<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; q&amp;a</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/qa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 12:25:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kewajiban Puasa bagi Umat Sebelum Kenabian Muhammad</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/kewajiban-puasa-bagi-umat-sebelum-kenabian-muhammad/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/kewajiban-puasa-bagi-umat-sebelum-kenabian-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 22:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8776</guid>
		<description><![CDATA[T: Bisa dijelaskan apa yang dimaksud dalam al-Qur’an bahwa “Sesungguhnya puasa itu diwajibkan sebelum kamu?” No Name M. Quraish Shihab: Dalam QS al-Baqarah [2]: 182, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Di sini, Allah mengajak orang-orang yang beriman agar melaksanakan puasa. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8777" style="margin: 5px 7px;" title="now_puasa_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_puasa_ed56-150x150.jpg" alt="now_puasa_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Bisa dijelaskan apa yang dimaksud dalam al-Qur’an bahwa “<em>Sesungguhnya puasa itu diwajibkan sebelum kamu</em>?”<br />
<strong>No Name</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab:<br />
</strong>Dalam QS al-Baqarah [2]: 182, Allah berfirman: “<em>Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa</em>.” Di sini, Allah mengajak orang-orang yang beriman agar melaksanakan puasa. Dengan menyatakan bahwa puasa adalah suatu kewajiban yang mudah dilaksanakan lagi dibutuhkan oleh manusia. Kata <em>diwajibkan </em>yang digunakan oleh ayat di atas berbentuk pasif, yakni tidak menyebut siapa yang mewajibkannya. Ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya berpuasa adalah satu kegiatan yang sangat baik, sehingga siapa pun yang memahami hakikat dan tujuannya, pastilah ia akan meyakinkannya.</p>
<p>Boleh jadi, kewajiban itu diletakkan oleh pemuka suatu agama, atau pemimpin satu kelompok, bahkan boleh jadi juga seseorang atas dirinya sendiri. Bukankah puasa sedemikian istimewa sampai-sampai Nabi Muhammad Saw bersabda: “<em>Seandainya umatku mengetahui keistimewaan yang terdapat dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar sepanjang tahun adalah Ramadhan</em>.”</p>
<p>Bukankah dewasa ini Anda melihat sekian banyak orang yang berpuasa/menahan diri tidak makan dan minum dengan aneka tujuan, seperti untuk menjaga kesehatan, mengurangi atau menjaga berat badan, melalukan protes, dan lain-lain sebagainya. Semua itu menunjukkan bahwa manusia akan berpuasa kendati bukan Allah yang mewajibkannya. Setelah mengisyaratkan makna itu melalui kata diwajibkan, ayat di atas melanjutkan dengan menyatakan <em>sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu</em>. Frasa ini, bertujuan mengisyaratkan bahwa kewajiban puasa itu, bukan khusus untuk umat Islam, tetapi telah dilakukan pula oleh umat-umat yang lalu, sehingga tidak ada alasan atau dalih untuk menyatakan berat dilakukan. Para pakar menyatakan bahwa para penganut agama sejak dahulu hingga kini mengenal ibadah puasa, walaupun jumlah hari dan cara berpuasanya berbeda-beda. Pakar-pakar perbandingan agama menyebutkan bahwa orang-orang Mesir kuno pun &#8211;sebelum mereka mengenal agama samawi&#8211; telah mengenal puasa. Dari mereka praktik puasa beralih kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama-agama penyembah bintang. Agama Budha, Yahudi, dan Kristen demikian juga. Ibnu an-Nadim dalam buku<em> al-Farasat </em>menyebutkan, agama para penyembah bintang mengharuskan berpuasa tiga puluh hari setahun, ada pula puasa sunnah sebanyak 16 hari, dan juga ada yang 27 hari. Puasa mereka sebagai penghormatan kepada bulan, juga kepada bintang Mars yang mereka percayai sebagai bintang nasib, dan juga kepada matahari. Orang Yahudi mengenal puasa selama empat puluh hari, bahkan dikenal beberapa macam puasa yang dianjurkan bagi penganut-penganut agama ini, khususnya untuk mengenang nabi-nabi atau peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah mereka. Dalam ajaran Kristen dan Budha pun puasa dikenal. Penutup ayat di atas menegaskan bahwa puasa yang diwajibkan itu, pada hakikatnya adalah untuk kemaslahatan pelakunya sendiri, yakni agar mereka bertakwa dalam ari terhindar dari bencana dan siksa duniawi dan ukhrawi. Demikian, <em>Wa Allah a’lam</em>. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/kewajiban-puasa-bagi-umat-sebelum-kenabian-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikrar Masuk Islam</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/ikrar-masuk-islam/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/ikrar-masuk-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 22:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[ikrar]]></category>
