<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; orangtua</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/orangtua/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 12:25:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Doa Nabi Ibrahim Memohon Ampunan Orangtua</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/doa-nabi-ibrahim-memohon-ampunan-orangtua/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/doa-nabi-ibrahim-memohon-ampunan-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 22:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa Harian]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[nabi ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8732</guid>
		<description><![CDATA[Waghfir li&#8217;abî innahû kâna minadhdhâllîn. “Dan ampuni bapakku, karena sesungguhnya ia termasuk orang yang sesat” [QS asy-Syu'arâ [26]: 86]. « []]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Waghfir li&#8217;abî inna<span style="text-decoration: underline;">h</span>û kâna minadhdhâllîn.<br />
</em></p>
<p>“Dan ampuni bapakku, karena sesungguhnya ia termasuk orang yang sesat” [QS asy-Syu'arâ [26]: 86]. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/doa-nabi-ibrahim-memohon-ampunan-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Mendoakan Kedua Orangtua</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/tentang-mendoakan-kedua-orangtua/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/tentang-mendoakan-kedua-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 22:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7705</guid>
		<description><![CDATA[T: Haruskah setiap usai shalat seorang anak mengangkat tangannya untuk mendoakan orangtuanya yang telah wafat? Apakah taat kepada Allah tidak cukup sebagai pengganti doa kepadanya? T. Loekman &#8211; Aceh M. Quraish Shihab: Allah memerintahkan seorang anak untuk menaati orangtuanya dan mensyukurinya. Ketaatan dan syukur kepada mereka digandengkan dengan ketaatan dan syukur kepada Allah. Perhatikan firman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7706" style="margin: 5px 7px;" title="now_ortu_ed49" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/now_ortu_ed49-150x150.jpg" alt="now_ortu_ed49" width="150" height="150" />T: </strong>Haruskah setiap usai shalat seorang anak mengangkat tangannya untuk mendoakan orangtuanya yang telah wafat? Apakah taat kepada Allah tidak cukup sebagai pengganti doa kepadanya?<br />
<strong>T. Loekman &#8211; Aceh</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Allah memerintahkan seorang anak untuk menaati orangtuanya dan mensyukurinya. Ketaatan dan syukur kepada mereka digandengkan dengan ketaatan dan syukur kepada Allah. Perhatikan firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Isrâ’ [17]: 23 dan surah QS Luqmân [31]: 14. Mensyukuri kedua orangtua diwajibkan karena, melalui mereka, seorang anak lahir, terpelihara, dan terdidik.<br />
Dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, diperoleh informasi bahwa ketaatan kepada Allah saja tanpa taat kepada kedua orangtua belum cukup untuk meraih keridhaan Allah. Karena itu, dengan tegas Allah menyebut kewajiban taat dan syukur kepada orangtua bergandengan dengan kewajiban taat dan syukur kepada-Nya. Dengan kata lain, ketaatan kepada Allah ditandai dengan ketaatan kepada kedua orangtua. Karena itu, Nabi Saw bersabda, “<em>Ridha Allah diperoleh melalui ridha orangtua, dan kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan orangtua</em>.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzî dari sahabat Nabi, Ibnu ‘Amr bin al-‘Ash.</p>
<p>Tentu saja, ini berlaku dalam hal-hal yang sejalan dengan petunjuk Ilahi. Sebab, jika bertentangan dengan petunjuk Allah, maka seorang anak tidak boleh menaati orangtuanya. Kendati demikian, ia tetap wajib menghormati mereka dan tidak melukai perasaan mereka, sekalipun mereka bukan Muslim.</p>
<p>Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abû Dâwûd dari Abû Usayd al-Sâ‘idî, disebutkan bahwa ada seseorang datang kepada Nabi dan bertanya, “Apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada kedua orangtua saya setelah mereka wafat?” Nabi menjawab, “<em>Ya, berdoa dan memohon ampun untuk keduanya, melaksanakan pesan-pesannya, dan menghubungkan tali kekeluargaan atau silaturahim kepada mereka yang tidak terjadi hubungan kekeluargaan tanpa keduanya, dan berbuat baik atau menghormati teman-temannya</em>.”</p>
