<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; pakistan</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/pakistan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 13:14:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Membumikan Jazz di Pakistan</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/membumikan-jazz-di-pakistan/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/membumikan-jazz-di-pakistan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 07:43:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[ari roland quartet]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8781</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sundus Rasheed *] Karachi, Pakistan - Para penggemar fiksi ilmiah mungkin ingat bagaimana manusia dan alien saling berkomunikasi dengan menggunakan melodi musik lima nada dalam film Close Encounters of the Third Kind keluaran 1977. Film ini juga termasuk film pertama yang memotret alien sebagai tetangga yang bersahabat –-meski berbeda-– ketimbang sebagai musuh/penyerbu. Gagasan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-8782" style="margin: 5px 7px;" title="islam_jazz_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/islam_jazz_ed56.jpg" alt="islam_jazz_ed56" width="259" height="194" />Oleh </strong>Sundus Rasheed *]</p>
<p><strong>Karachi, Pakistan </strong>- Para penggemar fiksi ilmiah mungkin ingat bagaimana manusia dan alien saling berkomunikasi dengan menggunakan melodi musik lima nada dalam film <em>Close Encounters of the Third Kind </em>keluaran 1977. Film ini juga termasuk film pertama yang memotret alien sebagai tetangga yang bersahabat –-meski berbeda-– ketimbang sebagai musuh/penyerbu.</p>
<p>Gagasan bahwa musik membentuk jembatan di antara berbagai budaya nyata terlihat tahun lalu ketika saya mendapat kehormatan memproduksi acara radio yang menampilkan pertunjukan-pertunjukan dua kuartet jazz asal Amerika Serikat –-Ari Roland Quartet dan Cultures in Harmony.</p>
<p>Selain menampilkan musik jazz Amerika untuk pemirsa sebuah radio Pakistan, Ari Roland Quartet, yang berasal dari New York, menggelar lima kuliah dan lokakarya bagi para pemuda dan penggemar musik Pakistan, serta mendorong perbincangan mengenai keserupaan antara jazz dan musik Asia Selatan -–menggunakan musik untuk berkomunikasi menjembatani kesalahmengertian dan stereotip antara Amerika dan Pakistan.</p>
<p>Kuartet ini tampil dalam perayaan Hari Kemerdekaan Amerika di berbagai kantor perwakilan diplomatik Amerika di Karachi, Lahore, dan Islamabad selama dua pekan.</p>
<p>Sayangnya, jangkauan acara yang disiarkan langsung itu dibatasi pada para duta besar dan undangan dengan alasan keamanan, tapi sihir Ari Roland Quartet masih bisa menjamah pemirsa yang lebih luas di Karachi melalui stasiun radio <em>CityFM89 </em>ketika mereka tampil mengudara dalam acara jazz radio ini –-“Take 5 with Zahir”. Mereka membawakan sebuah pop klasik Pakistan, “Dil Dil Pakistan” [“Heart, Heart Pakistan”] karya grup pop legendaris Pakistan, Vital Signs dan menambahkan selo dan saksofon.</p>
<p>Lagu klasik versi mereka ini kemudian jadi sering diperdengarkan di radio-radio kota ini.</p>
<p>Kuartet ini membawa gaya musik khas Amerika ke Pakistan dan mempersilakan orang-orang Pakistan mengolahnya. Seperti Ari Roland sendiri katakan, “Sejarah jazz berkaitan dengan menggunakan lagu-lagu yang sudah dikenal orang dan membuat versi jazznya.”</p>
<p>Melodi yang sama, instrumen yang berbeda. Pemikiran yang sama, bahasa yang berbeda.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian pada Hari Kemerdekaan Pakistan –-14 Agustus-– Citizen’s Foundation, sebuah lembaga amal lokal di Karachi yang bergelut dalam penyediaan pendidikan bagi pemuda Pakistan, memboyong kuartet jazz dari organisasi non-pemerintah AS Cultures in Harmony ke Pakistan. Cultures in Harmony dipimpin oleh lulusan Julliard School, William Harvey, yang tampil bersama musisi Ethan Philbrick, Chris Jenkins dan Emily Holden. Kuartet ini tampil di sekolah-sekolah milik Citizen’s Foundation di beberapa kawasan termiskin Pakistan dan berkolaborasi dengan beberapa musisi terkenal dan paling digemari di Pakistan.</p>
