<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; keadilan</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/keadilan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 13:14:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Quote 10 Januari 2012</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/quote-10-januari-2012/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/quote-10-januari-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 11:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[kebencian]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=15939</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan, kebencian, dan permusuhan tidak seharusnya menyebabkan ketidakadilan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perbedaan, kebencian, dan permusuhan tidak seharusnya menyebabkan ketidakadilan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/quote-10-januari-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan Anak Nilai-nilai Dasar</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/mengajarkan-anak-nilai-nilai-dasar/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/mengajarkan-anak-nilai-nilai-dasar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 14:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mawaddah]]></category>
		<category><![CDATA[integrasi]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[nilai-nilai]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=15158</guid>
		<description><![CDATA[Mengajarkan nilai-nilai dasar pada anak memberikan berbagai keuntungan bagi anak itu sendiri.  Karenanya, mulailah untuk memperkenalkan hal ini sejak dini. Semua orang tua pasti ingin memiliki anak yang jujur, memiliki tekad yang tinggi, baik hati, penuh toleransi dan sebagainya.  Namun semua itu tidak akan muncul begitu saja tanpa diajarkan oleh kedua orang tuanya. Baru-baru ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Mengajarkan nilai-nilai dasar pada anak memberikan berbagai keuntungan bagi anak itu sendiri.  Karenanya, mulailah untuk memperkenalkan hal ini sejak dini.</em></strong></p>
<p>Semua orang tua pasti ingin memiliki anak yang jujur, memiliki tekad yang tinggi, baik hati, penuh toleransi dan sebagainya.  Namun semua itu tidak akan muncul begitu saja tanpa diajarkan oleh kedua orang tuanya.</p>
<p>Baru-baru ini dilakukan sebuah survey di Amerika.  Ternyata, lebih dari 6 di antara 10 orang dewasa, diidentifikasi sebagai orang yang memiliki masalah atau orang yang gagal dalam mempelajari nilai-nilai moral dasar, seperti kejujuran, penghargaan, dan tanggung jawab pada orang lain.  Tentu saja penemuan ini cukup mengguncang masyarakat di sana.</p>
<p>Bagaimana dengan kita?  Sebelum hal itu terjadi pada kita, sebaiknya kita mulai mengajarkan nilai-nilai pada si kecil sedini mungkin.  Karena menurut para ahli, anak mulai memahami beberapa nilai dasar saat usianya menginjak 4 tahun.  Misalnya, mereka mulai mengetahui bahwa mereka harus menghargai teman dan tidak boleh menyakitinya, atau mencuri itu dilarang, dan sebagainya.</p>
<p>Beberapa keuntungan dari mengajarkan nilai-nilai dasar pada anak sejak dini, antara lain:</p>
<ul>
<li>Dengan mengajarkan nilai-nilai dasar pada anak, maka nilai-nilai itu akan terintegrasi dalam dirinya dan menjadi bagian dari identitas dirinya sejak usia yang masih sangat dini.</li>
<li>Mengajarkan nilai-nilai pada anak sejak usia dini akan melindungi anak dari emosi negatif yang muncul akibat perlakuan jelek dari teman-temannya.  Karena anak memiliki parameter mana yang dianggap benar dan yang tidak.</li>
<li>Memberikan anak ‘pegangan’ dalam bertindak ketika harus menemui berbagai permasalahan atau dilema dengan teman-temannya.  Misalnya saat semua temannya mengolok-olok teman lainnya yang cacat, maka ia tahu apa yang lebih baik untuk dilakukan.</li>
<li>Memberi kekuatan pada si kecil untuk berkembang dan menjadi pribadi yang matang.</li>
</ul>
<p>Beberapa contoh nilai dasar yang dapat diajarkan pada mereka, antara lain:</p>
<p><strong>Kejujuran</strong></p>
<p>Cara paling manjur untuk mengajarkan si kecil kejujuran adalah memberi teladan dengan menjadi orang tua yang jujur terlebih dahulu.  Jika orang tua sering tanpa sadar berbohong di depan anak, walaupun hanya sekedar bohong ‘putih’ untuk membela diri atau untuk maksud-maksud tertentu, maka anak pun akan mengikuti cara yang sama.</p>