		<category><![CDATA[masuk islam]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8770</guid>
		<description><![CDATA[T: Bagaimana cara mengislamkan orang yang ingin masuk Islam? Nazarudin Utsman &#8211; Bogor, Jawa Barat M. Quraish Shihab: Tidak ada tata cara tertentu yang harus ditempuh untuk memeluk Islam atau mengislamkan orang lain. Banyak sahabat Nabi Saw yang hanya menyatakan kesaksiannya bahwa Allah Maha Esa dan Muhammad adalah Rasul-Nya, yang langsung disambut oleh Nabi Saw [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8771" style="margin: 5px 7px;" title="now_ikrar_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_ikrar_ed56-150x150.jpg" alt="now_ikrar_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Bagaimana cara mengislamkan orang yang ingin masuk Islam?<br />
<strong>Nazarudin Utsman &#8211; Bogor, Jawa Barat</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Tidak ada tata cara tertentu yang harus ditempuh untuk memeluk Islam atau mengislamkan orang lain. Banyak sahabat Nabi Saw yang hanya menyatakan kesaksiannya bahwa Allah Maha Esa dan Muhammad adalah Rasul-Nya, yang langsung disambut oleh Nabi Saw sebagai saudara seagama. Bagi Allah swt, yang pokok adalah ketulusan seseorang meyakini keesaan-Nya dan kerasulan Nabi Muhammad Saw.</p>
<p>Sebaliknya &#8211;sebagai manusia&#8211; kita tidak dapat menyelami hati seseorang, maka yang dituntut dari seseorang untuk diakui sebagai Muslim adalah pernyataannya yang disampaikan kepada Muslim yang lain &#8211;walau secara rahasia&#8211; bahwa dia telah memeluk Islam. Kesaksian orang lain perlu karena ada dampak hukum terhadap semua orang Islam yang lain atas keislamannya itu. Misalnya, dia meninggal dunia, maka menjadi kewajiban setiap Muslim untuk memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya.</p>
<p>Kewajiban itu baru gugur jika ada Muslim yang lain yang menanganinya sehingga dia dapat dikebumikan secara Islam. Tentu saja, semakin banyak yang mengetahui keislaman seseorang semakin baik karena itu berarti semakin kukuh kesaksian keislamannya.</p>
<p>Dalam konteks memperkukuh kesaksian itulah, tidak jarang dilakukan upacara pengislaman disertai dengan cara-cara yang berbeda antara satu dan yang lain, sesuai dengan pertimbangan bagi yang melakukannya. Misalnya, ada yang memulai pengislaman dengan terlebih dahulu membaca hamdalah dan bershalawat kepada Nabi Saw kemudian bertanya kepada yang bersangkutan tentang kesungguhan dan ketiadaan paksaan baginya untuk memeluk Islam. Selanjutnya, memintanya atau menuntunnya membaca dua kalimat syahadat dan setelah itu, diakhiri dengan doa dan pesan &#8211;misalnya mandi junub dan mempelajari agama Islam lebih banyak lagi. Kalau yang melakukan pengislaman itu, yayasan atau lembaga, yang bersangkutan biasanya diberi surat keterangan tentang keislamannya. Sekali lagi, yang pokok adalah ucapan dua kalimat syahadat dari yang bersangkutan yang hendaknya disaksikan oleh dua orang Muslim yang dikenal sebagai Muslim yang baik.</p>
<p>Demikian, <em>Wallâhu a‘lam</em>. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/ikrar-masuk-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajibkah Saya Berzakat?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/wajibkah-saya-berzakat/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/wajibkah-saya-berzakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 22:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>
		<category><![CDATA[wajib]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8766</guid>
		<description><![CDATA[T: Saya punya rumah dan mobil yang semuanya sudah mencapai nishab untuk membayar zakat, yakni sejumlah Rp 200 juta. Tetapi, sampai saat ini, saya tidak punya uang sama sekali untuk membayar zakat itu. Bagaimanakah caranya saya membayar zakat? Apakah saya memang diwajibkan berzakat, walau uangnya belum ada, sementara utang saya juga banyak? Tuti Ismailiyah &#8211; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8767" style="margin: 5px 7px;" title="now_zakat_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_zakat_ed56-150x150.jpg" alt="now_zakat_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Saya punya rumah dan mobil yang semuanya sudah mencapai nishab untuk membayar zakat, yakni sejumlah Rp 200 juta. Tetapi, sampai saat ini, saya tidak punya uang sama sekali untuk membayar zakat itu. Bagaimanakah caranya saya membayar zakat? Apakah saya memang diwajibkan berzakat, walau uangnya belum ada, sementara utang saya juga banyak?<br />