<p>Kuartet ini berkeliling Pakistan dan mendapat banyak liputan media dan sambutan luar biasa atas musik mereka. Bahkan, versi kuartet dawai mereka dari lagu kebangsaan Pakistan kini tersedia sebagai nada sambung telepon genggam di Pakistan. Dan ketika mereka membawakan lagu kebangsaan di radio, saya menitikkan airmata. Yang bergema di telinga saya adalah ungkapan rasa pada bangsa saya dari empat orang Amerika.</p>
<p>Pertunjukan-pertunjukan ini memperlihatkan bahwa penyatuan budaya tidaklah berarti salah satunya dikalahkan oleh yang lain. Praktik para musisi Amerika yang tampil bersama para musisi Pakistan memperlihatkan kenyataan bahwa orang-orang Amerika mau belajar dari orang-orang Pakistan dan budaya mereka.</p>
<p>Orang-orang Pakistan biasanya menganggap bahwa orang-orang Amerika pergi ke luar negeri dalam tahun-tahun belakangan ini hanya untuk mengajari bangsa lain apa yang harus dilakukan. Tapi pertukaran budaya semacam inilah yang turut menumbuhkan pendapat bahwa sebagian besar rakyat Amerika ternyata menghargai dan mau belajar dari rakyat Pakistan dan lainnya.</p>
<p>Musik memang tak akan menghentikan konflik di perbatasan utara atau di negara tetangga kita, Afghanistan. Tapi musik membawakan harapan bahwa ketika orang-orang Pakistan berpikir tentang Amerika, mereka juga akan ingat kuartet Amerika yang memainkan musik Pakistan untuk mereka. Dan, ketika orang-orang Amerika mendengar Pakistan dalam berita, mudah-mudahan mereka akan ingat cerita-cerita Roland dan Harvey tentang masyarakat yang ramah dan pintar dari sebuah negara yang indah. «<strong> []</strong></p>
<p>* ] Sundus Rasheed mengelola dan membuat konten untuk jejaring radio berbahasa Inggris <em>CityFM89 </em>di Karachi, Pakistan, dan juga menjadi pengamat berbagai isu sosial dan budaya pop. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground [CGNews].</p>
<p><strong>Sumber: </strong>Kantor Berita Common Ground [CGNews], 23 April 2010, <a href="www.commongroundnews.org">www.commongroundnews.org</a></p>
<p><strong>Foto:</strong> amazon.com</p>
<p>Artikel ini telah mengalami penyuntingan seperlunya dari ALiF tanpa mengubah isi cerita. Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/membumikan-jazz-di-pakistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Festival Sastra Pakistan: Menyembuhkan dengan Kata</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/festival-sastra-pakistan-menyembuhkan-dengan-kata/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/festival-sastra-pakistan-menyembuhkan-dengan-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 09:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[festival]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8393</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Adnan Farooq *] Karachi, Pakistan – Bagi generasi muda Pakistan sebelum kejadian tragis 11 September, British Council berarti buku-buku: buku-buku besar, buku-buku sastra klasik dan kontemporer, yang bisa dipinjam atau dibaca di banyak perpustakaan di Pakistan yang diurus British Council. Bagi generasi-generasi muda itu, British Council adalah tempat sastra dan budaya berlindung, tapi sayangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-8395" style="margin: 5px 7px;" title="islam_british1_ed54" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/islam_british1_ed54.jpg" alt="islam_british1_ed54" width="300" height="224" />Oleh </strong>Adnan Farooq *]</p>
<p><strong>Karachi, Pakistan </strong>– Bagi generasi muda Pakistan sebelum kejadian tragis 11 September, British Council berarti buku-buku: buku-buku besar, buku-buku sastra klasik dan kontemporer, yang bisa dipinjam atau dibaca di banyak perpustakaan di Pakistan yang diurus British Council.</p>