<p>Selain itu, bertindaklah sewajarnya saat menemukan anak berbohong.  Bisa saja mereka melakukan itu karena takut untuk berkata jujur pada Anda, disebabkan reaksi Anda yang selalu berlebihan dalam menghadapi hal serupa. Hargai anak jika mereka mau berkata jujur, namun biarkan mereka tetap menanggung konsekuensi dari apapun yang mereka lakukan.  Misalnya jika si kecil memecahkan pot bunga.  Hargai kejujurannya, namun tetaplah minta dirinya untuk membantu Anda membersihkan pecahan pot tersebut.</p>
<p><strong>Keadilan, keseimbangan</strong></p>
<p>Anak dapat belajar bagaimana berlaku adil pada orang-orang di sekelilingnya lewat pengalaman mereka dalam memperbaiki kesalahan.  Misalnya saat anak merasakan iri karena istana pasir yang dibangun kakaknya lebih besar dari yang dibangunnya, sehingga ia menghancurkannya.  Selain minta maaf dan menjelaskan mengapa ia melakukan itu, maka sebaiknya anak juga diajarkan bagaimana membantu si kakak membangun kembali istana pasirnya.  Dengan begitu kakak dan adik belajar bagaimana menghadapi konsekuensi dari semua perbuatan yang mereka lakukan dan belajar memperbaiki kesalahan secara adil dan seimbang.</p>
<p><strong>Tekad yang kuat</strong></p>
<p>Anak dapat dilatih untuk memiliki tekad yang kuat dengan menghindari pujian yang terlalu berlebihan terhadap apapun yang dilakukan.  Beri saja ia masukan yang jujur dan apa adanya, yang disampaikan dengan halus namun memberikan semangat.  Misalnya: ‘Ibu suka sekali  warna-warna yang kau pilih pada gambarmu.  Mungkin kalau kamu menggambar lebih rapi lagi,  gambarmu akan terlihat lebih bagus.’  Selain itu anak juga harus belajar untuk memiliki inisiatif untuk melakukan berbagai hal.</p>
<p><strong>Toleransi</strong></p>
<p>Ajarkan anak untuk memikirkan dan merasakan perasaan orang lain.  Terutama jika mereka melakukan hal-hal yang merugikan atau menyakitkan orang lain atau temannya.  Diskusikan hal ini dan mintalah ia untuk memperbaiki tindakannya dengan meminta maaf pada orang yang telah dirugikan atau disakiti. [esthi]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/mengajarkan-anak-nilai-nilai-dasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perangi Kemiskinan, Gapai Keadilan Sosial</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/perangi-kemiskinan-gapai-keadilan-sosial/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/perangi-kemiskinan-gapai-keadilan-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 18:42:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=14445</guid>
		<description><![CDATA[Pada bulan Desember 1992, Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia (International Day for the Eradication of Poverty).  Tanggal 17 Oktober dipilih, karena pada tanggal tersebut, tahun 1987, 100.000 orang berkumpul di Trocadéro, Paris, Prancis, tempat di mana Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada bulan Desember 1992, Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia (<em>International Day for the Eradication of Poverty</em>).  Tanggal 17 Oktober dipilih, karena pada tanggal tersebut, tahun 1987, 100.000 orang berkumpul di <em>Trocadéro</em>, Paris, Prancis, tempat di mana Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (<em>Universal Declaration of Human Rights</em>) ditandatangani.  Mereka berkumpul untuk menghormati korban kemiskinan luar biasa, kelaparan, kekerasan, dan ketakutan.  Sejak saat itu, orang dan organisasi dari berbagai belahan dunia berkumpul setiap tanggal 17 Oktober dan memanfaatkan momen tersebut untuk memperbaharui komitmen mereka dalam usaha untuk memberantas kemiskinan, sampai akhirnya diresmikan oleh PBB.</p>
<p>Hak asasi manusia, yang tercantum dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia serta deklarasi dan perjanjian internasional tentang hak asasi manusia lainnya, mencakup hak untuk kehidupan yang layak, di mana kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, pelayanan kesehatan dan sosial, bisa didapatkan dan terpenuhi dengan baik. Karenanya, kemiskinan merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia tersebut.  Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk memastikan hak-hak ini terpenuhi dan tidak ada lagi orang-orang yang terabaikan dalam keadaan sakit, susah, teraniaya, kelaparan dan ketakutan.</p>