<strong>Tuti Ismailiyah &#8211; Jakarta Barat</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Tempat tinggal yang wajar dan kendaraan yang dibutuhkan tidak dihitung sebagai harta yang harus dizakati. Karena itu, jika Anda tidak memiliki harta selama setahun senilai 85 gram emas sisa dari biaya hidup Anda dan keluarga, maka Anda tidak wajib membayar zakat. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/wajibkah-saya-berzakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Redaksi dalam Hadits-hadits Nabi Saw</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/perbedaan-redaksi-dalam-hadits-hadits-nabi-saw/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/perbedaan-redaksi-dalam-hadits-hadits-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 22:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>
		<category><![CDATA[redaksi hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8631</guid>
		<description><![CDATA[T: Ada beberapa hadits riwayat Imam an-Nasâ’î yang ternyata tidak lazim, atau secara tekstual, kalimatnya berbeda dengan yang populer dipahami. Sebagai contoh, dalam hadits nomor 5486 [kitab 8], 5463 [kitab 8], 5459 [kitab 8] tertulis “… dan aku berlindung dari lilitan rijâl .…” Padahal, biasanya tertulis “… berlindung dari kekejaman rijâl dan lilitan utang. A‘ûdzu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8632" style="margin: 5px 7px;" title="now_redaksi_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_redaksi_ed56-150x150.jpg" alt="now_redaksi_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Ada beberapa hadits riwayat Imam an-Nasâ’î yang ternyata tidak lazim, atau secara tekstual, kalimatnya berbeda dengan yang populer dipahami. Sebagai contoh, dalam hadits nomor 5486 [kitab 8], 5463 [kitab 8], 5459 [kitab 8] tertulis “… <em>dan aku berlindung dari lilitan rijâl </em>.…” Padahal, biasanya tertulis “… <em>berlindung dari kekejaman rijâl dan lilitan utang. A‘ûdzu bi-Ka yâ Allâh min … wa min qahri ar-rijâl wa min galabah ad-dain</em>”. Masih banyak contoh yang lain.<br />
<strong>Mohammad Andi K. &#8211; via surel</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Perlu diketahui bahwa ketika Rasul Saw berbicara, sering banyak sahabat beliau yang mendengarnya. Para sahabat memberitakan bahwa beliau berbicara dengan sangat jelas, dengan bahasa yang indah, dan sering mengulangi kalimat-kalimat yang diucapkannya lebih dari sekali.</p>
<p>Ini menjadikan ucapan beliau mudah dihafal. Kendati demikian, tentu saja, ada di antara ucapan beliau itu yang redaksinya tidak sepenuhnya sama dengan apa yang beliau ucapkan, apalagi kemampuan menghafal dan menangkap makna uraian dapat berbeda antara seseorang dengan yang lain.</p>
<p>Oleh karena itu, walaupun para sahabat Nabi berusaha sekuat kemampuan untuk menyampaikan sepenuhnya apa yang mereka dengar sesuai dengan yang diucapkan Nabi Saw, dalam kenyataan, tidak sedikit dari apa yang mereka sampaikan hanya merupakan makna yang diucapkan Nabi Saw, yakni tidak sepenuhnya sama dengan redaksi yang beliau gunakan.</p>
<p>Dari sini, Anda menemukan perbedaan-perbedaan redaksi hadits antara seorang perawi dan perawi lainnya atau ada yang menyampaikan secara sempurna, namun ada juga yang lupa beberapa bagian. Namun demikian, perbedaaan tersebut sangat kecil dan biasanya hanya dalam satu atau dua kata, itu pun dengan makna yang sama atau mirip. Misalnya, sekali beliau berkata al-Fâtihah, di riwayat lain <em>as-Sab‘ al-Matsânî</em>. Walaupun berbeda, keduanya menunjuk pada surah pertama dalam mushaf karena keduanya merupakan dua dari banyak nama surah al-Fâtihah. Demikian, <em>Wallâhu a‘lam</em>. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/perbedaan-redaksi-dalam-hadits-hadits-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ihwal Mengomentari Ayat-ayat al-Qur’an</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/ihwal-mengomentari-ayat-ayat-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/ihwal-mengomentari-ayat-ayat-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 22:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat al-Qur’an]]></category>
		<category><![CDATA[mengomentari]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8621</guid>