<p>Bagi generasi-generasi muda itu, British Council adalah tempat sastra dan budaya berlindung, tapi sayangnya kondisi ini berubah, seiring berubahnya dunia, setelah pesawat menghantam Menara Kembar WTC di New York. Diam-diam, British Council memulangkan ribuan buku yang dirawatnya selama bertahun-tahun di berbagai perpustakaan dan, setidaknya bagi generasi muda Pakistan pasca 11 September, British Council menjadi sekadar tempat yang membuat orang bisa mengikuti ujian tingkat “O” dan “A”, tes-tes bahasa Inggris, dan memperoleh saran bila mau belajar di Inggris.</p>
<p>Namun, pada saat ketika kekerasan dan intoleransi tengah melanda Pakistan, British Council Pakistan baru-baru ini justru memutuskan untuk menghidupkan kembali aspek budayanya dengan mendukung dan membantu Oxford University Press [OUP] untuk menggelar festival sastra di Karachi.</p>
<p>British Council tak hanya membantu memfasilitasi para penulis terkenal Pakistan – yang tinggal di Pakistan maupun di luar negeri – untuk mempertunjukkan khazanah maupun talenta budaya dan sastra Pakistan ke dunia luar, tapi pesan juga diarahkan kepada seluruh generasi Pakistan yang tumbuh di tengah suara dentuman bom, berbagai tuduhan, ancaman, dan ketakutan. Bagi mereka, sesuatu seperti festival sastra layaknya dinosaurus yang sudah punah di masa lalu, meskipun dinosaurus yang satu ini lebih damai dan pintar.</p>
<p>Namun kesuksesan Festival Sastra Karachi yang digelar selama dua hari baru-baru ini boleh jadi membuat komentar itu jadi pernyataan yang berlebihan: dalam dua hari, festival ini menarik lebih dari 3.000 pengunjung.</p>
<p>Para novelis, penyair, intelektual, dan dramawan klasik berkumpul untuk mengadakan diskusi, pembacaan dan peluncuran buku. Acara tersebut menampilkan penari klasik Sheema Kirmani; penulis-penulis Intizar Hussain, Mohammad Hanif, Aamer Hussein dan Mohsin Hamid; serta penyair-penyair Zehra Nigah, Shamsur Rahman Faruqi, Iftikhar Arif, Fehmida Riaz, dan Kishwer Naheed.</p>
<p>Menurut Hussain, seorang pengarang legendaris Pakistan, festival ini mengingatkannya pada masa-masa ketika pertemuan semacam ini dulu menjadi kebiasaan sehari-hari di Pakistan. Tapi bagi mayoritas anak muda Pakistan yang menghadiri festival tersebut, acara ini tentulah luar biasa.</p>
<p>Terlihat takjub dan pada saat yang sama sedikit bingung, mahasiswa Mukhatir Nabi [19 tahun], yang saya temui saat keluar dari sebuah diskusi yang diisi oleh Hanif, mengatakan: “Saya kira inilah yang ayah saya maksud ketika dia sering bicara tentang masa lalu yang indah.”<img class="alignright size-full wp-image-8394" style="margin: 5px 7px;" title="islam_british2_ed54" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/islam_british2_ed54.jpg" alt="islam_british2_ed54" width="225" height="300" /></p>
<p>Tapi gagasan festival ini bukanlah tentang nostalgia. Menurut para penyelenggara, gagasan di balik acara ini lebih terkait dengan masa depan – yakni masa depan budaya Pakistan.</p>
<p>Saat bicara ke anak-anak muda Pakistan yang berkumpul pada festival tersebut, direktur British Council Pakistan, Mashhood Rizvi, menerangkan bahwa tujuan British Council adalah menggunakan sastra untuk menunjukkan pada anak-anak muda siapa mereka sebenarnya. Ia menambahkan bahwa identitas itu bisa menciptakan keamanan dan rasa percaya diri yang kuat.</p>
<p>“Ketika Anda yakin siapa Anda, Anda bukan lagi orang Pakistan, bukan lagi orang India. Anda adalah seorang warga dunia,” tukasnya.</p>
<p>Ditanya bagaimana festival ini membantu Pakistan unjuk diri, Mashhood menyatakan bahwa budaya dan sastralah yang membantu menjalin ikatan di antara berbagai peradaban, melebihi teknologi dan perdagangan.</p>
<p>Festival ini juga merayakan kebangkitan kembali budaya di Karachi. Karachi, setidaknya dalam tiga tahun terakhir, telah mampu menghindari kekerasan seperti yang mencengkeram provinsi Punjab dan Perbatasan Barat Laut. Mungkin karena itulah para penyelenggara festival memutuskan untuk menggelar acara ini di Karachi.</p>
<p>“Orang-orang bilang ini gila, mustahil dilakukan,” kata Asif Aslam Farrukhi, tokoh sastra dan salah seorang penggagas festival ini. Tapi “Karachi adalah tempat pertemuan budaya dan bahasa. Kami ingin mengembalikan kegembiraan dan kesenangan sastra ke kota ini, demi Pakistan yang lebih baik.” «<strong> []</strong></p>
