<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; perilaku</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/perilaku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 13:14:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Quote 20 Desember 2011</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/quote-20-desember-2011/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/quote-20-desember-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 11:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aca tadesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[nilai]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=15586</guid>
		<description><![CDATA[Karakter terpuji adalah hasil internalisasi nilai-nilai agama dan moral yang ditandai oleh sikap dan perilaku positif.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karakter terpuji adalah hasil internalisasi nilai-nilai agama dan moral yang ditandai oleh sikap dan perilaku positif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/quote-20-desember-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan Pendidikan Kita?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/ada-apa-dengan-pendidikan-kita/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/ada-apa-dengan-pendidikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 22:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7578</guid>
		<description><![CDATA[“Enggak makan sekolahan ya?” Ingatkah dengan kata-kata berlogat Betawi ini, yang hingga kini masih kerap terdengar di teve terhadap seseorang yang menunjukkan perilaku yang buruk? Kata-kata ini secara umum menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan sepatutnya menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sedangkan orang yang berperilaku seenaknya saja, tanpa aturan, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-7579" style="margin: 5px 7px;" title="utama_pendidikan_ed49" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/utama_pendidikan_ed49.jpg" alt="utama_pendidikan_ed49" width="300" height="196" />“<em>Enggak </em>makan sekolahan ya?” Ingatkah dengan kata-kata berlogat Betawi ini, yang hingga kini masih kerap terdengar di teve terhadap seseorang yang menunjukkan perilaku yang buruk? Kata-kata ini secara umum menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan sepatutnya menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sedangkan orang yang berperilaku seenaknya saja, tanpa aturan, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak pernah mengenyam bangku sekolah, alias tidak berpendidikan.</p>
<p>Pernyataan tersebut sesuai dengan hakekat pendidikan dalam Islam yang seharusnya. Seperti yang diungkapkan Abu ‘Ali al-Husayn bin ‘Abdullah Ibnu Sina yang dikenal sebagai ilmuwan dan dokter legendaris. Menurut Ibnu Sina, pendidikan atau pembelajaran itu menyangkut seluruh aspek pada diri manusia, mulai dari fisik, mental, maupun moral. Tak hanya itu, namun pendidikan juga seyogyanya dapat membentuk individu yang menyeluruh termasuk jiwa, pikiran, dan karakter, yang dapat menyiapkan anak menghadapi masa dewasa. Namun benarkah demikian?</p>
<p>Faktanya, semakin hari semakin banyak orang yang berpendidikan tidak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Jika melihat siswa yang masih duduk TK merusakkan barang, atau memukul temannya, tentu hal ini dimaklumi sebagai akibat anak-anak tersebut belum mampu mengendalikan emosi. Namun jika yang melakukan perbuatan merusak maupun penyerangan terhadap orang lain itu seseorang yang telah duduk di bangku kuliah, maka di manakah salahnya?</p>
<p>Tawuran yang berkali-kali terjadi menunjukkan adanya masalah serius di bidang pendidikan. Walaupun pihak kampus juga perlu dipertanyakan dalam hal ketegasan pemberlakuan sanksi, adanya kesenjangan komunikasi serta kemungkinan-kemungkinan lain, seperti kurangnya kegiatan-kegiatan positif yang diadakan di kampus. Namun pendidikan merupakan sebuah proses yang panjang, sehingga tidak bijaksana jika hanya pihak kampus yang disalahkan.</p>
