<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; jerman</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/jerman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 12:25:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Pemain Muslim Piala Dunia 2010 (Dari Jerman)</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/pemain-muslim-piala-dunia-2010-dari-jerman/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/pemain-muslim-piala-dunia-2010-dari-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 02:06:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agushery</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=9542</guid>
		<description><![CDATA[Ada tiga pemain muslim yang masuk skuad tim nasional Jerman dalam ajang Piala Dunia 2010 ini. Mereka adalah Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Serdar Tasci. Jerman akhirnya lolos ke putaran kedua Piala Dunia 2010, di Afrika Selatan. Tim panser ini akan bertemu musuh bebuyutannya, Inggris. Dalam pertandingan ini, Jerman banyak dijagokan karena kekompakan timnya. Ya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ada</strong><strong> tiga pemain muslim yang masuk skuad tim nasional Jerman dalam ajang Piala Dunia 2010 ini. Mereka adalah Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Serdar Tasci.</strong></p>
<p>Jerman akhirnya lolos ke putaran kedua Piala Dunia 2010, di Afrika Selatan. Tim panser ini akan bertemu musuh bebuyutannya, Inggris. Dalam pertandingan ini, Jerman banyak dijagokan karena kekompakan timnya. Ya, jerman termasuk tim paling kompak sekaligus unik. Maklum, para pemainnya rata-rata multikultural alias campuran dari berbagai bangsa keturunan yang memilih sebagai warga Jerman, di antaranya adalah Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Serdar Tasci. Menariknya, ketiga pemain ini adalah muslim.<span id="more-9542"></span></p>
<p><strong>Sami Khedira </strong></p>
<p><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/samikhedira.png"><img class="alignleft size-full wp-image-9543" style="margin: 5px;" title="samikhedira" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/samikhedira.png" alt="" width="126" height="168" /></a>Sami Khedira adalah pemain keturunan Tunisia. Sebagai pemain tengah di tim nasional dan klub Stuttgart, Khedira dikenal sebagai pemain santun. Pemain berambut gondrong kelahiran 4 April 1987 ini beragama Islam sejak lahir karena orangtuanya berbangsa Tunisia yang mayoritas penduduknya muslim. Sebagai pemain muslim di tim sepakbola, Khedira bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Dia tidak merasa canggung di tengah para pemain yang rata-rata nonmuslim. Bahkan di tim nasional, dia percaya diri bisa menggantikan peran Michael Ballack sebagai gelandang andalan. “Dia pemain potensial dan telah diberi tangguh jawab penuh oleh Stuttgart. Dia juga memperlihatkan diri sebagai pemain dewasa,” ujar pelatih Jerman Joachim low.</p>
<p>Sejak kecil, Khedira memang pencinta sepakbola. Tak heran berkat kecintaan dan ketekunannya mengolah Si kulit bundar, Khedira bisa masuk tim nasional jerman U 15 sejak dia beranjak remaja. Kecintaanya pada dunia sepakbola ini tak lepas juga dari kehidupan spiritualnya yang selalu terjaga karena didikan orang tuanya. Kalau Ramadhan tiba, Khedira selalu berusaha untuk tetap berpuasa selama menjalani kompetisi Budensliga di Jerman.</p>
<p><strong>Mesut Oezil</strong></p>
<p><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/MesutOEZIL.png"><img class="alignleft size-full wp-image-9544" style="margin: 5px;" title="MesutOEZIL" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/MesutOEZIL.png" alt="" width="126" height="168" /></a>Mesut Oezil  lebih terlihat seperti orang Arab ketimbang Jerman. Ya, memang Oezil adalah pemain Werder Bremen keturunan Turki. Dari kecil, Oezil dididik orangtuanya sebagai muslim. Namun dalam hal berpuasa, khususnya di Bulan Ramadhan, Oezil jarang sekali menuaikannya, tapi dia menggantikannya dengan zakat. “Waktu remaja saya pernah mencoba berpuasa saat sering berolahraga, tapi ternyata <em>&#8216;nggak</em> kuat. Saya sering lelah dan pusing,” kata pemain kelahiran 15 Oktober 1988 ini.</p>