<p>* ] Adnan Farooq adalah penulis yang tinggal di Karachi. Artikel ringkasan ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground [CGNews] seizin Dawn.com. Tulisan lengkap bisa dilihat di <em>www.dawn.com</em>.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Dawn.com, 25 Maret 2010, <a href="www.dawn.com">www.dawn.com</a></p>
<p><strong>Foto: </strong>sxc</p>
<p>Artikel ini telah mengalami penyuntingan seperlunya dari ALiF tanpa mengubah isi cerita. Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/festival-sastra-pakistan-menyembuhkan-dengan-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Faisal, Masjid Unik dari Islamabad</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/masjid-faisal-masjid-unik-dari-islamabad/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/masjid-faisal-masjid-unik-dari-islamabad/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 02:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[masjid faisal]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7825</guid>
		<description><![CDATA[Masjid tidak selalu harus berkubah. Seperti masjid di Islamabad yang berbentuk unik dan menjadi kebanggaan warga Pakistan. Islamabad yang berarti rumah untuk Islam adalah ibukota Pakistan dan kota kesepuluh terbesar di negeri ini dengan populasi sekira 1,74 juta orang pada tahun 2009. Kota yang dibuat sekitar tahun 1960-an ini merupakan pengganti Karachi sebagai ibukota, setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-7828" style="margin: 5px 7px;" title="oase_faisal2_ed51" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/oase_faisal2_ed51.jpg" alt="oase_faisal2_ed51" width="300" height="225" />Masjid tidak selalu harus berkubah. Seperti masjid di Islamabad yang berbentuk unik dan menjadi kebanggaan warga Pakistan.</strong></p>
<p>Islamabad yang berarti rumah untuk Islam adalah ibukota Pakistan dan kota kesepuluh terbesar di negeri ini dengan populasi sekira 1,74 juta orang pada tahun 2009. Kota yang dibuat sekitar tahun 1960-an ini merupakan pengganti Karachi sebagai ibukota, setelah berpindah sebelumnya ke Rawalpindi sambil menunggu pembangunan di kota ini diselesaikan. Islamabad adalah salah satu kota yang paling ‘hijau’ dan paling tertata dengan sangat rapi di Asia Selatan.</p>
<p>Di Islamabad juga terdapat beberapa tempat bergengsi kebanggaan warga Pakistan. Antara lain Masjid Faisal, universitas terbaik di Pakistan, Quaid-i-Azam University, juga ada beberapa universitas bergengsi lainnya. Selain itu tempat ini memiliki sejarah yang sangat berharga, karena ditemukan sisa-sisa peninggalan manusia dari jaman batu [sekira 3.000 tahun Sebelum Masehi]. Kota ini pernah diguncang gempa besar, juga teroris yang memorakporandakan sebuah masjid, sebuah kedutaan, dan sebuah hotel. Namun kota ini tetap menyimpan beberapa pesonanya yang dapat dinikmati oleh para turis mancanegara</p>
<p>Masjid Faisal misalnya. Masjid ini merupakan bangunan kebanggaan masyarakat negara ini, karena merupakan masjid terbesar di Pakistan dan Asia Selatan. Juga masjid terbesar keempat di dunia setelah Masjid Hassan II di Casablanca, Masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid yang terletak di kaki bukit Margala, di kaki Gunung Himalaya, menempati lahan seluas 5.000 meter persegi dengan kapasitas 300.000 jamaah dalam satu waktu bersama-sama.<img class="alignright size-full wp-image-7829" style="margin: 5px 7px;" title="oase_faisal4_ed51" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/oase_faisal4_ed51.jpg" alt="oase_faisal4_ed51" width="136" height="106" /></p>
<p>Nama Faisal merupakan nama dari penggagasnya, yaitu almarhum Raja Faisal bin Abdul Aziz dari Arab Saudi, pada saat kunjungan beliau di tahun 1966 ke Pakistan. Pada tahun 1969 dibuatlah sebuah kompetisi untuk arsitek dari 17 negara untuk membuat sebuah rancangan masjid bagi Islamabad. Tak disangka-sangka, sebuah karya dari seorang arsitek dari Turki bernama Vedat Dalokay terpilih untuk diwujudkan. Padahal karya tersebut terbilang sangat unik jika dibandingkan dengan bentuk masjid pada umumnya yang rata-rata berkubah. Sehingga disain dari Vedat Dalokay pada saat itu banyak mendapatkan kecaman dari warga negara ini.</p>