<p>Islam juga mengajarkan kita untuk mengasihi anak yatim dan fakir miskin, membantu orang-orang yang berada dalam kesulitan serta meringankan beban orang lain semampu kita. Seperti sabda Rasulullah saw.:</p>
<p><em>Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><em>Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat.</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia diperingati setiap tahunnya untuk mengingatkan kita akan keberadaan orang-orang yang menjadi korban kemiskinan yang mengerikan, orang-orang yang tertinggal, tertindas dan belum mampu untuk membebaskan diri mereka dari keadaan karena berbagai keterbatasan yang ada, serta meningkatkan kesadaran untuk membantu mereka. Mereka perlu didengar kemudian dibantu untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Sesuai tema Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia 2011 ini, “<em>Only A Development That Includes Everyone Is Sustainable</em>”, hanya usaha perbaikan dan pengembangan yang melibatkan semua pihak, termasuk orang-orang yang mengalami kemiskinan itu sendiri <em>lah</em>, yang dapat terus bertahan, berkelanjutan, dan membuahkan hasil yang maksimal.</p>
<p>Kesulitan dan ketertinggalan yang dialami oleh orang-orang yang tenggelam dalam kemiskinan ini mungkin kadang sulit untuk kita bayangkan. Kita dapat menggunakan momen ini untuk berusaha lebih peduli terhadap penderitaan mereka. Melihat lebih jauh dengan mata hati bagaimana mereka sungguh membutuhkan pertolongan kita, untuk menjadi lebih berdaya, untuk memiliki lebih banyak pilihan dan kesejahteraan hidup, seperti yang kita nikmati saat ini.</p>
<p><em>Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.</em> (QS. Al-Maa’un: 1-3). [aca]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/perangi-kemiskinan-gapai-keadilan-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quote 12 Maret</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/quote-12-maret/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/quote-12-maret/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 22:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[kedurjanaan]]></category>
		<category><![CDATA[quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7595</guid>
		<description><![CDATA[Kedurjanaan mungkin akan menang di satu babak, tetapi keadilan akan menang selama-lamanya. « [Hikmah]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kedurjanaan mungkin akan menang di satu babak, tetapi keadilan akan menang selama-lamanya. «<strong> [Hikmah]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/quote-12-maret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benteng Keadilan</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/benteng-keadilan/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/benteng-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 22:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Harian]]></category>
		<category><![CDATA[benteng]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=6620</guid>
		<description><![CDATA[Salah seoarang gubernur menulis surat kepada Khalifah Umar untuk meminta izin mendirikan benteng di kotanya. Khalifah Umar menjawab surat itu dengan menulis: “Bentengilah kotamu dengan keadilan dan bersihkan jalannya dari penindasan.” « []]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah seoarang gubernur menulis surat kepada Khalifah Umar untuk meminta izin mendirikan benteng di kotanya. Khalifah Umar menjawab surat itu dengan menulis: “Bentengilah kotamu dengan keadilan dan bersihkan jalannya dari penindasan.” « <strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/benteng-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskriminasi di Hotel Prodeo</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/diskriminasi-di-hotel-prodeo/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/diskriminasi-di-hotel-prodeo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 22:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[arthalytha]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[mafia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=6403</guid>
