<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alif Magazine &#187; sekolah</title>
	<atom:link href="http://www.alifmagz.com/tag/sekolah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alifmagz.com</link>
	<description>Alhamdullilah It's Friday</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 12:25:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Sekolah dengan Sepenuh Hati Belajar dari Alam</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/sekolah-dengan-sepenuh-hati-belajar-dari-alam/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/sekolah-dengan-sepenuh-hati-belajar-dari-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 08:42:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agushery</dc:creator>
				<category><![CDATA[What's on]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[cikeas]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alifmagz.com/?p=14640</guid>
		<description><![CDATA[Saat memasuki pelataran parkir sekolah yang berada di Cikeas ini, kita akan disambut dengan sebuah papan kayu bertuliskan : PengALAMan Adalah Guru Yang Terbaik. Sepertinya tak ada yang aneh dengan filosofi ini. Kita mungkin sering menemukannya di tempat lain. Lalu mengapa tulisan ALAM disana dicetak dengan huruf tebal? Ini yang menarik. Ada alasan yang bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat memasuki pelataran parkir sekolah yang berada di Cikeas ini, kita akan disambut dengan sebuah papan kayu bertuliskan : PengALAMan Adalah Guru Yang Terbaik. Sepertinya tak ada yang aneh dengan filosofi ini. Kita mungkin sering menemukannya di tempat lain. Lalu mengapa tulisan ALAM disana dicetak dengan huruf tebal? Ini yang menarik. Ada alasan yang bisa kita temui saat kita lebih jauh melangkah ke dalamnya.</p>
<p>Di satu sudut, tampak beberapa murid SD sedang sibuk memilah-milah kertas dan beberapa botol bekas. Bekas? Sepertinya bukan mainan yang bersih untuk digeluti murid-murid yang sedang dalam jam belajar ini. Tapi tahukah, ternyata sampah-sampah organik dan anorganik ini menjadi teman akrab mereka setiap hari. Pihak sekolah sengaja membiasakan murid demi tujuan yang lebih baik. Bukan sekedar memilah sampah, juga belajar untuk mempergunakannya sebagai barang yang berguna.</p>
<div id="attachment_14641" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/memilahsampah.jpg"><img class="size-medium wp-image-14641" title="memilahsampah" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/memilahsampah-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Siswa Memilah Sampah</p></div>
<p>Tak salah bila kita dengan mudah menemukan bekas-bekas kertas ini dalam rupa yang lebih cantik. Menjadi alat kegiatan belajar mengajar, menjadi sebuah papan petunjuk jalan, menjadi pengganti kertas gambar, atau juga berbentuk permainan yang bisa menambah nilai sebuah botol minuman bekas.</p>
<p>Alam memang dijajarkan sebagai teman yang harus diakrabi. Saat mereka bisa menghargai alam, mereka juga lebih bijak menghargai yang lainnya. Termasuk tamu. Saat kami hadir, rombongan ini dalam perintah gurunya, berformasi menjadi barisan yang rapi untuk mengucapkan salam kepada tamu yang lewat. Sebuah penanda pelajaran budi pekerti juga bisa diajarkan dalam bentuk yang mudah.</p>
<div id="attachment_14645" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/berbaris.jpg"><img class="size-medium wp-image-14645" title="berbaris" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/berbaris-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Berbaris Rapi Menyambut Tamu</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p>Di dalam Sekolah Alam Cikeas ini, ruangan-ruangan kelas pun disusun dalam bentuk yang alami. Ruang-ruang kelas yang tanpa sekat memungkinkan udara sejuk bisa menyapa para murid saat belajar. Dengannya, oksigen yang lebih bersih memungkinkan fungsi otak mereka lebih segar menerima ilmu baru karena didukung dengan asupan udara yang bersih pula. Sebuah simbiosis yang memungkinkan alam hadir dalam bentuk yang akrab.</p>
<div id="attachment_14642" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/kelas2.jpg"><img class="size-medium wp-image-14642" title="kelas2" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/kelas2-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Ruangan Kegiatan Belajar Mengajar</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p>Ramah lingkungan memang bukan hanya monopoli produk yang tak merusak lingkungan. Sebutan ini juga patut disematkan untuk sekolah ini yang berhasil membuat alam sebagai media interaksi yang membuat anak didik menjadi petualang yang selalu ingin tahu.</p>
<div id="attachment_14643" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/rumahkodok.jpg"><img class="size-medium wp-image-14643" title="rumahkodok" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/rumahkodok-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah Kodok</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p>Di salah satu halaman juga tampak petunjuk akan kehadiran rumah kodok. Meski hanya seukuran sejengkal, liang ini sengaja dipertunjukan kepada para murid agar mereka bisa belajar akan hal alami yang bisa disediakan oleh lingkungannya kepada mahluk hidup lainnya disini. Sekolah memang bukan sekedar tempat bagi guru dan murid. Juga mahluk hidup lainnya yang bisa selaras untuk diakrabi dan dipelajari. Agar hidup pun menjadi lebih baik. [Agus]</p>