<p>Namun hal ini tidak menyurutkan niat raja Faisal untuk menyumbang bagi berdirinya masjid ini. Beliau membiayai sepenuhnya masjid berbiaya 120 juta dolar ini. Pembangunan dimulai tahun 1976 oleh kontraktor lokal dan baru selesai tahun 1986. Pemerintah langsung menamakan masjid ini sebagai masjid Faisal, untuk mengenang dan menghormati nama penyumbangnya yang meninggal pada tahun 1976.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-7827" style="margin: 5px 7px;" title="oase_faisal1_ed51" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/oase_faisal1_ed51.jpg" alt="oase_faisal1_ed51" width="300" height="203" />Keunikan bentuk Masjid Faisal ternyata sangat menyatu dengan panorama kaki bukit yang indah, sehingga ‘membungkam’ para pengritiknya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat masjid unik ini menjadi kebanggaan masyarakat Pakistan. Dengan empat menara yang tinggi namun langsing seperti pensil [80 m], masjid ini terlihat modern dengan ruang shalat bersegi delapan berbentuk seperti tenda yang biasa terlihat di padang pasir. Atapnya setinggi sekitar 40 m dan ditopang dengan empat tiang besar. Sisi luar masjid dihiasi dengan marmer berwarna putih bersih, sedangkan bagian dalam dengan mosaik dan lampu gantung spektakuler yang khusus didatangkan dari Turki.</p>
<p>Selain masjid, tempat itu dulu juga menjadi satu halaman dengan Universitas Islam Internasional yang kemudian sedang dalam proses pemindahan ke tempat lain. Tidak hanya itu, tempat ini juga menjadi makam dari jendral Zia-ul-Haq, Presiden Pakistan tahun 1978-1988, di lantai dasar. Masjid ini juga dapat menjadi tempat kunjungan wisata bagi turis. Hanya khusus pengunjung non muslim, sebaiknya menghindari waktu-waktu shalat dan shalat Jum’at, serta tetap mengenakan pakaian yang rapi, ditambah kerudung bagi pengunjung wanita. «<strong> [esthi] – foto: google.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/masjid-faisal-masjid-unik-dari-islamabad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Kashmir Bagi Perdamaian Kawasan</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/pentingnya-kashmir-bagi-perdamaian-kawasan/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/pentingnya-kashmir-bagi-perdamaian-kawasan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 05:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam in the World]]></category>
		<category><![CDATA[india]]></category>
		<category><![CDATA[kashmir]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7417</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Riyaz Wani *] Srinagar, Kashmir – Akhirnya, serangkaian konferensi dan pertemuan memberi kita secercah harapan akan penyelesaian sengketa antara India dan Pakistan tentang Kashmir yang sudah berlangsung selama 62 tahun. Jika upaya-upaya ini berhasil, tak hanya akan memperbaiki hubungan yang sudah lama bermasalah di antara dua negara tetangga yang punya senjata nuklir itu, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-7418" style="margin: 5px 7px;" title="islam_kashmir_ed47" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/islam_kashmir_ed47.jpg" alt="islam_kashmir_ed47" width="128" height="150" />Oleh </strong>Riyaz Wani *]</p>
<p><strong>Srinagar, Kashmir</strong> – Akhirnya, serangkaian konferensi dan pertemuan memberi kita secercah harapan akan penyelesaian sengketa antara India dan Pakistan tentang Kashmir yang sudah berlangsung selama 62 tahun. Jika upaya-upaya ini berhasil, tak hanya akan memperbaiki hubungan yang sudah lama bermasalah di antara dua negara tetangga yang punya senjata nuklir itu, tapi juga bisa membantu proses perdamaian di negara tetangga mereka, Afghanistan.</p>