<p>Orangtua yang telah wafat mendambakan berbagai hal itu dari putra-putrinya. Karena itu, sekali lagi, belumlah cukup bakti seorang anak kepada orangtuanya kecuali bila dia mendoakan mereka yang telah wafat mendahuluinya. Doa ini sangat penting, sehingga al-Qur’an menggarisbawahi pujian kepada mereka yang mendoakan saudarasaudaranya seiman yang telah wafat [QS al-Hasyr [59]: 10], dan menginformasikan doa Nabi kepada orangtua mereka [QS Nûh [71]: 28], serta mengingatkan bahwa doa hanya terlarang bagi mereka [termasuk orangtua] yang telah meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah [QS al-Mumtahanah [60]: 4]. Sebab, Allah telah menggariskan bahwa Dia tidak mengampuni siapa pun yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah [QS an-Nisâ’ [4]: 48].</p>
<p>Jika demikian ketetapan-Nya, maka tidaklah wajar &#8211;dan bahkan sia-sia&#8211; untuk memohonkan ampunan bagi mereka. Bahwa kelak di hari kemudian Allah berkehendak mengubah ketetapan-Nya itu berdasarkan kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya, itu adalah hak prerogatif Allah. Tidak ada satu makhluk pun berwenang ikut campur dalam urusan-Nya [QS al-Mâ’idah [5]: 118]. Perlu juga digarisbawahi bahwa, meskipun mendoakan kedua orangtua yang telah wafat adalah tuntunan Ilahi, ini tidak berarti bahwa setiap selesai shalat seorang anak harus mengangkat tangannya untuk mendoakan mereka. Yang diharapkan adalah bahwa sekurang-kurangnya dia tidak melupakan mereka. Analogikanlah batas minimal doa dengan berkunjung atau memberi mereka hadiah sewaktu mereka masih hidup. Di sisi lain, kita pun harus menyadari bahwa tidak ada batas maksimal kebaktian kepada kedua orangtua. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/tentang-mendoakan-kedua-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberi Uang Jajan</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/memberi-uang-jajan/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/memberi-uang-jajan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 05:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mawaddah]]></category>
		<category><![CDATA[jajan]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[si kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7371</guid>
		<description><![CDATA[Boleh-boleh saja memberi si kecil uang jajan, namun apa saja yang harus diperhatikan? Terkadang memberi uang jajan pada anak menjadi suatu dilema bagi orangtua. Perlukah anak yang masih kecil sudah diberi uang jajan sendiri, ataukah harus menunggu hingga mereka besar? Menurut Barbara Coloroso dalam bukunya Kids are Worth It, memberi uang jajan atau uang saku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-7372" style="margin: 5px 7px;" title="mawaddah_jajan_ed47" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/02/mawaddah_jajan_ed47.jpg" alt="mawaddah_jajan_ed47" width="247" height="300" />Boleh-boleh saja memberi si kecil uang jajan, namun apa saja yang harus diperhatikan?</strong></p>
<p>Terkadang memberi uang jajan pada anak menjadi suatu dilema bagi orangtua. Perlukah anak yang masih kecil sudah diberi uang jajan sendiri, ataukah harus menunggu hingga mereka besar? Menurut Barbara Coloroso dalam bukunya <em>Kids are Worth It</em>, memberi uang jajan atau uang saku pada anak boleh-boleh saja, karena pemberian ini sebetulnya memberi tiga manfaat bagi si kecil, antara lain: untuk mengajarkan anak bagaimana mengelola uangnya, untuk mengajarkan anak bagaimana membuat keputusan yang berhubungan dengan uangnya, dan untuk mengajarkan anak bagaimana menentukan prioritas keuangannya.</p>
<p>Namun sebaiknya orangtua mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan memberikan uang jajan, antara lain:</p>
<ul>
<li>Berapa uang yang bisa disisihkan untuk anak-anak dalam sebulan? Atau sehari?</li>
<li>Bagaimana caranya memberi pada anak-anak? Apakah harian, bulanan, atau sesuai kebutuhan?</li>
<li>Seberapa besar si kecil dapat memegang tanggungjawab akan uangnya? Tentu hal ini disesuaikan dengan jumlah yang akan Anda berikan pada mereka.</li>
<li>Apakah ada kebutuhan si kecil sehingga harus diberikan uang jajan?</li>
<li>Anda juga perlu mengawasi jajanan di sekolah si kecil. Apakah terjamin kebersihan dan kesehatannya atau tidak.</li>
<li>Jika makanan cukup memenuhi syarat, Anda perlu memperhatikan harga yang ditawarkan di kantin sekolah sehingga Anda bisa memperkirakan berapa jumlah uang yang Anda berikan pada si kecil.</li>
</ul>
<p>Selain itu, pertimbangkan juga usia si kecil. Untuk anak balita sebaiknya tahan dulu keinginan untuk memberi mereka uang jajan, karena beberapa hal, antara lain:</p>
<ul>
<li>Anak-anak ini memiliki kemampuan berhitung dan mengingat yang masih sangat terbatas.</li>
<li>Belum semua anak usia ini memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik, sehingga sebagian dari anak-anak ini akan kesulitan dalam melakukan transaksi.</li>
<li>Belum tumbuh sikap menghargai uang dan bertanggungjawab terhadap apa yang dibeli si kecil dari uang tersebut.</li>