		<description><![CDATA[Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum berhasil menguak perlakuan istimewa terhadap sejumlah narapidana di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Minggu malam [10/01/09]. Inspeksi oleh satgas negara ini sungguh mengejutkan sekaligus mencederai hukum dan keadilan di negeri tercinta ini. Hotel berbintang senantiasa menyuguhkan citra kenyamanan [hospitality] dan hiburan [entertainment]. Siapa pun pasti mau tinggal di hotel seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-6409" style="margin: 5px 7px;" title="utama_penjara_ed41" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/01/utama_penjara_ed41.jpg" alt="utama_penjara_ed41" width="300" height="176" />Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum berhasil menguak perlakuan istimewa terhadap sejumlah narapidana di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Minggu malam [10/01/09]. Inspeksi oleh satgas negara ini sungguh mengejutkan sekaligus mencederai hukum dan keadilan di negeri tercinta ini.</strong></p>
<p>Hotel berbintang senantiasa menyuguhkan citra kenyamanan [<em>hospitality</em>] dan hiburan [<em>entertainment</em>]. Siapa pun pasti mau tinggal di hotel seperti ini, terutama para kaum papa yang terpaksa tinggal di rumah kardus atau di kolong-kolong jembatan. Bahkan, mungkin mereka sangat bersyukur, setidaknya bisa menikmati tempat tinggal dengan fasilitas secukupnya. Seandainya pun mereka menjadi terpidana karena sebuah kasus kriminal, lantas dipenjara, mereka mungkin sudah terbiasa tinggal di sel berukuran sempit. Apalagi kalau mereka menempati sel dengan fasilitas mewah, tentu mereka lebih betah menjadi narapidana ketimbang menjadi tuna wisma. Penjara alias hotel prodeo dengan fasilitas mewah, benar-benar bisa mereka nikmati. Namun celakanya, kalau penjaranya demikian, mungkin saja para tuna wisma berlomba-lomba ingin menjadi penjahat. <em>Na’udzubillâh</em>!</p>
<p>Lantas bagaimana dengan Artalytha Suryani, Aling, Darmawati, Ines Wulandari, dan Eri? Apakah lima terpidana ini betah menghuni Rutan Pondok Bambu meski disediakan fasilitas mewah? Kemungkinan besar mereka tetap ingin menghirup udara bebas. Toh, mereka bisa menikmati kenyamanan dan hiburan di Rutan Pondok Bambu karena kebiasaan hidup, bukan sebuah anugerah. Hal ini berbeda dengan tuna wisma. Jika kaum marginal ini mendapatkan fasilitas mewah seperti di sel Artalytha dkk, bisa jadi itu merupakan sebuah anugerah. Ini sungguh ironis. Kenyamanan di rutan sebagai hal biasa bagi Artalytha dkk, justru sangat diharapkan oleh para terpidana dari kaum papa sebagai anugerah, yang kenyataannya tidak bisa dirasakan, karena faktor lobi dan ketersediaan uang. Apakah ini merupakan indikasi bahwa hukum dan keadilan bisa ‘tunduk’ dengan kekuasaan dan materi?</p>
<p>Perlakukan hukum ‘pilih kasih’ bukanlah hal baru di Indonesia. Sebelum terkuak perlakuan istimewa terhadap Artalytha dkk, kita melihat penegak hukum seolah-olah ‘salah tingkah’ jika menghadapi kasus hukum para pejabat atau pengusaha. Misalnya, Anggodo Widjojo, yang diduga merekayasa proses hukum lewat percakapannya melalui telepon berkaitan dengan kasus dugaan penyuapan KPK. Sampai sekarang Angodo masih belum terjerat hukum. Demikian juga Anggoro Widjojo, tersangka korupsi pengadaan radio komunikasi di Departemen Kehutanan. Anggoro sampai hari ini belum terlihat batang hidungnya di pengadilan.</p>
<p>Ini berbeda dengan kasus yang menimpa Nenek Minah, yang dipidana penjara satu bulan 15 hari karena mencuri tiga butir buah kakao dan juga kasus empat pemungut kapas di Rutan Rowobelang, dan paling menarik perhatian adalah kasus Prita Mulyasari versus RS Omni. Mereka adalah orang-orang yang lemah dalam lobi hukum. Tak heran, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia [YLBHI] melaporkan bahwa tahun 2009 pemenuhan keadilan bagi masyarakat miskin dan warga negara biasa berada dalam kondisi kritis, khususnya dalam bidang penegakan hukum, pemenuhan hak asasi manusia, dan pemenuhan akses keadilan. Padahal di masa kini, sulit diterima bila sebenarnya perbedaan perlakuan pemerintah dapat dilihat dari jumlah kekayaan yang dimiliki tiap warga negara. Terlebih konstitusi kita jelas mengatur soal persamaan hak setiap warga negaradi depan hukum. [“Potret Buram Hukum 2009”, Juniardi dan Oki Hajiansyah Wahab; Harian <em>Lampung Post, </em>5 Januari 2010].</p>