<p>Kashmir telah menjadi pusat sengketa wilayah yang berkepanjangan antara Pakistan dan India, yang telah beberapa kali meletuskan perang, dan membuat India melancarkan operasi militer, yang masih berlangsung, untuk melawan para militan separatis Kashmir. Rivalitas dan kecurigaan antara India dan Pakistan selama beberapa dasawarsa, telah menyebabkan keduanya menjalankan misi yang berseberangan di Afghanistan. Pakistan menginginkan adanya rezim di Kabul yang pro-Islamabad untuk meraih tujuan strategisnya guna mengurangi pengaruh India. Sementara, India ingin pemerintahan yang pro-New Delhi agar Pakistan tidak bisa mengambil keuntungan.</p>
<p>Sebuah solusi bagi Kashmir akan setidaknya mengurangi defisit kepercayaan di antara India dan Pakistan, dan sangat mungkin mendorong kerjasama untuk masalah Afghanistan.</p>
<p>Selama beberapa bulan terakhir, India dan Pakistan terlibat dalam dialog-dialog tertutup mengenai Kashmir di Bangkok, menghadirkan orang-orang seperti mantan Duta Besar Pakistan untuk India, Aziz Khan, dan A. S. Dullat, mantan kepala intelijen eksternal India, Research and Analysis Wing [RAW]. Pada saat yang bersamaan, proses ini juga ditopang oleh diskusi-diskusi ‘belakang panggung’ antara New Delhi dan kelompok separatis moderat Kashmir, di antaranya melalui All Parties Hurriyat Conference, untuk membahas isu-isu seputar hubungan India-Kashmir.</p>
<p>Meskipun tidak secara publik diakui oleh Amerika Serikat, upaya-upaya ini ditengarai karena perluasan peran Perwakilan Khusus AS untuk Afghanistan dan Pakistan, Richard Holbrooke. Bahkan Mike Mullen, Kepala Panglima Militer AS, baru-baru ini menyatakan bahwa kepentingan AS di kawasan diwujudkan dengan mendorong semua upaya agar “negara-negara penting ini [India dan Pakistan] mulai menghidupkan kembali proses ‘belakang panggung’ mengenai Kashmir.”</p>
<p>Di kalangan masyarakat sipil, beberapa konferensi diselenggarakan antara September hingga Desember 2009, yang membahas kontroversi seputar Kashmir, dan dihadiri oleh para intelektual, politisi dan aktivis masyarakat sipil dari kedua negara.</p>
<p>Salah satu konferensi, “<em>A Roadmap to Peace</em>”, yang diselenggarakan pada bulan Desember di New Delhi, menyerukan dilanjutkannya kembali dialog yang terhenti di antara kedua negara. Sebelumnya, dua konferensi intra-Kashmir juga digelar pada bulan Oktober di Srinagar dan London. Tujuan umum prakarsa-prakarsa ini adalah untuk mencari jalan agar India dan Pakistan mendamaikan perbedaan mereka dan fokus pada penanganan-bersama terorisme di kawasan, dari Kabul hingga Kashmir.</p>
<p>Meskipun secara kumulatif upaya-upaya ini berpengaruh dalammembantu kedua negara melangkah menuju perdamaian di Asia Selatan, masih ada jalan panjang yang membentang. Juga masih ada kemungkinan akan buyarnya seluruh proses itu jika pemerintah India dan Pakistan gagal menindaklanjuti dan meneruskan upaya-upaya yang tengah berlangsung.</p>
<p>Namun kedua negara akan bertemu lagi dalam pertemuan tingkat tinggi konferensi Asosiasi Asia Selatan untuk Kerjasama Kawasan [SAARC] April nanti di Bhutan. Selain itu India juga telah mengisyaratkan kesediaannya untuk memulai sebuah dialog formal melalui pertemuan Menteri Luar Negeri Pakistan dan India bulan ini.</p>
<p>Ada beberapa faktor yang penting dalam pertemuan yang baru-baru. Yang pertama adalah geopolitik kawasan, di mana perang di Afghanistan menjadi intinya. Situasi di Kabul, saat Taliban kini dianggap sebagai bagian dari solusi politik, telah secara tiba-tiba mengurangi kemampuan India untuk mempengaruhi hasil di negara yang terkoyak perang itu.</p>
<p>Karenanya, Pakistan menjadi pemegang posisi kendali yang lebih besar, di mana kesediaan Pakistan untuk menjaga kepentingan India di Afghanistan dan perannya sebagai salah satu pihak dalam pengupayaan perdamaian dan keamanan di sana, bisa memberi dorongan bagi normalisasi hubungan antara India dan Pakistan. Pada sisi lain, Pakistan akan mendapat keuntungan dari hubungan baiknya dengan India guna memastikan berlanjutnya stabilitas di wilayah perbatasan timurnya.</p>