<li>Apalagi yang terbaik bagi anak-anak ini adalah mendapatkan makanan bersih dan sehat yang Anda olah sendiri dari rumah.</li>
</ul>
<p>Namun bukan berarti si kecil tidak diajarkan mengenal uang. Mulai dari usia ini Anda dapat mengajarkannya menabung, atau sekali-sekali membayar sendiri permen serta makanan yang diinginkannya di supermarket atau di warung.</p>
<p>Sedangkan untuk anak yang lebih besar;</p>
<ul>
<li>Anda dapat memberikan uang jajan secara bertahap. Misalnya Anda dapat mengawali dengan memberikan uang jajan setiap hari Jumat. Nanti jika ia sudah dapat melakukan transaksi dengan baik, Anda dapat menambahkan secara bertahap.</li>
<li>Sebaiknya pemberian uang saku diberikan secara terjadwal. Misalnya setiap si kecil mengikuti ekstrakurikuler, seminggu sekali, dan sebagainya.</li>
<li>Dalam memberi uang jajan kepada anak, orangtua sudah pasti harus bijak. Berikan penjelasan kepada si kecil tentang cara-cara yang baik dalam menggunakan uang jajan. Ajarkan si kecil beda antara kebutuhan dan keinginan.</li>
<li>Jangan memberikan uang jajan dengan nominal yang terlalu besar. Cukupkan saja dengan apa yang menjadi kebutuhannya saat itu.</li>
<li>Jangan terlalu sering memberikan anak uang jajan, karena si kecil pun harus belajar mengendalikan dirinya.</li>
<li>Ajarkan anak apa saja yang dapat dibeli dan yang tidak. Misalnya Anda dapat mengajarkan secara sekilas sesuai dengan pemahamannya, makanan yang sehat dan tidak.</li>
<li>Ajarkan si kecil untuk menabung sebagian kecil dari uang jajannya secara berkala. Hal ini penting untuk membentuk pembiasaan mengelola uangnya sejak dini.</li>
<li>Jika si kecil sudah menunjukan rasa tanggungjawab terhadap uang dan apa yang dibelinya, Anda dapat memberikan tanggungjawab yang lebih besar. Misalnya dengan memberi uang saku mingguan, kemudian bulanan. Hal ini untuk mengajarkannya mengelola keuangannya sendiri. Ajarkan juga bahwa uang saku bukan berarti harus dihabiskan semua, namun ada bagian yang merupakan hak orang lain dan bagian yang ditabung. « <strong>[esthi] – foto: sxc</strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/memberi-uang-jajan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Telantarkan si Kecil</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/jangan-telantarkan-si-kecil/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/jangan-telantarkan-si-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 22:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[telantar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=6915</guid>
		<description><![CDATA[Kasus penelantaran anak terjadi lagi. Tiga anak balita berusia 3,9 tahun, 1,8 tahun dan 9 bulan ditelantarkan kedua orangtuanya selama delapan hari tanpa mendapatkan bekal apapun di Tanggerang. Sebelumnya empat anak usia 8 tahun hingga 4 bulan juga ditinggalkan dan ditelantarkan di rumah oleh orangtuanya di Depok selama seminggu. Ternyata dua kasus yang menghebohkan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6916" style="margin: 5px 7px;" title="utama_anak_ed45" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/02/utama_anak_ed45.jpg" alt="utama_anak_ed45" width="300" height="225" />Kasus penelantaran anak terjadi lagi. Tiga anak balita berusia 3,9 tahun, 1,8 tahun dan 9 bulan ditelantarkan kedua orangtuanya selama delapan hari tanpa mendapatkan bekal apapun di Tanggerang. Sebelumnya empat anak usia 8 tahun hingga 4 bulan juga ditinggalkan dan ditelantarkan di rumah oleh orangtuanya di Depok selama seminggu. Ternyata dua kasus yang menghebohkan ini hanyalah ujung yang kita lihat dari fenomena gunung es. Karena menurut data dari Departemen Sosial pada 2008 hingga 2009, ada 1,1 juta anak Indonesia yang terlantar dan terpaksa tinggal di panti asuhan. [<em>Okezone.com</em>, 12 Januari 2010].</p>
<p>Mirisnya melihat kenyataan bahwa ada orangtua yang tega-teganya menelantarkan anak-anaknya sendiri, sementara banyak dari orangtua yang sulit mendapatkannya, meski telah berusaha dengan berbagai cara. Seperti data yang terdapat pada majalah online Bio Spektrum Asia yang mengatakan bahwa setiap tahun sedikitnya 90 juta pasangan di seluruh dunia sedang mencoba untuk hamil, dan banyak yang tak mampu melakukannya, karena tingkat keberhasilan yang hanya 20% pada wanita hamil pada setiap siklus ovulasi. Tentu para orangtua yang belum beruntung ini menyayangkan tindakan orangtua yang telah menyia-nyiakan anugerah yang begitu mereka nanti-nantikan tersebut.</p>
