217; dengan subtema : &#8216;E<em>mpowering Business Woman</em>&#8216;, ternyata diketahui bahwa perempuan di Indonesia setara dalam hal penggunaan jejaring sosial seperti Facebook. Jumlahnya hampir seimbang antara kedua gender. Menurut presentasi yang dibawakan salah satu narasumber acara ini, Betti Alisjahbana, 46% pengguna internet adalah perempuan. Dari jumlah yang dihabiskan untuk online, kaum perempuan malah lebih superior. Mereka lebih sering bercengkerama di dunia maya. Kepemilikan ponsel pintar seperti Blackberry yang diantara menempatkan Indonesia sebagai pengguna pertumbuhan tertinggi di dunia turut mendukung fakta ini.</p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/12/seminar22des-gettingsmart.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-15698" title="seminar22des-gettingsmart" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/12/seminar22des-gettingsmart-300x161.png" alt="" width="300" height="161" /></a></p>
<p>Efeknya, banyak perempuan yang kini mampu meningkatkan perekonomian keluarga. Dari lingkungan rumah tangga, mereka bisa melakukan penjualan secara <em>online</em> yang memungkinkannya untuk tetap dekat bersama keluarga, sembari memperhatikan kondisi putra-putrinya. Dengan beberapa kali klik, mereka sanggup menjual barang maupun jasa dengan bantuan internet. Tak salah jika kita bisa melihat banyak yang menyelipkan barang-barang mereka di akun facebook yang mereka miliki. Ini bukan hanya sekedar ruang sosial, namun media seperti socmed (<em>social media</em>) memang memungkinkan mereka untuk melakukan sesuatu yang lebih.</p>
<p>Kehadiran internet juga berhasil mengantarkan kaum perempuan menjadi lebih terbuka <em>(open minded</em>) dan selanjutnya mampu membuat mereka menjadi lebih pintar. Alat-alat teknologi lengkap dengan fiturnya, seperti pesan singkat (SMS) juga membantu perempuan membantu kegiatan keseharian mereka. Dari mulai hal yang sepele, seperti memesan sayur kebutuhan sehari-hari, hingga hal yang lebih pelik, misalnya untuk mengatur urusan keuangan dengan fitur SMS Banking. Intinya, teknologi ini tak lagi menyekat antara kaum perempuan yang berpendidikan tinggi dan dibawahnya. Contohnya, kaum perempuan di Muara Angke yang diceritakan mampu memproduksi bordirnya 4 kali lipat berkat penguasaan ilmu komputer.</p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/12/seminar22des-sesipertama.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-15696" title="seminar22des-sesipertama" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/12/seminar22des-sesipertama-300x200.png" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Narasumber lainnya, Sri Safitri juga mengamini hal ini. Menurutnya, saat ini tak ada lagi hambatan bagi kaum perempuan untuk menguasai teknologi. Kondisi inilah yang menurutnya menjadi pijakan yang kuat agar mereka bisa meraih mimpi-mimpi mereka untuk kehidupan yang lebih baik. Wanita yang juga penggiat musik digital dan juga pemasaran online ini juga banyak menceritakan kisah-kisah perempuan hebat yang bisa memaksimalkan pengetahuan teknologinya untuk menunjuang aktifitas baik bisnis maupun keluarga.</p>
<p>Ada yang menarik dari presentasi yang disampaikan Ibu Safitri. Di kesempatan lain dia mengungkapkan berkat teknologi pula, maka perempuan di Indonesia bertransformasi dari <em>hardskill</em> (tenaga kasar) meningkat menjadi <em>softskill</em> (tenaga ahli). Mudah sekali menemui kaum perempuan kini bisa memegang jabatan tinggi, jabatan yang sebelumnya didominasi kaum pria. Dia mencontohkan pula Ibu Betty yang pernah memimpin perusahaan multinasional seperti IBM selama 8 tahun sebagai presiden direktur.</p>
<p>Setelah sesi istirahat, sejumlah 200-an peserta yang hadir di acara ini dilanjutkan dengan materi berikutnya dari narasumber Ibu Tila (Jetti R Hadi &#8211; Pemimpin Redaksi Majalah Noor), Wahyu Aditya dari Hello Motion dan juga Ratih Sang, seorang yang lebih dikenal sebagai peragawati ternama. Sesi yang menampilkan satu-satunya narasumber non-perempuan ini juga tak kalah menariknya. Wahyu Aditya, yang piawai dalam urusan grafis membawakan presentasi usahanya yang dimulai dari hobi menggambar sejak kecil. Aditya mengaku bahwa berkat ibunya pulalah dia merasa beruntung bakat melukisnya mendapat dukungan penuh keluarganya.</p>
<p><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/12/seminar22des-mwaditya.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-15697" title="seminar22des-mwaditya" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/12/seminar22des-mwaditya-300x159.png" alt="" width="300" height="159" /></a></p>
<p>Usahanya mendirikan Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI) pun sukses mendapatkan simpati penghuni <em>socmed</em>. Dia menggunakan blogspot untuk mengawali usahanya menawarkan desain dan kaos, lalu menyebarkannya di Facebook dan Twitter dan mendapatkan reaksi yang membanggakan. Beberapa pengguna T-shirt buatan KDRI sering mengirimkan foto melalui akun twitter untuk mengabarkan kaosnya sudah melanglang buana hingga ke luar negeri. Dan desain untuk kaosnya juga diujicobakan di facebook untuk melihat sejauh mana potensi desainnya diminati untuk diproduksi. Sebuah langkah yang mudah untuk mengetahui minat penggemarnya sebelum memproduksi kaos agar lebih menjual.</p>
<p>Di sesi ini Ratih Sang juga membacakan puisi yang berhasil membuat peserta seminar tampak berkaca-kaca menahan tangis. Puisi &#8216;Untuk si Kecil&#8217; ini juga berhasil membuatnya memenangkan penghargaan. Acara berakhir pukul 4 sore, dengan diselingi pembagian door prize untuk peserta yang beruntung. Sepertinya semua peserta juga jelas lebih beruntung karena disuguhi narasumber dan cerita-cerita inspiratif untuk membuat Hari Ibu saat itu semakin istimewa. [Agus]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/perempuan-dan-teknologi-kunci-untuk-raih-masa-depan-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