<p>Meskipun Ramadhan jarang berpuasa, Oezil tak pernah lupa berdoa sesuai ajaran Islam jika akan memasuki lapangan. Di sela waktu luangnya, dia pun selalu belajar al-Qur’an dan ilmu agama Islam. Kini di tim nasional Jerman, Oezil merasa lebih percaya diri karena Khedira pun sama-sama berposisi sebagai gelandang seperti dirinya.</p>
<p><strong>Serdar Tasci</strong></p>
<p><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/serdartasci.png"><img class="alignleft size-full wp-image-9545" style="margin: 5px;" title="serdartasci" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/serdartasci.png" alt="" width="126" height="168" /></a>Serdar Tasci sama seperti Mesut Oezil. Dia adalah pemain nasional Jerman keturunan Turki. Pemain belakang dari klub Stuttgart ini dikenal sebagai muslim ketika 7 juta lebih pemirsa di Stuttgart menyaksikan dia berdoa di pinggir lapangan seperti muslim pada umumnya. Tak jarang pula, dia selalu bersujud kalau klubnya mendapat kemenangan. “Aku berdoa karena ingin tetap sehat dalam bermain dan timku bisa menghadapi tantangan dengan sukses,” kata Tasci.</p>
<p>Dalam soal puasa, Tasci mengaku beberapa kali absen karena padatnya pertandingan. Tapi dia tahu hukumnya kalau puasanya bisa diganti dengan yang lain. “Aku bisa mengganti puasaku pada hari-hari libur dari pertandingan. Keluargaku sudah mengerti akan hal ini.” Ujar Tasci. Pemain tampan kelahiran 24 April 1987 ini memang bukan pemain inti tim nasional Jerman, seperti Khedira dan Ozil. Tapi, kontribusinya sebagai benteng pertahanan tim, Tasci masih berpeluang banyak untuk kompetisi berikutnya. <strong>(yogira/www.qantara.de/www.bild.de/berbagai sumber)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/pemain-muslim-piala-dunia-2010-dari-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penzberg, Masjid Minimalis di Jerman</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/penzberg-masjid-minimalis-di-jerman/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/penzberg-masjid-minimalis-di-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 03:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agushery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=9533</guid>
		<description><![CDATA[Jerman ternyata memiliki masjid unik minimalis yang memenangkan penghargaan gedung terbaik. Penzberg adalah sebuah kota yang terletak di distrik Weilheim Schongau di Bayern, Jerman dengan penduduk sebanyak 16.126 jiwa di tahun 2006. Kota di dekat pegunungan Alpen ini ternyata memiliki masjid yang berbentuk unik kebanggaan warga Penzberg yang disebut masjid Penzberg. Tak heran jika masjid [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jerman ternyata memiliki masjid unik minimalis yang memenangkan penghargaan gedung terbaik.</strong></p>
<p>Penzberg adalah sebuah kota yang terletak di distrik Weilheim Schongau di Bayern, Jerman dengan penduduk sebanyak 16.126 jiwa di tahun 2006.  Kota di dekat pegunungan Alpen ini ternyata memiliki masjid yang berbentuk unik kebanggaan warga Penzberg yang disebut masjid Penzberg.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/Penzberg%20Mosque%2010.jpg"></a><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/masjidpensberg.jpg"><img class="size-full wp-image-9536  aligncenter" title="masjidpensberg" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/masjidpensberg.jpg" alt="" width="480" height="318" /></a></p>
<p>Tak heran jika masjid ini cukup dikenal dan dicintai warga Jerman.  Karena masjid ini memenangkan penghargaan gedung terbaik di Bavaria pada tahun 2008.  Suatu kesempatan yang sangat jarang terjadi di Jerman, mengingat negara tersebut masih sering terjadi diskriminasi terhadap ras dan agama lain di luar jerman, didasari dengan rasa kebanggaan yang berlebihan terhadap ras Jerman (chauvinism).</p>
<p>Tentu saja penghargaan yang digagas para arsitek senior tersebut membanggakan warga muslim sekaligus warga Penzberg.  Namun masjid yang didisain oleh seorang arsitek muslim dari Bosnia, Alen Jasarevic ini memang layak diacungi jempol.  Dibangun tahun 2005, bentuk masjid ini memang unik dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/penzberg1.jpg"><img class="size-full wp-image-9537  aligncenter" title="penzberg1" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/penzberg1.jpg" alt="" width="275" height="183" /></a></p>