<p>Padahal anak menurut Imam Al-Ghazali adalah amanat bagi orangtuanya yang hatinya masih bersih, suci, dan polos. Anak membutuhkan kedua orangtuanya untuk mendidiknya. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan peran dan tanggungjawab orangtua dalam mendidik anak cukup jelas. Beliau berkata, “Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa Allah swt pada Hari Kiamat nanti akan meminta pertanggungjawaban setiap orangtua tentang apa yang telah mereka lakukan terhadap anaknya, sebelum meminta pertanggungjawaban anak tentang orangtuanya. Karena sesungguhnya sebagaimana orangtua memiliki hak dari anaknya, demikian pula sebaliknya, seorang anak memiliki hak dari orangtuanya.”</p>
<p>Tidak mendidik anak saja akan dimintai pertanggungjawabannya, bagaimana dengan menelantarkan? Sahabat Mu’adz bin Anas berkisah mengenai apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw. Menurutnya Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa hamba yang tidak diberi kesempatan oleh Allah untuk diajak berbicara, tidak disucikan, dan tidak dipandang pada Hari Kiamat nanti adalah mereka yang berlepas tangan dari orangtuanya bahkan membencinya dan berlepas tangan dari anaknya. [HR Ahmad dan Thabrani].</p>
<p>Namun kenyataan penelantaran anak yang banyak terjadi di Indonesia terjadi karena faktor kemiskinan. Mungkin saja para orangtua tersebut tidak ingin meninggalkan anak-anaknya begitu saja, namun karena desakan ekonomi, kebingungan dalam memberi penghidupan pada anak-anak yang masih kecil, serta beberapa masalah internal rumahtangga, membuat mereka akhirnya terpaksa menempuh jalan pintas, meninggalkan begitu saja anak-anak yang kelaparan di rumah.</p>
<p>Tentu sulit jika terus menerus mengharapkan peran pemerintah untuk mengatasi hal ini. Karena faktor pengentasan kemiskinan adalah tanggungjawab kita semua. Bukankah kita adalah makhluk sosial yang tidak akan bisa hidup tanpa ada keterkaitan dengan orang lain. Sehingga keberadaan tiap individu di masyarakat juga harus ikut berperan serta dalam usaha mengurangi kemiskinan yang terjadi di sekitar kita. Mengapa kita tidak mulai membuka mata pada hal-hal yang terjadi di sekitar lingkungan rumah kita terlebih dahulu. Siapa tahu hal yang sama juga sedang terjadi pada tetangga kita?! «<strong> [esthi] – foto: sxc</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;">Boks</span><br />
<strong>Dian, 32, ibu anak 9 bulan, marketing<br />
</strong>“Masalahnya orangtua yang menelantarkan anak tidak bisa disalahkan begitu saja, karena masalahnya saling berhubungan. Karena ini juga disebabkan oleh faktor kemiskinan pasti harus dikaitkan juga dengan peran pemerintah. Hal ini disebabkan karena belum meratanya pendidikan, bukankah ini kesalahan pemerintah. Dengan belum meratanya pendidikan maka si orangtua memiliki kesulitan yang lebih tinggi dalam mencari pekerjaan. Memang sih si ibu sudah pasti salah meninggalkan anak begitu saja, namun keadaan yang membuatnya demikian.”</p>
<p><strong>Reni, 29, wiraswasta<br />
</strong>“Menurut saya penelantaran anak merupakan kesalahan dari orangtua. Kalau si ibu ingin menghindari sesuatu, misalnya menghindar ditagih hutang, mengapa anak-anaknya tidak dibawa. Anak-anak usia itu kan tidak boleh ditinggal, mereka masih berada di bawah tanggungjawab kedua orangtuanya.”</p>
<p><strong>Emma, 39, <em>food stylist</em><br />
</strong>“Semua ini disebabkan oleh suatu rantai yang panjang dan kompleks. Karena melibatkan negara yang gagal menyediakan lapangan pekerjaan, juga ketidak pedulian masyarakat di sekelilingnya. Namun juga tidak dapat disalahkan satu pihak saja, misalnya kepedulian masyarakat. Masalahnya masyarakat di sekitar rumah tersebut mungkin saja sama miskinnya sehingga seharunya orang yang mampu yang memiliki kepedulian terhadap hal-hal yang seperti ini jika ini terjadi dilingkungannya.” «</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/jangan-telantarkan-si-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ma, Aku di Bully!</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/ma-aku-di-bully/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/ma-aku-di-bully/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 22:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mawaddah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bullying]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=6616</guid>
		<description><![CDATA[Bullying tidak hanya terjadi pada siswa SMP dan SMA, namun juga terhadap anak TK dan SD. Karenanya orangtua harus peka mewaspadainya. Beberapa kali Nita mendapati kotak makan siang Arman, putranya yang baru duduk di kelas 1 SD kosong. Namun setiap kali pulang sekolah Arman seperti anak yang sangat kelaparan. Ia selalu minta dibuatkan makan siang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><img class="alignleft size-full wp-image-6685" style="margin: 5px 7px;" title="mawaddah_bully_ed43" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/01/mawaddah_bully_ed43.jpg" alt="mawaddah_bully_ed43" width="225" height="300" />Bullying </em>tidak hanya terjadi pada siswa SMP dan SMA, namun juga terhadap anak TK dan SD. Karenanya orangtua harus peka mewaspadainya.</strong></p>