<p>Selain itu menyerahkan sepenuhnya kesalahan terhadap sistem pendidikan maupun institusi pendidikan juga bukan sebuah solusi yang tuntas. Walaupun pihak sekolah mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, namun tidak akan mampu mendewasakan manusia seutuhnya. Karena pendukung dan pelaksana pendidikan bukan hanya dilihat dari segi tenaga, dana, dan sarana yang disediakan pemerintah. Lebih dari itu, juga kerjasama antara keluarga, masyarakat dan peserta didik secara timbal balik. Pendidikan merupakan tanggungjawab kita bersama, seperti pepatah, “Butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak.”</p>
<p>Orangtua pun merupakan tenaga kependidikan yang utama maupun pertama. Tentu sebagai orangtua, kita tidak bisa lepas tangan, bak menyerahkan adonan tanah liat ke pihak sekolah dan mengharap menerima kembali sebuah bejana yang indah di akhir masa sekolah, tanpa ikut campur membentuknya. Namun jika mendapatkan bentuk yang tidak sesuai, lalu orangtua sibuk menyalahkan pihak sekolah maupun pemerintah. Karena seperti sabda Rasulullah, “<em>Sesungguhnya Allah akan mempertanyakan kepada setiap penggembala apa yang dilakukannya terhadap gembalaannya, menjaganya atau menghilangkannya hingga seseorang akan ditanya tanggungjawabnya terhadap keluarganya</em>.” [An-Nasâi dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam shahih-nya secara marfu’]. «<strong> [esthi] – foto: sxc</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/ada-apa-dengan-pendidikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Perilaku Buruk si Kecil</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/beberapa-perilaku-buruk-si-kecil/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/beberapa-perilaku-buruk-si-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 10:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mawaddah]]></category>
		<category><![CDATA[buruk]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7516</guid>
		<description><![CDATA[Semakin si kecil bertambah usia, semakin mengejutkan perilakunya. Apa yang dapat dilakukan untuk menyikapinya? Nanda terkejut mendengar putrinya yang baru masuk SD berkata kasar padanya. Waktu Nanda meminta sang putri, Vitra, membantu adiknya membersihkan kamar, Vitra berkata, “Maksud loe Ma?!” Walaupun kaget, tapi Nanda menyadari bahwa semua ini merupakan konsekuensi pergaulan Vitra yang semakin luas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-7517" style="margin: 5px 7px;" title="mawaddah_perilaku_ed48" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/mawaddah_perilaku_ed48.jpg" alt="mawaddah_perilaku_ed48" width="300" height="224" />Semakin si kecil bertambah usia, semakin mengejutkan perilakunya. Apa yang dapat dilakukan untuk menyikapinya?</strong></p>
<p>Nanda terkejut mendengar putrinya yang baru masuk SD berkata kasar padanya. Waktu Nanda meminta sang putri, Vitra, membantu adiknya membersihkan kamar, Vitra berkata, “Maksud <em>loe </em>Ma?!” Walaupun kaget, tapi Nanda menyadari bahwa semua ini merupakan konsekuensi pergaulan Vitra yang semakin luas di SD. Putrinya tersebut pasti sedang ikut-ikutan cara &#8216;gaul&#8217; teman-temannya di sekolah barunya tersebut. Sayangnya sang putri kali ini salah sasaran!</p>
<p>Semakin lama si kecil makin berkembang dan semakin memperluas pergaulannya seperti Vitra. Tak heran jika mereka pun mulai coba-coba melakukan hal-hal yang buruk. Sebagian memang didapatnya dari meniru perilaku teman-temannya yang lain, namun sebagian lagi bisa saja merupakan ekspresi dari emosi yang dipendamnya karena satu dan lain hal yang terjadi di rumah. Jika ini terjadi, cobalah melakukan introspeksi pada diri sendiri. Bisa saja perilaku si kecil ditirunya mentah-mentah dari Anda, atau ekspresi dari perasaannya sendiri terhadap apa yang dirasakan di rumah.</p>
<p>Beberapa perilaku buruk yang mungkin timbul, antara lain:</p>
<p><strong>Berbohong</strong><br />
Kepercayaan adalah hal yang paling penting Anda ajarkan pada si kecil. Jika si kecil berbohong, mungkinkah itu ditirunya dari orang-orang di sekelilingnya, ataukah karena dia merasa terlalu takut untuk berkata jujur?</p>
<p>Yang dapat dilakukan:</p>
<ul>