<p>Tantangan di hadapan India dan Pakistan tidaklah hanya untuk menangani sengketa soal Kashmir, yang menjadi pangkal perdebatan yang berkepanjangan dan buruknya hubungan di antara mereka, tapi juga untuk memastikan kebijakan dan posisi mereka yang selama ini berbeda soal Afghanistan bisa sejalan. Sementara pertaruhan di Kabul semakin besar setiap hari, babak baru dari hubungan bilateral antara India dan Pakistan akan menjadi harapan. «<strong> []</strong></p>
<p>*] Riyaz Wani adalah seorang jurnalis asal Kashmir yang bekerja untuk harian terkemuka India, The Indian Express. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground [CGNews].</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Kantor Berita Common Ground [CGNews], 19 Februari 2010, <a href="www.commongroundnews.org">www.commongroundnews.org</a></p>
<p>Foto: google.com</p>
<p>Artikel ini telah mengalami pengeditan seperlunya dari ALiF tanpa mengurangi inti cerita. Telah memperoleh izin publikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/pentingnya-kashmir-bagi-perdamaian-kawasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakistan, Magnet Wisata Asia Selatan</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/pakistan-magnet-wisata-asia-selatan/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/pakistan-magnet-wisata-asia-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 08:15:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.majalahalif.com/?p=4930</guid>
		<description><![CDATA[Pakistan adalah negara dengan populasi Muslim terbanyak kedua di dunia setelah Indonesia. Letak geografisnya yang berbatasan dengan negara Iran, India, Afghanistan, dan Cina, membuat Pakistan memiliki keunikan tersendiri. Di negeri ini, terdapat aneka panorama wisata dengan sentuhan budaya Islam. Kalau Anda ingin menyelami keindahan arsitektur Islam, datanglah ke Pakistan. Di negeri ini, banyak sekali warisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-4932" style="margin: 5px 7px;" title="oase_1_ed33" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2009/11/oase_1_ed33.jpg" alt="oase_1_ed33" width="300" height="225" />Pakistan adalah negara dengan populasi Muslim terbanyak kedua di dunia setelah Indonesia. Letak geografisnya yang berbatasan dengan negara Iran, India, Afghanistan, dan Cina, membuat Pakistan memiliki keunikan tersendiri. Di negeri ini, terdapat aneka panorama wisata dengan sentuhan budaya Islam. </strong></p>
<p>Kalau Anda ingin menyelami keindahan arsitektur Islam, datanglah ke Pakistan. Di negeri ini, banyak sekali warisan budaya Islam yang layak dinikmati sebagai objek wisata. Misalnya, di kota Lahore yang dikenal sebagai jantung budaya Pakistan. Di kota tepian Sungai Ravi ini, terdapat beberapa bangunan bersejarah. Di antaranya monumen Royal Fort, Masjid Wazir Khan, Taman Shalimar, dan Makam Jehangir.</p>
<p>Beberapa peninggalan sejarah tersebut merupakan bukti bahwa dulu ada peradaban kuno dengan munculnya sejumlah dinasti, seperti Dinasti Gaznevis [1021-1186], Ghoris [1186-1202], dan Mughal [1524-1764]. Tak hanya itu, situs-situs bersejarah pun bisa ditemui di kawasan Pakistan Selatan, tepatnya di Lembah Indus. Di kawasan ini dulu pernah ada peradaban kuno yang dikenal dengan peradaban Sungai Indus [2800-1800 SM]. Di kawasan ini, terdapat sisa peninggalan budaya yang disebut dengan peninggalan budaya Harappa.<img class="alignright size-full wp-image-4933" style="margin: 5px 7px;" title="oase_2_ed33" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2009/11/oase_2_ed33.jpg" alt="oase_2_ed33" width="250" height="188" /></p>
<p>Selain Harappa, ada juga kota tua Moenjodaro. Kota ini disebut-sebut sebagai kota kuno paling spektakuler di dunia. Di sini terdapat bangunan-bangunan yang terbuat dari bata lumpur, juga benteng, istana, dan gedung sekolah bagi para imam. Situs kota Moenjodaro ini ditemukan pada tahun 1922 dan ditetapkan sebagai warisan dunia yang harus dilestarikan.</p>