<p>Bangunan masjid ini dibuat seperti kotak persegi empat. Sederhana tapi sangat artistik.  Dihiasi dinding kaca berwarna biru pada kolom depan membuat orang yang memperhatikan dari dekat dapat melihat jajaran umat yang sedang shalat di dalamnya.  Sedangkan dari dalam pemandangan pegunungan Alpen menjadi tampak spektakuler dari dalam masjid.</p>
<p>Masjid ini cukup lebar, dengan ruang shalat yang luas, perpustakaan yang besar dan dua ruang kelas di dalamnya.  Di dalamnya ada sebuah tangga terbuka menuju galeri di lantai dua yang menjadi tempat shalat untuk jemaah perempuan.  Cahaya dari luar menembus kaca dan membiaskan cahaya yang sangat indah di dalam gedung pada siang hari, memantul pada kaligrafi yang memuat 99 asma Allah.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/penzberg2.jpg"><img class="size-full wp-image-9538  aligncenter" title="penzberg2" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/penzberg2.jpg" alt="" width="275" height="184" /></a></p>
<p>Masjid ini terbuka untuk umum dan telah dikunjungi oleh lebih dari 15.000 penduduk Jerman sejak dibukanya.  Pandangan mereka terhadap keberadaan masjid ini sangat positif, terutama pada sikap pengurus masjid yang terbuka terhadap keingintahuan warga Jerman terhadap Islam.  “Kami kagum dengan atmosfir spiritual yang terasa di dalam Masjid,” tulis beberapa warga Jerman di buku tamu.  Hal ini sesuai dengan harapan warga muslim di Jerman agar masjid unik ini menjadi wadah untuk menjalin persahabatan dengan warga Jerman non muslim.[Esthi]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/penzberg-masjid-minimalis-di-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Debat tentang Integrasi Muslim di Jerman</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/di-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/di-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 07:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[integrasi]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7584</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Stephan J. Kramer *] Bonn, Jerman – Hubungan antara penduduk mayoritas Jerman dan warga Muslim di sana menjadi salah satu topik terpenting dalam debat publik di Jerman sekarang, dan menjadi diskusi yang sering berujung pertikaian. Satu pihak menuduh para imigran Muslim memang tidak ingin berasimilasi dengan masyarakat Jerman, sedangkan pihak lain menuduh mayoritas orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-7585" style="margin: 5px 7px;" title="islam_jerman_ed49" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/islam_jerman_ed49.jpg" alt="islam_jerman_ed49" width="300" height="168" />Oleh </strong>Stephan J. Kramer *]</p>
<p><strong>Bonn, Jerman</strong> – Hubungan antara penduduk mayoritas Jerman dan warga Muslim di sana menjadi salah satu topik terpenting dalam debat publik di Jerman sekarang, dan menjadi diskusi yang sering berujung pertikaian.</p>
<p>Satu pihak menuduh para imigran Muslim memang tidak ingin berasimilasi dengan masyarakat Jerman, sedangkan pihak lain menuduh mayoritas orang Jerman membenci Islam dan mencoba menyingkirkan warga Muslim dari kehidupan publik di negara ini.</p>
<p>Kenyataan sebenarnya jauh lebih pelik dari itu, dan kepelikan ini harus diakui dan disadari.</p>
<p>Bagian penting dari pengakuan ini adalah bagaimana menerangkan latar belakang mengapa tuntutan integrasi harus dipenuhi. Secara historis, identitas Jerman dibentuk tidak saja oleh bahasa dan budaya Jerman, tapi juga oleh agama Kristen. Setiap orang yang budayanya tidak sesuai dengan parameter-parameter ini dianggap sebagai orang asing. Kelompok yang terkena dampak paling menyakitkan dari eksklusionisme ini adalah orang Yahudi. Perjuangan yang berujung tragis bagi orang Yahudi untuk bisa diterima oleh masyarakat Jerman, semua orang tahu.</p>