<li>Jika yang berbohong anak di bawah usia 4 tahun, maka jangan terlalu cepat menuduhnya pembohong. Karena anak usia ini masih sulit membedakan antara fantasi dan harapan-harapan atau realita.</li>
<li>Tugas Anda untuk menjelaskan perbedaan dua hal tersebut dengan cara yang <em>fun </em>dan dapat dipahami si kecil.</li>
<li>Terkadang anak berbohong untuk menghindari perasaan bersalah atau karena takut konsekuensinya. Hargai keberanian si kecil untuk mengakui kesalahannya, namun jangan paksa mereka untuk melakukannya. Jika si kecil merasa nyaman dengan penerimaan Anda atas kejujurannya, di kesempatan yang lain ia akan lebih terbuka pada Anda.</li>
</ul>
<p><strong>Sumpah Serapah</strong><br />
Sumpah serapah dilakukan si kecil, antara lain karena si kecil mau mengekspresikan perasaannya atau hanya sekedar meniru perbuatan orang-orang di sekelilingnya.</p>
<p>Beberapa hal yang dapat dilakukan;</p>
<ul>
<li>Perhatikan apakah ada perilaku Anda atau orang-orang di sekelilingnya yang melakukan hal serupa?</li>
<li>Kadang anak berkata buruk untuk menarik perhatian Anda. Usahakan untuk tetap tenang namun dengan tegas menjelaskan bahwa hal itu tidak dibenarkan. Jangan pedulikan jika ia masih terus mengulangi kata-katanya. Ketenangan Anda akan menyurutkan perilakunya untuk menarik perhatian Anda dengan cara ini.</li>
<li>Namun jangan lupa untuk tetap tegas melarang kata-kata ini, karena bisa saja anak hanya coba-coba melihat reaksi orang-orang di sekelilingnya akan perilakunya.</li>
<li>Beri penjelasan bahwa kata-kata tersebut dapat menyakiti hati orang yang mendengarnya, dan coba tanyakan jika ada orang yang mengatainya dengan kata-kata serupa. Tumbuhkan empatinya dengan cara ini.</li>
<li>Ajarkan anak untuk bisa mengontrol dirinya sendiri pada keadaan apa pun, misalnya dengan mengajarkannya berhitung bila sedang marah, atau minum air putih, atau berwudhu. Sehingga anak belajar menata dirinya sejak usia dini.</li>
</ul>
<p><strong>Mengekspresikan Kemarahan pada Orangtua</strong><br />
Mendisiplinkan anak dengan berusaha mengontrolnya terus-menerus, membuat anak tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Wajar jika suatu ketika si kecil akan mengekspresikan kemarahannya pada orang terdekatnya, yaitu orangtua. Jika ini terjadi, apa yang dapat dilakukan:</p>
<ul>
<li>Anak sering berkata, “Aku benci Mama!” untuk mengekspresikan rasa kesalnya. Hal ini karena perbendaharaan kata si kecil yang sangat terbatas dan tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaannya. Coba bantu si kecil untuk mengekspresikan perasaannya dengan kata yang lebih tepat.</li>
<li>Bantu si kecil untuk mengekspresikan kemarahannya, misalnya dengan berkata, “Kamu kesal karena Mama tidak mau mendengarkan kata-katamu ya?”</li>
<li>Cobalah untuk tetap tenang dan dengarkan apa yang ingin dikatakan si kecil. Tanyakan apa yang dapat membuatnya tenang kembali, sehingga si kecil pun mendapatkan ide untuk membuat dirinya tenang kembali saat sedang kesal.</li>
<li>Hindari perlawanan kembali pada si kecil, misalnya dengan berkata, “Mama juga kesal sama kamu. Kamu <em>sih</em>!” Mengungkapkan bahwa Anda mencintai dia juga akan membuatnya merasa bersalah sehingga justru memperuncing perasaan &#8216;tidak enak&#8217; di dalam dirinya. Yang penting saat ini adalah si kecil belajar untuk dapat mengurai emosinya sedikit demi sedikit. «<strong> [esthi] – foto: sxc</strong></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/beberapa-perilaku-buruk-si-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quote 2 Maret</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/quote-2-maret/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/quote-2-maret/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 22:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[ketukan]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7222</guid>
		<description><![CDATA[Pertimbangkanlah perilakumu ketika pintu tidak dibuka bagi ketukanmu. « [Pepatah Persia]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertimbangkanlah perilakumu ketika pintu tidak dibuka bagi ketukanmu. «<strong> [Pepatah Persia]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/quote-2-maret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