<p>Beberapa kali Nita mendapati kotak makan siang Arman, putranya yang baru duduk di kelas 1 SD kosong. Namun setiap kali pulang sekolah Arman seperti anak yang sangat kelaparan. Ia selalu minta dibuatkan makan siang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Dengan penasaran Nita mengajak putranya tersebut berbicara, menanyakan mengapa Arman begitu kelaparan walaupun sudah menghabiskan bekal makan siangnya. Jawabannya membuat Nita kaget. Arman mengaku bahwa bekal makan siangnya selalu diminta Dito, anak kelas 3 yang berbadan besar, dan Arman tidak berani menolak karena Dito selalu mengancamnya.</p>
<p>Apa yang dilakukan Dito terhadap Arman sudah masuk dalam kategori <em>bully</em>. <em>Bullying </em>adalah tindakan yang merugikan orang lain. <em>Bullying </em>tidak hanya mengancam korban secara fisik, namun juga termasuk ancaman psikologis, seperti memfitnah, mempermalukan, menghina, menyebarkan gosip, mendiamkan, juga ancaman verbal, seperti memaki, memarahi, mengata-ngatai, dan sebagainya sehingga membuat korbannya merasa takut atau terancam. Tindakan Dito yang mengambil makan siang Arman sambil mengancam tentu tidak dapat dibenarkan. Karena hal ini telah sangat merugikan Arman.</p>
<p>Namun kepekaan Nita patut diacungi jempol. Karena umumnya korban <em>bully </em>menutup mulut rapat-rapat dari orangtua maupun guru-gurunya, sehingga orangtua harus sedikit peka melihat tanda-tanda yang tidak biasa pada anak. Beberapa tanda jika anak di-<em>bully</em>, antara lain:</p>
<ul>
<li>Adanya perubahan atau perbedaan dari biasanya, misalnya seperti yang dialami Arman.</li>
<li>Terlihat murung, tak bersemangat.</li>
<li>Adanya penurunan pada penampilan akademisnya.</li>
<li>Adanya penurunan pada kehadirannya di sekolah.</li>
<li>Hilangnya minat pada pekerjaan sekolah/PR.</li>
<li>Sulit berkonsentrasi pada pekerjaan sekolah.</li>
<li>Berkurangnya minat pada kegiatan-kegiatan sekolah.</li>
<li><em>Drop out </em>dari kegiatan yang tadinya dia sukai.</li>
</ul>
<p>Untuk menghindari si kecil di-<em>bully </em>atau mengatasi jika si kecil mengaku di-<em>bully</em>, beberapa hal di bawah ini dapat dicoba, antara lain:</p>
<ul>
<li>Bukalah ‘keran’ komunikasi dengan si kecil dan sampaikan pesan bahwa Anda akan selalu ada untuk mendengarkannya kapan pun di mana pun. Upayakan agar si kecil mau terbuka menceritakan segala hal pada Anda.</li>
<li>Ajarkan anak untuk bersikap asertif pada setiap situasi. Sikap asertif di antaranya adalah kemampuan mengemukakan pikiran dan pendapat secara terbuka, baik melalui kata-kata maupun tindakan.</li>
<li>Ajar anak beberapa tips dalam menghadapi <em>bullying</em>, misalnya tidak menunjukkan rasa takut ketika diancam anak lain, tetap menegakkan kepala dan menatap mata si pem-bully, tidak berjalan sendirian, lari atau melapor pada guru jika terjadi tindakan <em>bullying</em>.</li>
<li>Laporkan pada guru atau wali kelas untuk dilakukan tindakan lebih lanjut jika si kecil tidak dapat mengatasi masalahnya sendiri. « <strong>[esthi] – foto: istimewa</strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/ma-aku-di-bully/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orangtua Paranoid</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/orangtua-paranoid/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/orangtua-paranoid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 21:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mawaddah]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[paranoid]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=4019</guid>
		<description><![CDATA[Febby merengek pada sang suami untuk membeli perlengkapan sirkuit teve yang dapat disambungkan ke program komputernya. Ia melihat teman sekantornya memiliki hal tersebut dan dapat dengan mudah mengontrol kedua anak balitanya yang hanya dititipkan kepada seorang babysitter lewat monitor komputer. Angga agak keberatan dengan permintaan sang istri. Rasanya alat canggih itu tak begitu diperlukan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/mawaddah_1_ed28.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-4020" style="border: 0pt none; margin: 10px;" title="mawaddah_1_ed28" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/mawaddah_1_ed28.jpg" alt="mawaddah_1_ed28" width="300" height="166" /></a>Febby merengek pada sang suami untuk membeli perlengkapan sirkuit teve yang dapat disambungkan ke program komputernya. Ia melihat teman sekantornya memiliki hal tersebut dan dapat dengan mudah mengontrol kedua anak balitanya yang hanya dititipkan kepada seorang babysitter lewat monitor komputer. Angga agak keberatan dengan permintaan sang istri. Rasanya alat canggih itu tak begitu diperlukan di rumah. Bukankah orangtuanya tinggal bersebelahan dengan rumah mereka, sehingga setiap saat mereka dapat menjenguk dan ikut mengontrol dua balitanya tersebut?</p>
