- Quote 23 Februari 2012
- Menyelamatkan Lingkungan, Berarti Menyelamatkan Bangsa
- Apakah yang dimaksud Berangan-angan Terhadap Allah SWT?
- Mau Pilih yang Mana?
- Berupa Apakah Jawaban dari Shalat Istikharah?
- Melati yang Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
- Quote 22 Februari 2012
- Haruskah Pindah Tempat saat Hendak Shalat Sunnah Rawatib?
Lawan Kebencian Lewat Interaksi yang Tidak Terduga
Chicago – Martin Luther King, Jr., pejuang hak-hak sipil terkenal Amerika, pernah mengatakan, “Orang saling membenci karena mereka takut satu sama lain, mereka saling takut karena mereka tidak kenal satu sama lain, dan orang tidak saling kenal karena mereka sering kali terpisah satu sama lain.” Rakyat Amerika mengenang jasanya setiap 16 Januari, sebuah momen tepat untuk bertanya, bagaimana kita bisa memutus siklus ini?
Merenungkan pertanyaan ini, saya teringat dengan masyarakat saya yang pernah menghadapi masalah ini ketika ada tetangga dari ras kulit hitam dibunuh oleh seorang pembela fanatik supremasi kulit putih. Selama berbulan-bulan kami berkumpul setiap malam di tempat di mana pembunuhan terjadi untuk berjalan-jalan dan berbincang. Praktik sederhana ini menjadi sebuah peristiwa yang transformatif. Itu menjadi tanggapan kami atas kesedihan komunal demi mendukung keluarga korban, mempertahankan kebertetanggaan kami dan membingkai kembali hidup kami menyusul rasa terkejut atas adanya kebencian yang menyusup.
Dua tahun kemudian, serangan 11 September menghadirkan trauma dan ketakutan dalam skala global. Kita melihat seluruh dunia tersentak. Kita pun segera menyaksikan ketakutan menjelma menjadi tindakan membuat stereotipe dan kecurigaan yang pukul rata. Kejadian-kejadian reaksi kebencian awal-awal tertuju pada individu-individu yang tidak bersalah di seluruh Amerika Serikat. Prasangka, intimidasi, fitnah, dan sikap kasar terus menyasar orang-orang Muslim terutama tetapi berdampak pula pada yang lain – orang Sikh, Hindu, Kristen Asia Selatan dan Kristen Arab – di Amerika Serikat dan yang lainnya. Dalam pekerjaan saya, saya terhubung erat dengan keluarga dari orang-orang yang tidak bersalah yang telah terbunuh dalam reaksi ini. Saya merasakan kegelisahan yang luar biasa atas suara-suara jahat yang kini menuai untung, dukungan dan citra beken dari prasangka yang timbul.
Apa prakarsa praktis yang bisa menyembuhkan dinamika yang sangat umum yang King gambarkan, yang mewujud dalam rasisme, xenofobia, Islamofobia dan prasangka-prasangka lain? Adakah sesuatu yang lebih efektif dari dialog, yang bisa dengan mudah menghentikan perpecahan?
Saya yakin kegiatan jalan-jalan yang masyarakat saya lakukan, dan sebuah prakarsa lain yang disebut “acara berbagi”, lebih memikat ketimbang program-program menganalisis berbagai agama atau membandingkan berbagai budaya, dan lebih mudah dilakukan di masyarakat, sekolah, universitas, organisasi dan perusahaan. Kesederhanaan prakarsa-prakarsa ini bahkan bisa melemahkan keterpisahan dan misinformasi yang sudah mengurat akar di antara orang-orang dari agama, etnis atau latar belakang berbeda.
Acara berbagi — yang gratis dan ramah-keluarga—bisa dilangsungkan di ruang tamu, balai warga, komunitas agama, aula sekolah ataupun tempat makan siang di perkantoran. Di masyarakat, kegiatan ini bisa berganti-ganti tempat setiap bulannya. Para peserta diajak untuk berbagi musik, seni, puisi, cerita tentang harapan dan mimpi-mimpi, perkembangan pekerjaan mereka, atau bahkan perkembangan permainan game mereka, demi mengekspresikan sesuatu yang berkembang, secara pribadi bermakna atau penting.
