<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ALiF Magazine &#187; integrasi</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/integrasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullillah It&#039;s Friday</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 06:46:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Di Balik Debat tentang Integrasi Muslim di Jerman</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/2010/03/09/di-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/2010/03/09/di-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 07:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[integrasi]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7584</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Stephan J. Kramer *] Bonn, Jerman – Hubungan antara penduduk mayoritas Jerman dan warga Muslim di sana menjadi salah satu topik terpenting dalam debat publik di Jerman sekarang, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-7585" style="margin: 5px 7px;" title="islam_jerman_ed49" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/islam_jerman_ed49.jpg" alt="islam_jerman_ed49" width="300" height="168" />Oleh </strong>Stephan J. Kramer *]</p>
<p><strong>Bonn, Jerman</strong> – Hubungan antara penduduk mayoritas Jerman dan warga Muslim di sana menjadi salah satu topik terpenting dalam debat publik di Jerman sekarang, dan menjadi diskusi yang sering berujung pertikaian.</p>
<p>Satu pihak menuduh para imigran Muslim memang tidak ingin berasimilasi dengan masyarakat Jerman, sedangkan pihak lain menuduh mayoritas orang Jerman membenci Islam dan mencoba menyingkirkan warga Muslim dari kehidupan publik di negara ini.</p>
<p>Kenyataan sebenarnya jauh lebih pelik dari itu, dan kepelikan ini harus diakui dan disadari.</p>
<p>Bagian penting dari pengakuan ini adalah bagaimana menerangkan latar belakang mengapa tuntutan integrasi harus dipenuhi. Secara historis, identitas Jerman dibentuk tidak saja oleh bahasa dan budaya Jerman, tapi juga oleh agama Kristen. Setiap orang yang budayanya tidak sesuai dengan parameter-parameter ini dianggap sebagai orang asing. Kelompok yang terkena dampak paling menyakitkan dari eksklusionisme ini adalah orang Yahudi. Perjuangan yang berujung tragis bagi orang Yahudi untuk bisa diterima oleh masyarakat Jerman, semua orang tahu.</p>
<p>Kini Jerman adalah negara demokrasi yang liberal. Karena itu, membandingkan yang terjadi sekarang di Jerman berkaitan dengan Muslim sebagai serupa dengan Holocaust dan Xenofobia [kebencian terhadap orang asing], tidak hanya merupakan penghinaan terhadap para korban pembantaian massal Nazi, tapi juga menunjukkan ketidakpedulian dan pengabaian terhadap capaian-capaian demokrasi Republik Federal Jerman sejak 1945.</p>
<p>Namun, citra diri yang tertanam dalam sejarah dari masyarakat Jerman tetap ada dan menjadi beban bagi integrasi kaum imigran dan anak-anak mereka. Ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah celaan &#8211;karena sama mustahilnya untuk memaksakan identitas nasional supra-etnis dari atas, entah di Jerman ataupun di negara lain&#8211; tapi kita didesak untuk menemukan suatu model koeksistensi yang lebih baik.</p>
<p>Bagi mayoritas, tugas pentingnya adalah menyebarkan pengetahuan tentang Islam, dan terus menanamkan sikap menghargai dan toleran kepada orang lain. Saya berani bertaruh bahwa sebagian besar orang Jerman tidaklah akrab dengan fakta-fakta dasar tentang Islam dan budaya Muslim.</p>
<p>Dalam debat-debat tentang Islam, misalnya, Tuhan biasanya disebut dalam bahasa Arabnya, “Allah” &#8211;yang menimbulkan persepsi adanya Tuhan yang berbeda, yang lebih kejam dan keras hati ketimbang “Tuhan yang Maha Kasih” dalam Kristen. Dan berapa banyak orang Jerman tahu tentang fikih dan ajaran sosial Islam, atau kewajiban untuk berderma?</p>
<p>Karena itu, pandangan yang lebih berimbang tentang agama dan peradaban Islam sangatlah penting untuk disampaikan kepada warga Jerman secara lebih luas. Selama ini tidak dilakukan, atau tidak berjalan dengan memadai, prasangka akan tetap berkembang.</p>
<p>Ini bukan tugas mudah. Membutuhkan dibuatnya bahan ajar untuk sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga lain, pendidikan guru, waktu yang panjang dan, tentu, dana, yang selalu dirasa tidak cukup. Dan hal ini tidak selalu populer secara politik&#8211;orang-orang enggan menghilangkan prasangka lama mereka, dan karena itu menghindar untuk terlibat dalam tema-tema yang tak mereka sukai.</p>