<p>Kian lama Angga juga kian risi dengan apa yang dilakukan sang istri pada kedua anaknya. Mau main di lapangan dalam kompleks tidak boleh. Alasannya udara panas dan takut anak tersasar jika tidak diawasi. Mau makan es krim juga tidak boleh dengan alasan cuaca sedang tidak bersahabat, takut kedua anaknya sakit. Tanpa Closed Circuit Television [CCTV] pun Febby sudah sangat sering menelepon ke rumah, menanyakan kabar kedua balitanya. Apa sih yang menjadi sumber kecemasan sang istri?</p>
<p>Febby tak sendiri. Jutaan orangtua di Indonesia maupun di luar negeri mengalami kecemasan yang sama. Tiba-tiba menjadi paranoid tanpa ada alasan yang jelas. Bagaimana tidak! Setiap hari kita dijejali dengan berbagai peristiwa kriminal penculikan anak hingga pembunuhan, wabah penyakit dan berbagai peristiwa lain yang dapat mengancam jiwa anak-anak kita. Peristiwa tersebut umumnya kita dapatkan lewat tayangan di media cetak maupun televisi.</p>
<p>Padahal memiliki kecemasan yang tidak rasional dan terkendali akan dengan mudah menular pada anak. Anak-anak akan tumbuh menjadi orang yang mudah merasa cemas, bahkan menjadi ‘paranoid’ seperti orangtuanya. Anak yang orangtuanya terlalu overprotective akan tumbuh menjadi anak yang pasif, kurang mampu berinisiatif, serta tergantung pada orang lain. Mereka juga tak terbiasa mengambil tanggungjawab dari tindakan yang mereka lakukan. Ini dikarenakan orangtua selalu mengambil alih tanggungjawab yang harusnya mulai dibebankan di pundak si anak sedikit demi sedikit. Tak heran jika anak-anak ini tumbuh menjadi anak yang tidak punya percaya diri yang kuat.</p>
<p>Lalu apa yang dapat dilakukan orangtua, mengingat angka kejahatan makin merambat naik, sedangkan wabah penyakit pun tak terus berkurang? Beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan, antara lain:</p>
<ul>
<li>Coba membuat daftar apa saja yang menjadi dasar kecemasan Anda terhadap keselamatan si kecil. Lalu lakukan sesuatu yang rasional untuk tiap hal yang membuat Anda cemas, misalnya dengan mencari informasi yang akurat terhadap suatu hal yang mencemaskan Anda.</li>
<li>Pada kecemasan terhadap adanya wabah penyakit, coba cari apa saja penyebabnya, bagaimana cara pencegahannya, dan sebagainya. Lakukan upaya seperti yang disarankan para ahli pada si kecil. Misalnya mencuci tangan sebelum makan atau tidak jajan sembarangan. Lawan kecemasan dengan melakukan hal-hal rasional sewajarnya dan tidak berlebihan seperti yang disarankan ahlinya. Untuk kecemasan terhadap hal- hal yang bersifat kriminal, mungkin beberapa hal di bawah dapat dilakukan;</li>
<li>Dahulu jarang ada kejahatan, di antaranya karena sistem sosial yang ada di lingkungan terbangun dengan baik. Sehingga anggota dari suatu lingkungan memiliki kesadaran untuk saling menjaga dan mengawasi. Mengapa tidak mencoba menggalang persatuan dan kekompakan lingkungan di sekitar rumah. Antar-tetangga memiliki kepedulian untuk saling mengawasi apa yang terjadi di lingkungannya. Cara ini akan membuat kita merasa lebih aman meninggalkan si kecil berada di lingkungan perumahan yang aman.</li>
<li>Minimalkan risiko dengan mencari pekerja di rumah berdasarkan rekomendasi. Percayai kata hati Anda dalam mencari orang yang tepat untuk menjaga si kecil di rumah.</li>
<li>Ajari si kecil untuk asertif dan tegas berkata tidak sejak dini jika ada orang yang memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak membuatnya nyaman.</li>
<li>Batasi diri untuk tidak terlalu banyak menonton tayangan kriminal atau berita yang justru akan membuat Anda cemas. Begitu pula tontonan bagi si kecil.</li>
<li>Jika Anda merasa sudah melakukan berbagai hal secara rasional untuk mengatasi semua kecemasan yang dirasakan, mungkin sudah saatnya Anda mencoba untuk berserah diri dan menyerahkan keselamatan si kecil ditangan Allah swt yang Maha Tahu dan Maha Melindungi. Dan jika sudah demikian, rasanya Anda tak perlu lagi merasa cemas! «<strong> [esthi]</strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/orangtua-paranoid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak adalah Cermin Pribadi Orangtua</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/anak-adalah-cermin-pribadi-orangtua/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/anak-adalah-cermin-pribadi-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 19:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syamil</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kepribadian]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=3961</guid>
