<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; mengatur</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/mengatur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 13:14:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Pengaturan Rezeki</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/pengaturan-rezeki/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/pengaturan-rezeki/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 22:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[mengatur]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=6827</guid>
		<description><![CDATA[Friday Readers, kadang hal-hal yang berhubungan dengan rezeki membuat kita cemas. Apalagi dengan situasi yang terjadi akhir-akhir ini. Banyaknya PHK, kenaikan beberapa harga barang kebutuhan pokok, masuknya barang-barang produk China yang memukul produsen lokal, dan sebagainya membuat kita bertanya-tanya, bagaimana dengan nasib rezeki kita? Bagaimana kalau keuangan kita terkena imbasnya dan kita jatuh miskin karenanya? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-6828" style="margin: 5px 7px;" title="utama_rezeki_ed44" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/02/utama_rezeki_ed44.jpg" alt="utama_rezeki_ed44" width="300" height="290" />Friday Readers</em>, kadang hal-hal yang berhubungan dengan rezeki membuat kita cemas. Apalagi dengan situasi yang terjadi akhir-akhir ini. Banyaknya PHK, kenaikan beberapa harga barang kebutuhan pokok, masuknya barang-barang produk China yang memukul produsen lokal, dan sebagainya membuat kita bertanya-tanya, bagaimana dengan nasib rezeki kita? Bagaimana kalau keuangan kita terkena imbasnya dan kita jatuh miskin karenanya?</p>
<p>Padahal Nabi Isa as. pernah mengatakan, “Perhatikan burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar dan Tuhan menyediakan makanan bagi mereka. Kemudian pada malam hari mereka kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang.” Petunjuk ini jelas untuk memberi pemahaman pada kita bahwa Allah swt pasti tidak akan membiarkan makhluk-Nya kelaparan. “<em>Tidak ada satu </em>dabbah [<em>binatang melata</em>] <em>pun di bumi kecuali Allah yang menjamin rezekinya</em>.” [QS Hûd [11]: 6], begitu janji Allah swt.</p>
<p>Namun seperti juga burung-burung tersebut yang tidak hanya berdiam diri di sangkar menunggu datangnya ulat atau biji-bijian yang menjadi makanan mereka, mereka pun aktif mencari dengan terbang meninggalkan sarangnya di pagi hari. Manusia pun seharusnya demikian. Allah swt telah mengaruniakan nikmat sumber alam yang tidak terhingga untuk diolah dan dimanfaatkan. Kemiskinan terjadi karena keengganan manusia mengelola semua nikmat yang telah diberikan-Nya.</p>
<p>Miskin berasal dari bahasa Arab, terambil dari kata <em>sakana </em>yang berarti diam, atau tenang. Sehingga faktor utama kemiskinan adalah sikap berdiam diri, enggan atau tidak mau bergerak dan berusaha. “Jika ayahmu meninggalkanmu dalam keadaan miskin, belanjakanlah uangmu untuk membeli seekor lembu dan tanamlah gandum,” begitu kata orang bijak sebagai nasehat untuk tidak menyerah begitu saja kepada nasib.</p>
<p>Islam sangat mewajibkan umatnya untuk bekerja dan berusaha sebagai jalan untuk mendatangkan rezeki. Namun jika kita berikhtiar dan berhasil, bukan berarti kita kemudian bisa mencibir pada orang-orang miskin, dan menuduh mereka sebagai orang-orang yang tidak mau berusaha keras. Boleh jadi karena berbagai sebab, seseorang tidak mampu memperoleh kecukupan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Karenanya, jika kita telah dicukupkan, bahkan dilebihkan rezeki kita oleh Allah swt, selain tidak boleh mengakui bahwa semua itu hasil dari kerja keras kita semata, sebagian dari harta kita ada hak yang wajib diberikan untuk orang-orang miskin, baik yang meminta maupun tidak.<br />
Hidup bagaikan roda. Ada saatnya kita di atas dan diberi kecukupan rezeki, namun di saat lain bisa saja kita berada di tingkat terendah dan membutuhkan pertolongan orang lain dalam mendatangkan rezeki. Semua telah diatur dan disesuaikan dengan Sunnatullah, agar dalam perputarannya semua manusia yang hidup di dunia ini dapat ikut merasakan rahmat dan kebesaran-Nya. « <strong>[esthi] – foto: sxc</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/pengaturan-rezeki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