<p>Mengamati berita-berita seputar keadilan dan perlakuan hukum di Indonesia belakangan ini, memunculkan banyak asumsi. Salah satu asumsinya bahwa keadilan sulit ditegakan kalau uang dan kekuasaan bisa menundukkan aparat hukum. Sebagai Muslim, tentu saja kita tidak berharap demikian. Dalam Islam, masalah suap dalam hukum adalah perbuatan tercela.</p>
<p>Perihal suap Rasulullah saw bersabda: “<em>Tidak pantas seorang petugas yang kami utus datang dan berkata, &#8216;Ini untuk Anda, sementara ini adalah hadiah yang diberikan untuk saya.&#8217; Mengapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak dan ibunya, lalu memperhatikan, apakah ia akan mendapatkan hadiah atau tidak</em>?!” [HR al-Bukhâri, Muslim, Ahmad, dan Abû Dawud].</p>
<p>Sabda Rasulullah tentang suap berkorelasi dengan penetapan hukum dan keadilan di sebuah negara, seperti yang disebutkan dalam QS an-Nisâ&#8217; [4]: 58, “<em>Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan </em>[<em>menyuruh kamu</em>] <em>apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat</em>.”</p>
<p>Ayat tersebut mengingatkan bahwa kita harus berusaha menjunjung keadilan, khususnya dalam masalah hukum, tanpa pandang bulu, tanpa melihat si kaya dan si miskin. Di Mata Allah, manusia punya derajat yang sama. Karenanya, diskriminasi dalam konteks perlakuan hukum terhadap narapidana seperti di Rutan Pondok Bambu, haruslah dipertanyakan. Ini bukan berarti, Artalytha, Aling, Darmawati, Ines, dan Eri harus dipindah ke sel dengan kondisi buruk dan memperhatinkan, melainkan negara harus menyediakan sel dengan fasilitas memadai, nyaman, dan manusiawi, yang bisa mengakomodasi semua terpidana secara adil dan prorposional, dengan menghindari peluang suap-menyuap.</p>
<p>Artalytha, Aling, Darmawati, Ines, dan Eri, begitu juga narapidana dengan kasus lainnya, seharusnya mendapat perlakuan yang sama di depan hukum. Mereka sama-sama warga negara yang memiliki fitrah dalam masalah hukum dan keadilan. Jadi, alangkah baiknya kita pun ikut berperan dalam mengkritisi penyalahgunaan hukum di negeri kita ini.</p>
<p>Adanya temuan perlakukan diskriminatif di Rutan Pondok Bambu adalah bukti menurunnya moral sebagian umat manusia jika berhadapan dengan masalah hukum. Hal ini diterangkan juga dalam hadist riwayat Bukhâri-Muslim: “<em>Hai manusia, sesungguhnya kebinasaan umat terdahulu sebelum kamu hanyalah karena mereka tidak mau menghukum kasus pencurian yang dilakukan oleh golongan terhormat. Sedangkan jika yang mencuri itu golongan rendahan</em> [<em>rakyat biasa</em>], <em>mereka melaksanakannya</em>.” «<strong> [yogira]</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;">Boks</span><br />
<strong>Apa kata Mereka<br />
Rachman, 37, pengusaha kaos asal Bandung</strong><br />
“Hukum dan peradilan segera harus dibenahi atau diganti karena dari dulu kita menggunakan hukum warisan Belanda. Dalam kasus korupsi misalnya, memang seharusnya dihukum mati agar ada efek jera. Tapi memang susah ya karena yang saya ketahui, di China saja meskipun diberlakukan hukuman mati buat para koruptor, malah kasus korupsi meningkat 10 persen. Khusus untuk kasus perlakuan istimewa Artalytha di Rutan Pondok Bambu, mungkin karena para petugas rutan tidak menikmati kesejahteraan yang cukup, maka terjadilah sogok-menyogok. Padahal mereka mengurus rutan terbilang berat karena kabarnya beberapa rutan di negeri ini kelebihan narapidana.”</p>
<p><strong>Ade Triatno, 37, pengusaha/pedagang asal Rempoa, Tangerang</strong><br />
“Melihat perlakuan terhadap narapidana di Rutan Pondok Bambu, hukum menjadi tidak <em>fair</em>. Diskriminasi lah. Harusnya ada penataan kembali hukum di negeri ini, yang sesuai dengan ketentuan yang matang. Di penjara sebenarnya kan nggak ada fasilitas-fasilitas mewah seperti yang dinikmati Artalytha.” «</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/diskriminasi-di-hotel-prodeo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