		<description><![CDATA[T: Saya mohon Bapak menjawab pertanyaan berikut ini. Setelah ayat terakhir dari surah Sabbihisma yang berbunyi: Shuhufi Ibrâhîma wa Mûsâ [QS. al-A‘lâ [87]: 19] selesai dibaca, kita tidak dibenarkan menyambutnya dengan ucapan ‘Alayhimâ as-salâm. Akan tetapi, setelah ayat terakhir dari surah at-Tîn yang berbunyi Alaysa Allâh bi-ahkam alhâkimîn [QS. at-Tîn [95]: 8] selesai dibaca, kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8622" style="margin: 5px 7px;" title="now_qur'an_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_quran_ed56-150x150.jpg" alt="now_qur'an_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Saya mohon Bapak menjawab pertanyaan berikut ini. Setelah ayat terakhir dari surah Sabbihisma yang berbunyi: <em>Shuhufi Ibrâhîma wa Mûsâ</em> [QS. al-A‘lâ [87]: 19] selesai dibaca, kita tidak dibenarkan menyambutnya dengan ucapan ‘<em>Alayhimâ as-salâm</em>. Akan tetapi, setelah ayat terakhir dari surah at-Tîn yang berbunyi <em>Alaysa Allâh bi-ahkam alhâkimîn </em>[QS. at-Tîn [95]: 8] selesai dibaca, kita boleh menyambutnya dengan ucapan <em>Balâ wa ana ‘alâ dzâlika min asy-syâhidîn</em>. Bagaimana pendapat Bapak? Mohon jawaban yang sempurna disertai dengan dalil-dalilnya.<br />
<strong>H. Abdul Qadir Salim &#8211; Desa Ciledug, Bekasi</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Sewaktu membaca ayat-ayat al-Qur’an, Rasulullah Saw sangat menghayati maknanya. Jika beliau membaca ayat yang berbicara tentang siksa, maka beliau memohon kepada Allah agar dilindungi dari siksa itu. Dan jika beliau membaca ayat yang berbicara tentang rahmat, maka beliau memohon kepada Allah agar dianugerahi rahmat-Nya. Bukan hanya itu. Tidak jarang beliau juga berkomentar tentang kandungan ayat yang dibaca dan menganjurkan untuk mengomentarinya. Sahabat Nabi, Jâbir bin ‘Abdullâh, menginformasikan sebagai berikut, “Nabi Saw menemui sahabat-sahabat beliau dan membacakan kepada mereka surah ar-Rahmân dari awal hingga akhir. Mereka semua terdiam. Maka, Nabi pun bersabda, ‘<em>Aku telah membacakan surah ar-Rahmân kepada para jin di malam</em> [<em>aku bertemu</em>] <em>mereka. Jawaban atau tanggapan para jin lebih baik jawaban atau tanggapan kalian. Setiap kali aku membaca ayat</em>: Fa bi-ayyi’âlâ’i Rabbikumâ tukadzdzibân [Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?], <em>mereka menjawab</em>, “Tidak ada satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Maka, segala puji bagi-Mu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzî.</p>
<p>Dalam kasus di atas, Anda lihat bahwa Nabi tidak mengajarkan kepada para sahabatnya komentar apa yang hendaknya mereka berikan, terserah mereka.</p>
<p>Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsîr mengemukakan riwayat bahwa komentar Ibnu ‘Abbâs atas ayat dalam surah ar-Rahmân itu adalah: <em>Lâ, yâ ayyuhâ ar-Rabb </em>[Tidak ada, wahai Tuhan]. Memang, dalam riwayat lain, Nabi Saw mengajarkan, “<em>Barang siapa di antara kalian membaca surah at-Tîn hingga ayat terakhir</em>: Alaysa Allâh biahkam al-hâkimîn [Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?], <em>maka hendaknya dia mengucapkan</em>: Ana ‘alâ dzâlika min al-syâhidîn [Saya termasuk orang-orang yang bersaksi atas hal itu] <em>dan barang siapa membaca</em>: Lâ uqsimu bi-yawm al-qiyâmah [QS. 75] <em>dan sampai pada ayat terakhir</em>: Alaysa dzâlika bi-qâdir ‘alâ an yuhyî al-mawtâ [Bukankah [Allah yang berbuat] demikian itu mampu menghidupkan orang mati?], <em>maka hendaklah dia mengucapkan</em>, Balâ wa-izzati rabbinâ [Benar, Dia mampu demi kemuliaan Tuhan kami]. <em>Dan barang siapa membaca</em>, Wa al-mursalât [QS. 77] <em>dan sampai pada ayat terakhir</em>: Fa bi’ayyi hadîts ba‘dahu yu’minûn [Maka kepada perkataan apakah sesudah al-Qur’an ini mereka akan beriman?], <em>maka hendaklah dia mengucapkan</em>: Âmannâ billâh [Kami beriman kepada Allah],&#8230;” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzî dan Abû Dâwûd dari Abû Hurairah.</p>
<p>Anda lihat bahwa ada anjuran Nabi Saw untuk membaca apa yang Anda tanyakan di atas. Memang, boleh jadi, ada yang berpendapat bahwa membaca ‘Alayhimâ as-salâm di akhir surah Sabbihisma atau al-A‘lâ tidak ditemukan dalilnya. Namun demikian, pada hakikatnya, ucapan salam atas kedua nabi [Ibrâhîm dan Mûsâ] merupakan ucapan yang dianjurkan. Bukankah dalam al-Qur’an ditemukan salam-salam Ilahi kepada para nabi-Nya, bahkan kepada nabi-nabi tertentu? Atas dasar itu tidak ada halangan untuk mengucapkan ‘<em>Alayhimâ al-salâm </em>pada akhir surah Sabbihisma. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/ihwal-mengomentari-ayat-ayat-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Profesi</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/zakat-profesi/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/zakat-profesi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 22:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[profesi]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8617</guid>