		<description><![CDATA[Perilaku anak bisa menjadi sebuah cermin pribadi orangtuanya. Saat masih kecil, anak belajar dari lingkungan sekitarnya dan lingkungan terdekat adalah keluarga. Anak melihat apa yang dilakukan orangtuanya, mencontoh kebiasaan-kebiasaan mereka, dan merekam kata-kata yang diucapkannya. Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya memunyai perilaku yang baik. Namun terkadang orangtua tak menyadari bahwa pendidikan perilaku yang paling utama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/this_1_ed28.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3962" style="border: 0pt none; margin: 10px;" title="this_1_ed28" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/this_1_ed28.jpg" alt="this_1_ed28" width="300" height="354" /></a>Perilaku anak bisa menjadi sebuah cermin pribadi orangtuanya. Saat masih kecil, anak belajar dari lingkungan sekitarnya dan lingkungan terdekat adalah keluarga. Anak melihat apa yang dilakukan orangtuanya, mencontoh kebiasaan-kebiasaan mereka, dan merekam kata-kata yang diucapkannya.</p>
<p>Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya memunyai perilaku yang baik. Namun terkadang orangtua tak menyadari bahwa pendidikan perilaku yang paling utama berada dalam keluarga. Keluarga menjadi sumber nilai bagi anak. Nilai-nilai itulah yang akan menjadi dasar perilakunya saat dewasa.</p>
<p>Ketidaktahuan orangtua tentang hal tersebut membuat mereka kurang hati-hati. Akbibatnya bisa fatal, anak akan meniru perbuatan yang kurang baik dari orangtuanya dan menjadi kebiasaan sampai ia dewasa.</p>
<p>Ada sebuah kisah menarik yang mengajarkan kepada para orangtua untuk selalu menjaga perilakunya agar bisa menjadi contoh untuk anak-anaknya. Pada suatu masa, hiduplah sebuah keluarga dengan seorang anak laki-laki. Dalam keluarga itu, tinggal juga seorang tua renta dan buta. Ia adalah kakek anak laki-laki itu.</p>
<p>Suatu hari, sang istri mengeluh kepada suaminya karena orang tua yang juga mertuanya itu semakin menyusahkan karena sering meminta yang aneh-aneh. Sang suami mengerti. Memang, ia melihat ayahnya sudah sangat merepotkan. Setiap hari ia dan istrinya harus merawat sang ayah sehingga anak mereka tak terurus.</p>
<p>Suatu malam, suami dan istri itu bersepakat untuk membuang orang tua itu. Disusunlah rencana untuk mengajaknya pergi ke suatu tempat dan meninggalkannya di situ. Mereka berharap ada orang baik hati yang merawatnya. Sang suami mendapat tugas membujuk dan membawanya pergi. Malam itu sang suami berkata kepada ayahnya, “Besok pagi kita akan pergi rekreasi.”</p>
<p>Paginya sang suami bergegas bangun. Diambilnya beberapa bilah bambu untuk membuat keranjang yang akan digunakan untuk menggendong ayahnya. Tiba-tiba, anaknya yang masih kecil menyapanya, “Apa yang Ayah lakukan pagi-pagi begini?”<br />
“Ayah membuat keranjang untuk menggendong kakekmu, anakku.”<br />
“Memang kakek mau dibawa ke mana?” tanya anaknya kembali.<br />
“Ayah akan mengajak kakek rekreasi,” jawabnya.<br />
“Ayah!” kata anak kecil itu, “bolehkah aku minta keranjang itu dibawa pulang kembali dan disimpan baik-baik?”<br />
“Untuk apa?”<br />
“Kalau Ayah sudah seperti kakek nanti, aku akan menggendong ayah dengan keranjang itu, biar aku tak susah-susah membuatnya lagi. Aku akan meletakkan ayah di tempat rekreasi seperti kakek.”</p>
<p>Sang suami terperanjat. Ternyata, anaknya mendengar semua rencana yang dibicarakan dengan istrinya dan ia mengira kalau perbuatan itu sudah seharusnya dilakukan kepada orang yang sudah tua renta, seperti yang dilakukan ayahnya terhadap kakeknya.</p>
<p><strong>Menanamkan Nilai dan Kebiasaan Baik</strong><br />
Dalam rentang waktu perkembangan anak, ada masa-masa yang diberi nama oleh para ahli dengan sebutan masa emas perkembangan anak. Masa itu terentang sejak anak dilahirkan sampai usia pubertas [kurang lebih usia antara 16 - 18 tahun].</p>
<p>Saat seorang anak dilahirkan, otaknya memunyai banyak sambungan syaraf. Seiring dengan perkembanganya, otak akan terus-menerus memutus sambungan-sambungan yang jarang digunakan dan akan memperkuat sambungan yang sering digunakan. Pada masa emas ini otak manusia mengalami proses pemangkasan sambungan syaraf. Karena proses ini, sambungan syaraf di otak pada anak yang masih kecil lebih banyak dibanding ketika ia dewasa.</p>
<p>Torsten Nils Wiesel dan David Hunter Hubel tertarik melakukan penilitan terhadap proses pemangkasan otak itu. Hasil penelitiannya memberi pengaruh yang sangat besar terhadap teori perkembangan anak. Atas hasil temuan dalam penelitian itu, Weisel dan Hubel meraih nobel di bidang Psikologis Medis [1981].</p>