<p>Kini Jerman adalah negara demokrasi yang liberal. Karena itu, membandingkan yang terjadi sekarang di Jerman berkaitan dengan Muslim sebagai serupa dengan Holocaust dan Xenofobia [kebencian terhadap orang asing], tidak hanya merupakan penghinaan terhadap para korban pembantaian massal Nazi, tapi juga menunjukkan ketidakpedulian dan pengabaian terhadap capaian-capaian demokrasi Republik Federal Jerman sejak 1945.</p>
<p>Namun, citra diri yang tertanam dalam sejarah dari masyarakat Jerman tetap ada dan menjadi beban bagi integrasi kaum imigran dan anak-anak mereka. Ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah celaan &#8211;karena sama mustahilnya untuk memaksakan identitas nasional supra-etnis dari atas, entah di Jerman ataupun di negara lain&#8211; tapi kita didesak untuk menemukan suatu model koeksistensi yang lebih baik.</p>
<p>Bagi mayoritas, tugas pentingnya adalah menyebarkan pengetahuan tentang Islam, dan terus menanamkan sikap menghargai dan toleran kepada orang lain. Saya berani bertaruh bahwa sebagian besar orang Jerman tidaklah akrab dengan fakta-fakta dasar tentang Islam dan budaya Muslim.</p>
<p>Dalam debat-debat tentang Islam, misalnya, Tuhan biasanya disebut dalam bahasa Arabnya, “Allah” &#8211;yang menimbulkan persepsi adanya Tuhan yang berbeda, yang lebih kejam dan keras hati ketimbang “Tuhan yang Maha Kasih” dalam Kristen. Dan berapa banyak orang Jerman tahu tentang fikih dan ajaran sosial Islam, atau kewajiban untuk berderma?</p>
<p>Karena itu, pandangan yang lebih berimbang tentang agama dan peradaban Islam sangatlah penting untuk disampaikan kepada warga Jerman secara lebih luas. Selama ini tidak dilakukan, atau tidak berjalan dengan memadai, prasangka akan tetap berkembang.</p>
<p>Ini bukan tugas mudah. Membutuhkan dibuatnya bahan ajar untuk sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga lain, pendidikan guru, waktu yang panjang dan, tentu, dana, yang selalu dirasa tidak cukup. Dan hal ini tidak selalu populer secara politik&#8211;orang-orang enggan menghilangkan prasangka lama mereka, dan karena itu menghindar untuk terlibat dalam tema-tema yang tak mereka sukai.</p>
<p>Namun, tanpa upaya pencerahan menyeluruh di tingkat pemerintah federal, negara bagian dan kota, “islamofobia” dan kebencian terhadap Muslim akan terus menyebar. Ini bukan hanya tidak bermoral, bahkan mendorong perpecahan dan menegaskan kecenderungan sebagian strata sosial Muslim untuk membentuk masyarakat tersendiri.</p>
<p>Sebenarnya, apa pun bentuk kekerasan yang bermotif agama, entah ditujukan pada Muslim lain atau non-Muslim, harus diperangi. Dalam proses itu, Muslim Jerman yang taat hukum dan mendukung demokrasi yang sebenarnya mayoritas harus bahu membahu dengan mayoritas penduduk yang taat hukum dan mendukung demokrasi di Jerman.<br />
Dalam masyarakat yang bebas, para demokrat harusnya menjauhkan diri dari orang-orang yang anti-demokrasi &#8211;bukan dari orang Muslim, Kristen, atau Yahudi. Karena itu, para pemimpin komunitas Muslim &#8211;politisi, ulama, aktivis masyarakat, penulis dan yang lain&#8211; kini, seperti sebelumnya, diseru untuk dengan tegas menjauhkan diri dari para ekstremis dalam segenap cara. Semakin mantap mereka melakukan itu, semakin mereka memberi sumbangsih pada integrasi kaum Muslim.</p>
<p>Kita harus melakukan hal itu tidak hanya dengan kepala kita, tapi juga dengan hati kita, sesuai dengan Komandemen Ketiga Injil [Kitab Imamat 19:18]: “Cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri.” Inilah satu-satunya cara memastikan masa depan bersama demi kebaikan negeri kita. « <strong>[]</strong></p>
<p>*] Stephan J. Kramer adalah Sekretaris Jenderal Dewan Pusat Yahudi Jerman. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground [CGNews] seizin Qantara.de.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Qantara.de, 19 Februari 2010, <a href="www.qantara.de ">www.qantara.de </a></p>
<p>Untuk membaca artikel secara utuh dapat dilihat di <a href="www.commongroundnews.org">www.commongroundnews.org</a></p>
<p>ALiF telah melakukan pengeditan seperlunya pada artikel ini tanpa mengubah isi cerita. Telah memperoleh izin publikasi.</p>
<p><strong>Foto:</strong> google.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/di-balik-debat-tentang-integrasi-muslim-di-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