		<description><![CDATA[T: Saya keluarkan setiap bulan 2,5% gaji sebagai zakat profesi dan masih ada sisa untuk tabungan setelah digunakan untuk keperluan hidup. Apakah masih harus berzakat dari tabungan itu jika telah mencapai nisab setahun? Ahmad Fananie &#8211; Jakarta M. Quraish Shihab: Tidak lagi untuk tahun ketika uang itu terkumpul. Bukankah Anda telah mengeluarkan zakatnya setiap bulan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8618" style="margin: 5px 7px;" title="now_profesi_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_profesi_ed56-150x150.jpg" alt="now_profesi_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Saya keluarkan setiap bulan 2,5% gaji sebagai zakat profesi dan masih ada sisa untuk tabungan setelah digunakan untuk keperluan hidup. Apakah masih harus berzakat dari tabungan itu jika telah mencapai nisab setahun?<br />
<strong>Ahmad Fananie &#8211; Jakarta</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Tidak lagi untuk tahun ketika uang itu terkumpul. Bukankah Anda telah mengeluarkan zakatnya setiap bulan, yang sesungguhnya baru wajib setelah Anda miliki setahun? Ditambah lagi yang wajib dizakati hanya sisa dari penghasilan Anda. Ini kalau zakat profesi dianalogikan dengan zakat mal, tetapi jika dianalogikan dengan zakat pertanian, apa yang Anda keluarkan itu telah memenuhi ketentuan. « <strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/zakat-profesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Ayat 50 Surah al-Mu’minûn, Allâh, Muhammad, ‘Îsâ al-Masîh, dan Pengangkatan ke Langit</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/makna-ayat-50-surah-al-mu%e2%80%99minun-allah-muhammad-%e2%80%98isa-al-masih-dan-pengangkatan-ke-langit/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/makna-ayat-50-surah-al-mu%e2%80%99minun-allah-muhammad-%e2%80%98isa-al-masih-dan-pengangkatan-ke-langit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 22:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8614</guid>
		<description><![CDATA[T: Mohon penjelasan Bapak tentang makna Allâh, Muhammad, ‘Îsâ al-Masîh [Yesus], dan pengangkatannya ke langit. Mohon juga dijelaskan tentang makna ayat 50 dalam surah al-Mu’minûn. Nur Ahmad – Surabaya, Lu Huan Ni – Sukabumi, dan Kasim Wahyono &#8211; Surabaya M. Quraish Shihab: Nama Tuhan dalam ajaran Islam adalah Allâh. Makna kata ini diperselisihkan oleh para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8615" style="margin: 5px 7px;" title="now_langit_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_langit_ed56-150x150.jpg" alt="now_langit_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Mohon penjelasan Bapak tentang makna Allâh, Muhammad, ‘Îsâ al-Masîh [Yesus], dan pengangkatannya ke langit. Mohon juga dijelaskan tentang makna ayat 50 dalam surah al-Mu’minûn.<br />
<strong>Nur Ahmad – Surabaya</strong>,<strong> Lu Huan Ni – Sukabumi</strong>, dan<strong> Kasim Wahyono &#8211; Surabaya</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Nama Tuhan dalam ajaran Islam adalah <em>Allâh</em>. Makna kata ini diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang berpendapat bahwa kata itu terambil dari akar kata <em>aliha</em>, yang bermakna “sembah dan taat”. Karena itu, Tuhan dinamai Allah karena Dia disembah dan ditaati. Atau, kata itu terambil dari akar kata <em>walaha</em>, yang bermakna “heran, bingung, dan menakjubkan”, karena semua ciptaan-Nya menakjubkan. Sementara itu, mereka yang ingin mengenal hakikat dzat atau substansi-Nya akan mengalami kebingungan karena akal manusia tidak mampu menjangkau-Nya.</p>
<p><em> Muhammad </em>terambil dari akar kata <em>hamd </em>yang secara harfiah berarti “pujian”. Ketika kakeknya, ‘Abd al-Muththâlib, menamai cucunya Muhammad &#8211;nama yang amat tidak populer ketika itu&#8211; ada yang bertanya ihwal mengapa nama itu yang dipilihnya. ‘Abd al-Muththâlib menjawab, “Aku berharap bahwa cucuku kelak menjadi orang terpuji.”</p>
<p>Kata ‘<em>Îsâ </em>terambil dari kata dalam bahasa Ibrani: <em>yasu</em>’ dan diucapkan Isa oleh lidah orang Arab. Lidah orang Barat mengucapkannya Yesus.</p>
<p>Nabi ‘Îsâ juga dinamai <em>al-Masîh</em>. Ada yang berpendapat bahwa kata ini terambil dari akar kata sâha, yang berarti “melakukan perjalanan”.</p>
<p>Nabi ‘Îsâ dinamai al-Masîh karena beliau senang melakukan perjalanan dalam rangka menyampaikan ajaran-ajarannya. Ada lagi yang berpendapat bahwa al-Masîh terambil dari akar kata masaha, yang berarti “usap”. Ini karena beliau diusap dan diberkati atau karena beliau mengusap dan memberkati.</p>
<p>Ayat 50 dalam surah al-Mu’minûn tidak berbicara tentang penamaan ‘Îsâ dengan al-Masîh, tetapi tentang perlindungan Allah kepada ‘Îsâ dan ibu beliau ke satu tempat, yakni tanah tinggi yang datar serta banyak padang rumputnya dan ada juga sumber airnya yang mengalir.</p>
<p>Banyak ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah suatu daerah di Palestina, karena di sanalah beliau dilahirkan atau dibesarkan dan menyampaikan ajaran-ajarannya. Palestina [sebagian besar Israel sekarang] bukanlah &#8211;seperti yang Anda duga&#8211; bertanah gersang. Palestina adalah daerah subur yang memiliki dataran-dataran tinggi.</p>