<p>Weisel dan Hubel pertama kali melakukan eksperimen pada hewan, yaitu kucing dan kera. Ada masa kritis perkembangan otak pada kedua hewan tersebut, lamanya beberapa bulan sejak dilahirkan. Pada masa ini, salah satu mata hewan ditutup sehingga sinyal-sinyal yang dikirim mata ke otak berkurang.</p>
<p>Setelah masa kritis berakhir, penutup mata dibuka. Apa yang terjadi? Ternyata, mata yang ditutup tadi mengalami kebutaan secara fungsional. Secara fisik tak ada cacat pada mata, hanya saja sambungan syaraf ke otak mengalami penyusutan sehingga sinyal yang dikirimkan ke otak tak mencukupi untuk bisa melihat.</p>
<p>Sistem penglihatan manusia mirip. Namun, masa kritisnya lebih lama. Wiesel dan Hubel mengatakan, masa kritis pada manusia berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Jika pada masa kritis itu mata anak ditutup selama beberapa minggu saja, akan terjadi penurunan kemampuan melihat pada anak.</p>
<p>Masa kritis untuk perkembangan emosi lebih lama lagi. Bagian otak tempat pengendalian diri, pemahaman dan respon yang bijaksana terus tumbuh sampai akhir masa pubertas. Kebiasaan mengelola emosi yang berulang-ulang pada masa ini akan memperkuat sambungan syaraf di otak sehingga sinyal yang diterima semakin banyak dan kuat.</p>
<p>Berdasarkan penelitian itu, para ahli perkembangan anak menyarankan kepada orangtua untuk berhati-hati selama masa kritis anak. Kesalahan memberi perlakuan pada anak akan mengakibatkan trauma mendalam yang terus-menerus dialami sampai anak dewasa. Sebaliknya, perilaku positif dan penanaman nilai-nilai yang baik hendaknya terus-menerus dilakukan. Kebiasaan-kebiasaan saat anak masih kecil berpengaruh besar terhadap karakternya ketika ia dewasa.</p>
<p><strong>Nilai-nilai yang Diwariskan kepada Anak</strong><br />
Peran penting orangtua dalam pendidikan anak sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Orangtua akan dimintai pertanggungjawaban atas perlakuan terhadap anaknya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan, sesungguhnya ahli ilmu mengatakan bahwa pada hari kiamat nanti, Allah swt akan meminta pertanggungjawaban setiap orangtua tentang apa yang telah mereka lakukan terhadap anaknya.</p>
<p>Bahkan Ibnu Qayyim menambahkan, pertanggungjawaban orangtua tentang anaknya itu lebih dulu ditanyakan sebelum meminta pertanggungjawaban anak tentang orangtuanya. Karena sesungguhnya sebagaimana orangtua memiliki hak dari anaknya, seorang anak juga memiliki hak dari orangtuanya.</p>
<p>Nilai-nilai apa yang perlu diwariskan kepada anak?</p>
<p>Al-Qur’an menguraikan dengan jelas pokok-pokok yang perlu diajarkan orangtua kepada anaknya. Dalam Surah Luqmân, Allah swt berfirman tentang Luqmân berkenaan dengan nilai-nilai dan hikmah yang pernah ia nasihatkan kepada anaknya.</p>
<p>Luqmân menasihati anaknya untuk tak mempersekutukan Allah, selalu berbakti kepada ibu-bapaknya dengan menaati perintah keduanya selama tak memaksanya berbuat syirik, dan menjaga setiap perbuatan, karena sekecil apapun perbuatan akan diperhitungkan dan mendapat balasan.</p>
<p>Untuk menjamin kesinambungan Tauhid serta kehadiran Ilahi dalam kalbu sang anak, Luqmân meminta anaknya untuk melaksanakan shalat dengan sempurna baik dari sisi syarat, rukun dan sunnah-sunnahnya. Ia juga meminta anaknya untuk membentengi diri dari kekejian dan kemunkaran, dan sabar dalam menghadapi setiap kesulitan.</p>
<p>Berkaitan dengan hubungan sosial dengan orang lain, Luqmân menyampaikan agar anaknya tak berlaku sombong dan angkuh. Sebaliknya, anaknya diminta untuk selalu rendah hati dan hormat kepada setiap orang.</p>
<p>Di ayat yang lain Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu” [QS at-Tharîm [66]: 6]. Ayat ini menerangkan, orangtua memunyai tanggungjawab untuk menjaga seluruh anggota keluarga agar terhindar dari api neraka.</p>
<p>Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat di atas dengan berkata, “Ajarilah mereka [anak-anakmu] ilmu pengetahuan dan akhlak.” Selain menanamkan nilai-nilai yang baik [sebagaimana nasihat Luqmân kepada anaknya], anak hendaknya juga dibekali dengan ilmu pengetahuan. Keduanya sangat penting sebagai bekal anak mengarungi masa depannya nanti.</p>
<p>Setiap orangtua pasti menghendaki anaknya nanti memunyai kehidupan yang baik, seperti setiap orang juga menghendaki melihat bayangan diri yang baik dalam cermin. Karena itu, orangtua hendaknya senantiasa berperilaku baik dan berakhlak mulia agar menjadi model yang baik juga bagi anaknya. Semoga bermanfaat. « [imam]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/anak-adalah-cermin-pribadi-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