<p>Pakistan termasuk negeri yang terlewati Jalur Sutra [<em>Silk Road</em>], yang dikenal sebagai jalur perdagangan dari Timur Tengah menuju daratan China. Untuk menghidupkan jalur ini untuk kepentingan wisata, pemeritah Pakistan membangun jalan khusus, yang dikenal dengan Jalan Raya Karakoram. Jalan di area pegunungan ini mempermudah wisatawan yang ingin mengunjungi kawasan jalur sutra lainnya di luar negeri Pakistan, yakni kawasan Muslim Xinjang, China, negeri Kirgiztan, Tajikistan, Kazahktan, dan Uzbekistan.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-4934" style="margin: 5px 7px;" title="oase_3_ed33" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2009/11/oase_3_ed33.jpg" alt="oase_3_ed33" width="200" height="145" />Secara domestik, jalan Karakoram menjadi penghubung beberapa tempat wisata menarik di kawasan Pakistan Utara, yang menebarkan pesona wisata alam pegunungan. Di daerah ini, lembah dan gletser menyatu padu menampilkan pemandangan gunung bersalju dengan ketinggian bervarisasi, antara 1.000 meter sampai 800 meter. Gilgit, Huzna, dan Skardu adalah lembah yang kabarnya banyak dikunjungi wisatawan mancanegara karena keelokan dan suasananya yang memukau.</p>
<p>Daya tarik kawasan ini kian lengkap dengan budaya penduduknya. Tak jarang, mereka menyelenggarakan tarian dan musik rakyat bagi para pelancong yang kebetulan ingin sekedar berwisata atau menikmati barisan gunung tinggi. Di antaranya gunung K2 [8.611 meter - gunung tertinggi kedua di dunia] dan gunung Nanga Parbat [8.126 meter]. Dua gunung paling mencuri perhatian wisatawan yang melancong ke Pakistan Utara.<img class="alignright size-full wp-image-4935" style="margin: 5px 7px;" title="oase_4_ed33" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2009/11/oase_4_ed33.jpg" alt="oase_4_ed33" width="200" height="150" /></p>
<p>Secara geografis, Pakistan Utara berada pada wilayah dataran tinggi. Jadi, tak hanya gunung-gunung tinggi yang menjadi ciri khas alamnya, tetapi juga beberapa gletser yang jaraknya bisa puluhan kilometer. Di antaranya adalah gletser Siachen [72 km], Batura [64 km], Hispar [61 km], dan Biafo [64 km]. Kawasan gletser ini sering dipakai wisatawan untuk olahraga ski dan kereta anjing.</p>
<p>Dengan perpaduan panorama budaya dengan alam, Pakistan dikenal dengan “negeri seribu petualangan”. Dataran tinggi di kawasan utara sampai dataran rendah di kawasan selatan, kota Karachi, yang berbatasan dengan Laut Arab, membuat Pakistan menjadi pilihan bagi wisatawan yang suka bertualang.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-4931" style="margin: 5px 7px;" title="oase_6_ed33" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2009/11/oase_6_ed33.jpg" alt="oase_6_ed33" width="200" height="150" />Setiap tahun, terutama pada masa liburan, banyak pelancong dari berbagai negara berkunjung ke Pakistan hanya untuk <em>trekking</em>, arung jeram, berburu babi hutan, dan bersafari. Aneka satwa liar pun bisa ditemui di negeri ini. Satwa ini berbaur dengan keindahan flora di daerah bersalju, hutan, dan tumbuhan di sepanjang garis pantai kawasan Karachi. Sedangkan wisatawan yang ingin berlayar ke lepas pantas Laut Arab dari pantai Karachi, kalau beruntung, bisa menemukan paus biru, yang dianggap sebagai binatang mamalia terbesar di dunia.</p>
<p>Ya, Karachi boleh dibilang kota internasional. Kota besar di Pakistan ini seringkali menjadi transit para pelancong yang akan ke kawasan wisata di Pakistan. Maklum, Karachi memiliki bandara kelas internasional. Banyak maskapai penerbangan luar negeri yang memilih Karachi sebagai transit penerbangan internasional. Selain menuju kota Karachi, wisatawan pun tak sulit untuk melakukan penerbangan ke kota Islamabad dan Lahore. Syaratnya mereka harus terbang dari Bangkok, Dubai, Jeddah, Beijing, London, Copenhagen, Frankfurt, Paris, dan New York. Dengan banyaknya akses penerbangan dari beberapa kota penjuru dunia ini, Pakistan memang layak disebut magnet wisata di Asia Selatan. «<strong> [yogira] &#8211; foto: google.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/pakistan-magnet-wisata-asia-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