<p>Ada juga yang berpendapat bahwa daerah itu ada di India. Al-Qur’an tidak menginformasikan lokasi tempat itu. Seorang Muslim tidak diwajibkan mengetahui lokasinya. Yang wajib diyakini hanyalah bahwa beliau adalah hamba Allah dan utusan-Nya yang lahir tanpa ayah dari seorang ibu yang suci, Maryam as., yang tidak pernah disentuh kehormatannya oleh seorang manusia pun dan bahwa beliau telah diselamatkan Allah dari gangguan tangan-tangan jahil. Beliau tidak disalib dan tidak dibunuh. Yang dibunuh adalah seorang yang mirip beliau dan diduga sebagai ‘Îsâ, tetapi sebenarnya bukan beliau.</p>
<p>‘Îsâ as. datang dengan membawa berbagai ajaran. Di antaranya adalah kewajiban shalat, zakat, dan berbakti kepada orangtua selama hidup di muka bumi ini. Memang, dalam pandangan ajaran Islam, para nabi dan rasul membawa ajaran yang sama dalam prinsip-prinsip akidah [keesaan Allah, kenabian, dan keyakinan pada Hari Kemudian], prinsip-prinsip syariat [shalat, zakat, puasa, dan haji] serta prinsip-prinsip akhlak. Perbedaannya hanya terletak pada perincian dan cara.</p>
<p>Bahwa ‘Îsâ as. kini masih hidup di langit tidaklah wajib dipercayai.</p>
<p>Memang, ada ulama yang berpendapat demikian berdasarkan pemahaman mereka tentang arti ayat 55 dalam surah Âli ‘Imrân: “&#8230;<em>Dan Aku </em>[<em>Allah</em>] <em>akan mengangkatmu ke sisi-Ku</em>,&#8230;” dan beberapa hadits Nabi Muhammad Saw yang berkaitan dengan kenaikan al-Masîh dan turunnya kelak menjelang Hari Kiamat. Akan tetapi, hadits-hadits seperti itu &#8211;meskipun banyak jumlahnya&#8211; semuanya bermuara pada dua orang saja yang keduanya bekas penganut agama Kristen, yakni Ka‘ab al-Ahbâr dan Wahhab bin Munabbih. Tidak sedikit ulama yang menilai bahwa informasi mereka tentang kehidupan Nabi ‘Îsâ di langit dan bakal turunnya kelak pada hakikatnya bersumber dari sisa kepercayaan kedua perawi hadits-hadits itu. Dengan demikian, pengertian ayat 55 dalam surah Âli ‘Imrân di atas bukanlah dalam pengertian diangkat fisiknya, melainkan diangkat derajatnya ke sisi Allah. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/makna-ayat-50-surah-al-mu%e2%80%99minun-allah-muhammad-%e2%80%98isa-al-masih-dan-pengangkatan-ke-langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haji Akbar dan Haji Biasa</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/haji-akbar-dan-haji-biasa/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/haji-akbar-dan-haji-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 22:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[haji akbar]]></category>
		<category><![CDATA[haji biasa]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8610</guid>
		<description><![CDATA[T: Apakah yang dimaksud dengan haji akbar, dan apa perbedaannya dengan haji biasa? Ahmad Nu’man &#8211; Depok, Jakarta M. Quraish Shihab: Al-Qur’an [QS. at-Taubah [9]: 3] menyebut istilah haji akbar [al-hajj al-akbar], “Dan inilah satu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari Haji Akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8611" style="margin: 5px 7px;" title="now_haji_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_haji_ed56-150x141.jpg" alt="now_haji_ed56" width="150" height="141" />T: </strong>Apakah yang dimaksud dengan haji akbar, dan apa perbedaannya dengan haji biasa?<br />
<strong>Ahmad Nu’man &#8211; Depok, Jakarta</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Al-Qur’an [QS. at-Taubah [9]: 3] menyebut istilah haji akbar [<em>al-hajj al-akbar</em>], “<em>Dan inilah satu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari Haji Akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik</em>,&#8230;”. Ayat ini turun pada tahun ke sembilan hijrah, dan tahun itulah yang dimaksud oleh ayat ini dengan tahun haji akbar. Dalam beberapa kitab tafsir, antara lain <em>Tafsîr al-Qurthûbî</em>, dijelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hari haji akbar yang dimaksudkan dalam ayat itu. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan hari haji akbar [al-hajj al-akbar] adalah hari wuquf di ‘Arafah, yakni tanggal 9 Dzulhijjah.<br />