Pada suatu kegiatan seperti itu, seorang warga Bangladesh Amerika menghibur para peserta dengan berbagai cerita tentang menghadapi identitas sementara menghadapi kelompok di dalam kelompok. Di sekolahnya dulu, dialah satu-satunya anak Muslim berkulit coklat. Ia terkejut begitu mengetahui ada orang-orang Kristen dan Yahudi, tidak sekadar “orang kulit putih”; lalu menemukan sebuah masjid setempat yang dipenuhi dengan orang Muslim Bosnia berkulit cerah. Ia pun menjadi pandai bercanda untuk menghapus sekat-sekat ini. Kegiatan “berbagi” semacam itu menciptakan pintu masuk lewat mana kita bisa melihat “orang lain” sebagai sesama manusia dan menemukan berbagai kemungkinan untuk saling peduli dan berteman.
Sama halnya, jalan bareng terus-terusan sangatlah berbeda dengan pawai tunggal atau jalan santai lintas agama tahunan, yang telah menjadi hal biasa. Dalam komunitas saya, kami sadar akan manfaat kegiatan berkesinambungan ini. Kegiatan-kegiatan ini bahkan menarik buat tetangga-tetangga yang tidak banyak berkomunikasi, yang enggan untuk memasuki pintu orang lain atau memasuki rumah ibadah yang tidak familiar. Orang-orang yang tidak tertarik dengan dialog atau pertemuan tetapi sekadar ingin bersantai dengan jalan-jalan, mereka bisa dengan mudah keluar-masuk. Namun karena jalan-jalan ini reguler dan berkelanjutan, hubungan yang lebih baik pun terjalin.
Sebagian besar kita memiliki kecurigaan atau stereotipe yang tidak kita sadari tentang kelompok lain. Namun, ketika orang tua mendorong kereta bayi bersama-sama dan menyadari diri mereka membandingkan catatan perkembangan anak, fakta bahwa yang satu mengenakan jilbab dan lainnya memakai yarmulka menjadi tidak lagi terlalu memecah-belah. Kita bahkan boleh jadi membayangkan akan menjadi sekutu yang ingin “melakukan hal yang luar biasa berbeda” bagi orang lain dan membayangkan mereka mengambil risiko serupa untuk kita.
Kendati membuat gerakan atau kampanye aksi politik itu menantang, prakarsa-prakarsa ini bisa dengan mudah ditiru. Prakarsa-prakarsa ini bisa mengantar kita ke berbagai peluang di mana sesuatu yang menarik dan luar biasa bernilai mengakar di antara manusia, suatu penawar penghinaan dan perusakan.
Dalam kesederhanannya, praktik-praktik ini menjanjikan cita-cita yang King contohkan: bahwa kita saling bersua dengan keterbukaan terhadap kemanusiaan kita bersama yang esensial, dan mengakui kerinduan yang sama-sama kita miliki akan sebuah dunia di mana kita semua merasa dihargai dan aman. [Anya Cordell]
###
* Anya Cordell, penerima anugerah Spirit of Anne Frank Award, ialah seorang pembicara dan penulis Yahudi. Ia adalah pengarang Race: An Open & Shut Case, yang mengurai anggapan-anggapan lazim tentang apa yang kita sebut “ras”, yang disebut sebagai salah satu “buku untuk mengubah hidup Anda” oleh N’Digo Magazine, dan pengarang, Where the Anti-Muslim Path Leads.
Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 20 Januari 2011, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.
Artikel sebelumnya
- Quote 23 Februari 2012
- Menyelamatkan Lingkungan, Berarti Menyelamatkan Bangsa
- Apakah yang dimaksud Berangan-angan Terhadap Allah SWT?
- Mau Pilih yang Mana?
- Berupa Apakah Jawaban dari Shalat Istikharah?
- Melati yang Rendah Hati, Bukan Rendah Diri



Tuliskan komentar Anda disini!