<p>Namun, tanpa upaya pencerahan menyeluruh di tingkat pemerintah federal, negara bagian dan kota, “islamofobia” dan kebencian terhadap Muslim akan terus menyebar. Ini bukan hanya tidak bermoral, bahkan mendorong perpecahan dan menegaskan kecenderungan sebagian strata sosial Muslim untuk membentuk masyarakat tersendiri.</p>
<p>Sebenarnya, apa pun bentuk kekerasan yang bermotif agama, entah ditujukan pada Muslim lain atau non-Muslim, harus diperangi. Dalam proses itu, Muslim Jerman yang taat hukum dan mendukung demokrasi yang sebenarnya mayoritas harus bahu membahu dengan mayoritas penduduk yang taat hukum dan mendukung demokrasi di Jerman.<br />
Dalam masyarakat yang bebas, para demokrat harusnya menjauhkan diri dari orang-orang yang anti-demokrasi &#8211;bukan dari orang Muslim, Kristen, atau Yahudi. Karena itu, para pemimpin komunitas Muslim &#8211;politisi, ulama, aktivis masyarakat, penulis dan yang lain&#8211; kini, seperti sebelumnya, diseru untuk dengan tegas menjauhkan diri dari para ekstremis dalam segenap cara. Semakin mantap mereka melakukan itu, semakin mereka memberi sumbangsih pada integrasi kaum Muslim.</p>
<p>Kita harus melakukan hal itu tidak hanya dengan kepala kita, tapi juga dengan hati kita, sesuai dengan Komandemen Ketiga Injil [Kitab Imamat 19:18]: “Cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri.” Inilah satu-satunya cara memastikan masa depan bersama demi kebaikan negeri kita. « <strong>[]</strong></p>
<p>*] Stephan J. Kramer adalah Sekretaris Jenderal Dewan Pusat Yahudi Jerman. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground [CGNews] seizin Qantara.de.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Qantara.de, 19 Februari 2010, <a href="www.qantara.de ">www.qantara.de </a></p>
<p>Untuk membaca artikel secara utuh dapat dilihat di <a href="www.commongroundnews.org">www.commongroundnews.org</a></p>
<p>ALiF telah melakukan pengeditan seperlunya pada artikel ini tanpa mengubah isi cerita. Telah memperoleh izin publikasi.</p>
<p><strong>Foto:</strong> google.com</p>

<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fwww.alifmagz.com%2F2010%2F03%2F09%2Fdi-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman%2F" layout="button_count" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
<p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.alifmagz.com%2F2010%2F03%2F09%2Fdi-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman%2F&amp;linkname=Di%20Balik%20Debat%20tentang%20Integrasi%20Muslim%20di%20Jerman" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.alifmagz.com/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/google_gmail?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.alifmagz.com%2F2010%2F03%2F09%2Fdi-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman%2F&amp;linkname=Di%20Balik%20Debat%20tentang%20Integrasi%20Muslim%20di%20Jerman" title="Google Gmail" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.alifmagz.com/wp-content/plugins/add-to-any/icons/gmail.png" width="16" height="16" alt="Google Gmail"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/google_buzz?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.alifmagz.com%2F2010%2F03%2F09%2Fdi-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman%2F&amp;linkname=Di%20Balik%20Debat%20tentang%20Integrasi%20Muslim%20di%20Jerman" title="Google Buzz" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.alifmagz.com/wp-content/plugins/add-to-any/icons/google_buzz.png" width="16" height="16" alt="Google Buzz"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.alifmagz.com%2F2010%2F03%2F09%2Fdi-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman%2F&amp;linkname=Di%20Balik%20Debat%20tentang%20Integrasi%20Muslim%20di%20Jerman" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.alifmagz.com/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/yahoo_messenger?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.alifmagz.com%2F2010%2F03%2F09%2Fdi-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman%2F&amp;linkname=Di%20Balik%20Debat%20tentang%20Integrasi%20Muslim%20di%20Jerman" title="Yahoo Messenger" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.alifmagz.com/wp-content/plugins/add-to-any/icons/yim.png" width="16" height="16" alt="Yahoo Messenger"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.alifmagz.com%2F2010%2F03%2F09%2Fdi-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman%2F&amp;linkname=Di%20Balik%20Debat%20tentang%20Integrasi%20Muslim%20di%20Jerman">Share</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/2010/03/09/di-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