Inilah pendapat Imam Abû Hanîfah dan Imam Syâfi‘î. Sementara itu, Imam Mâlik, ath-Thabarî, dan Imam Bukhârî berpendapat bahwa hari itu adalah hari penyembelihan kurban di Mina atau, dengan kata lain, tanggal 10 Dzulhijjah [Hari Raya Idul Adha]. Seperti terbaca dalam ayat di atas, para ulama mengaitkan “hari haji akbar” dengan aktivitas ibadah haji &#8211;wuquf atau penyembelihan kurban. Jika kita menerima pendapat para ulama di atas, yakni bahwa “hari haji akbar” adalah hari wuquf atau hari penyembelihan kurban, maka ini berarti bahwa ibadah haji yang dilaksanakan setiap tahun disebut haji akbar. Sebab, dalam ibadah haji setiap tahun, pastilah ada hari wuquf dan hari penyembelihan kurban. Bahkan, secara tegas dan gamblang Imam ‘Athâ’ menyatakan bahwa haji akbar adalah haji [kunjungan ke Mekkah] yang disertai dengan kewajiban wuquf di ‘Arafah. Imam Mujâhid lebih jelas lagi dengan menyatakan bahwa seluruh hari pelaksanaan ibadah haji dinamai haji akbar. Kembali kepada Imam al-Qurthûbî, ulama ini menjelaskan bahwa hari itu disebut hari haji akbar, karena dikenal pula istilah haji kecil [<em>al-hajj al-asghar</em>]. Haji kecil adalah umrah. Dengan demikian, ibadah haji yang dalam pelaksanaannya mengandung tata cara umrah ditambah wuquf, melontar, dan lain-lain wajar disebut haji akbar, untuk membedakannya dengan umrah.</p>
<p>Ada juga sebagian ulama lain yang berpendapat bahwa ia disebut haji akbar, karena &#8211;ketika dikumandangkan permakluman oleh ayat di atas&#8211; orang-orang Muslim dan musyrik berkumpul melaksanakan ibadah haji, atau hari itu bertepatan dengan empat hari raya penganut berbagai agama &#8211;Islam, Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Betapapun juga, pada akhirnya, kita dapat mengatakan bahwa tidak ditemukan pendapat seorang ulama pun yang mengaitkan hari haji akbar dengan hari Jumat, sebagaimana populer di kalangan masyarakat.</p>
<p>Memang benar bahwa wuquf di ‘Arafah pada hari Jumat memiliki keistimewaan, karena hari Jumat adalah hari yang terbaik [sayyid alayyâm], dan Nabi Muhammad hanya melaksanakan ibadah haji sekali seumur hidup dengan wuquf di ‘Arafah yang bertepatan dengan hari Jumat.     Di sisi lain, ada sebuah riwayat bernilai <em>dhaif </em>yang berbunyi demikian, “<em>Seutama-utama hari adalah hari ‘Arafah. Dan jika hari ‘Arafah ini bertepatan dengan hari Jumat, maka haji yang dilakukan pada hari itu lebih utama dari tujuh puluh haji yang wuqufnya selain pada hari Jumat. Seutama-utama doa adalah doa di hari ‘Arafah; seutama-utama kalimat yang kuucapkan dan diucapkan oleh para nabi sebelumku adalah</em>: Lâ ilâha illâ Allâh wahdahu lâ syarîka lahu &#8211;<em>Tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya</em>.”</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaydillâh bin Kuraiz, seorang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi. Sebagian ulama menilai riwayat ini bernilai lemah. «<strong> []</strong></p>
<div class="formcontainer">
	<p class="information">Bagian bertanda<span class="required">*</span> harus di isi dengan benar.</p>
	<form class="contact-form" action="http://www.alifmagz.com/haji-akbar-dan-haji-biasa/" method="post">
		<fieldset>
			<legend>Informasi Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_name">Nama <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_name" name="ec_name" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_email">Email <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_email" name="ec_email" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_url">Website</label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_url" name="ec_url" class="text optional" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Pesan Anda</legend>
			<div class="form-label"><label for="ec_subject">Judul <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-input"><input id="ec_subject" name="ec_subject" class="text required" type="text" value="" size="30" maxlength="50" /></div>
			<div class="form-label"><label for="ec_message">Pesan <span class="required">*</span></label></div>
			<div class="form-textarea"><textarea id="ec_message" name="ec_message" class="text required" cols="40" rows="8"></textarea></div>
		</fieldset>
		<fieldset>
			<legend>Konfirmasi</legend>
			<div class="form-option"><input id="ec_option_cc" name="ec_option_cc" class="check optional" type="checkbox" value="true" /> <label for="ec_option_cc">Salin pesan ke email?</label></div>
			<div class="form-submit">
				<input type="submit" name="submit" class="button" value="Kirim" />
				<input type="hidden" name="ec_stage" value="process" />
				<input type="hidden" name="ec_referer" value="" />
				<input type="hidden" name="ec_orig_referer" value="" />
			</div>
		</fieldset>
	</form>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/haji-akbar-dan-haji-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejauh Mana Upaya Menyeleksi Kebenaran Hadits?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/sejauh-mana-upaya-menyeleksi-kebenaran-hadits/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/sejauh-mana-upaya-menyeleksi-kebenaran-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 22:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[menyeleksi]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8607</guid>
		<description><![CDATA[T: Sampai sejauh mana upaya menyeleksi kebenaran hadits, sebagaimana halnya al-Qur’an, dengan adanya Lajnah Pentashih al-Qur’an? Mochtar Shaleh, S.H. &#8211; Paledang, Bogor Tengah M. Quraish Shihab: Hadits berbeda dari al-Qur’an. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan umat Islam berkenaan dengan teks ayat-ayat al-Qur’an, walau sepatah kata pun. Ini karena al-Qur’an disampaikan kepada kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8608" style="margin: 5px 7px;" title="now_hadits_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_hadits_ed56-150x150.jpg" alt="now_hadits_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Sampai sejauh mana upaya menyeleksi kebenaran hadits, sebagaimana halnya al-Qur’an, dengan adanya Lajnah Pentashih al-Qur’an?<br />
<strong>Mochtar Shaleh, S.H. &#8211; Paledang, Bogor Tengah</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Hadits berbeda dari al-Qur’an. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan umat Islam berkenaan dengan teks ayat-ayat al-Qur’an, walau sepatah kata pun. Ini karena al-Qur’an disampaikan kepada kita dari generasi ke generasi oleh sedemikian banyak orang dalam redaksi yang sama dan jumlah ayat yang tidak berbeda. Karena itu, sangat mudah menentukan kekeliruan jika ada, apalagi cukup banyak yang menghafalnya. Ini berbeda halnya dengan hadits. Sabda-sabda Nabi itu, sebagian besar, diterima oleh kaum Muslim dari generasi ke generasi, tetapi tidak dalam bentuk pemberitaan atau penyampaian sebagaimana halnya al-Qur’an. Hadits-hadits Nabi umummya disampaikan oleh seorang atau beberapa orang saja, itu pun tidak jarang dikemukakan dengan maknanya, bukan dengan redaksi yang digunakan Nabi Saw. Untuk menentukan hadits yang sahih atau yang tidak sahih, ada cara penyeleksian yang, walaupun &#8211;secara umum kriterianya disepakati oleh ulama, tetapi mereka berbeda ketika menerapkannya. Mereka sepakat menyatakan bahwa suatu hadits baru dinilai sahih bila memenuhi lima syarat. Di antaranya adalah bahwa perawinya harus jujur dan kuat ingatan. Nah, dalam syarat ini saja sudah bisa terjadi perbedaan penilaian. Boleh jadi seorang pakar menilai seseorang sebagai jujur atau kuat ingatan, tetapi pakar yang lain menilainya tidak demikian, sehingga penilaian tentang kesahihan hadits itu berbeda.</p>
<p>Di beberapa negara Islam, telah ada usaha-usaha untuk menghimpun hadits yang disepakti, namun usaha itu belum sempurna. Mudah-mudahan mereka segera berhasil. Di Indonesia, kita sangat kekurangan pakar dalam bidang hadits, sehingga hampir tidak ada upaya serius dan secara kolektif. Memang, ada beberapa sarjana &#8211;khususnya yang menulis disertasi doktor dalam bidang hadits&#8211; yang telah berupaya melakukannya. Hanya saja, jumlah yang melakukannya masih sangat terbatas, dan hadits-hadits yang mereka koreksi pun terbatas pula, itu pun baru sebatas penilaian atas perawi, dan belum mencakup aspek-aspek yang lain. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/sejauh-mana-upaya-menyeleksi-kebenaran-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Zakat Harta</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/tentang-zakat-harta/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/tentang-zakat-harta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 22:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qur'an & Answer]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[q&a]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8603</guid>
		<description><![CDATA[T: Saya punya sebidang tanah kosong dan sebuah rumah yang ditempati saudara saya. Apakah tanah dan rumah itu termasuk kekayaan yang harus dikeluarkan zakatnya [2,5%]? Ny. Ida &#8211; Jakarta Selatan M. Quraish Shihab: Zakat diwajibkan atas semua harta yang berkembang atau berpotensi untuk berkembang dan tidak lagi merupakan penyaluran kebutuhan si wajib zakat dan keluarga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-8604" style="margin: 5px 7px;" title="now_harta_ed56" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/now_harta_ed56-150x150.jpg" alt="now_harta_ed56" width="150" height="150" />T: </strong>Saya punya sebidang tanah kosong dan sebuah rumah yang ditempati saudara saya. Apakah tanah dan rumah itu termasuk kekayaan yang harus dikeluarkan zakatnya [2,5%]?<br />
<strong>Ny. Ida &#8211; Jakarta Selatan</strong></p>
<p><strong>M. Quraish Shihab: </strong><br />
Zakat diwajibkan atas semua harta yang berkembang atau berpotensi untuk berkembang dan tidak lagi merupakan penyaluran kebutuhan si wajib zakat dan keluarga yang ditanggungnya. «<strong> []</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/tentang-zakat-harta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