<div id="attachment_14644" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/IbuAna.jpg"><img class="size-medium wp-image-14644" title="IbuAna" src="http://www.alifmagz.com/wp-content/uploads/2011/10/IbuAna-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Maisyafriana, Kepala Sekolah SD Alam Cikeas</p></div>
<p>Alamat Sekolah Alam Cikeas :<br />
Komplek Puri Cikeas Jl. Letda Natsir, Nagrak, Gunung Putri, Bogor 16967<br />
Direktur : Loula Maretta<br />
Website : <a href="http://sacikeas.com" target="_blank">sacikeas.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/sekolah-dengan-sepenuh-hati-belajar-dari-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jujur dengan Kemampuan dan Minat Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/jujur-dengan-kemampuan-dan-minat-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/jujur-dengan-kemampuan-dan-minat-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 02:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agushery</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=9290</guid>
		<description><![CDATA[Setiap pertengahan tahun biasanya menjadi momen kelulusan pelajar dan mahasiswa. Setelah itu, pelajar biasanya mencari sekolah atau perguruan tinggi favorit, sementara mahasiswa yang baru diwisuda biasanya berlomba-lomba mencari pekerjaan. Lihatlah di jalan-jalan, biasanya kita menemukan spanduk iklan sekolah dan lembaga pendidikan. Lihat juga di koran-koran edisi akhir pekan, biasanya kita menemukan banyak iklan lowongan pekerjaan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap pertengahan tahun biasanya menjadi momen kelulusan pelajar dan mahasiswa. Setelah itu, pelajar biasanya mencari sekolah atau perguruan tinggi favorit, sementara mahasiswa yang baru diwisuda biasanya berlomba-lomba mencari pekerjaan. Lihatlah di jalan-jalan, biasanya kita menemukan  spanduk iklan sekolah dan lembaga pendidikan. Lihat juga di koran-koran edisi akhir pekan, biasanya kita menemukan banyak iklan lowongan pekerjaan.</p>
<p>Ya, fenomena ini bukanlah hal baru jika kita memasuki pertengahan tahun. Setiap bulan Juni sampai awal Agustus adalah momen tahun ajaran baru bagi dunia pendidikan di tanah air sekaligus awal bagi para lulusan baru perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan.<span id="more-9290"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/carrerpassion.png"><img class="size-medium wp-image-9291    aligncenter" title="carrerpassion" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/carrerpassion-300x225.png" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Seperti sudah jadi pemakluman, pendidikan selalu berbenang merah dengan kesempatan kerja. Artinya, kalau kita berhasil dalam pendidikan, terutama dengan ukuran prestasi akademik, niscaya peluang mendapatkan pekerjaan yang bagus, besar kemungkinan akan tercapai.</p>
<p>Namun, untuk mendapatkan kesuksesan dalam dunia pendidikan dan pekerjaaan terkadang masih banyak orang memaksakan diri dengan kemampuannya yang justru tidak cocok dengan minatnya. Contohnya, Si A masuk perguruan tinggi mengambil jurusan manajemen dengan alasan nantinya gampang mendapatkan pekerjaan, tapi ternyata hati nuraninya lebih cenderung meminati pekerjaan sebagai guru. Contoh lainnya, Si B mencoba melamar pekerjaan sebagai karyawan bank karena gajinya rata-rata lebih besar, tapi ternyata hati nuraninya tergila-gila pada pekerjaan kreatif.</p>
<p>Kalau kita mengalami kondisi seperti itu, berarti kita sudah mengkhianati kemampuan dan minat diri kita sendiri. Kita tidak jujur pada studi atau pekerjaan yang sedang kita jalani. Dan ketidakjujuran selalu mendatangkan kerugian, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga orang lain. Salah satu indikasinya, banyak perusahaan yang gulung tikar karena para karyawannya tidak loyal dan qualified pada bidang pekerjaannya. Karena tidak jujur dengan kemampuan dan minat kerjanya, senses of belonging mereka pada perusahaan begitu minim.</p>
<p>Intinya, setiap kegiatan atau pekerjaan yang kita geluti harus sejalan dengan passion, seperti banyak dibahas oleh para motivator dan CareerCoach. Salah satunya oleh Ren? Suhardono. Dalam bukunya Your Job is Not Your Career (<a href="http://www.lenterahati.com" target="_blank">Penerbit Literati</a>), Ren? menyatakan bahwa passion adalah segala macam wujud keunikan (baca keistimewaan) yang kita miliki dan rasakan, Memang pada sisi lain, passion tidak ada kaitannya dengan kebisaan dan keahlian kita, namun itu justru berhubungan dengan segala hal yang menggugah pribadi. Menurut Ren?, menjalani passion mungkin tida mendatangkan manfaat ekonomis secara instan,namun akan membuka pintu menuju hidup yang tidak hanya diwarnai kepentingan ekonomis, yakni A Great Life!.</p>
<p>Itu hanyalah sedikit dari sekian banyak cara memahami passion dalam diri kita. Passion adalah suatu hasrat yang sebenarnya sangat lekat dengan spiritualitas di dalam diri kita. Orang bisa bahagia kalau nilai-nilai spiritualitas selalu mengiringi hidupnya.</p>
<p>Nah, hubungan kebahagiaan dan nilai spiritualitas ini sebenarnya bagian dari ajaran Islam. Tapi dalam konteks dunia pekerjaan, terkadang kita melupakannya. Misalnya, karena seseorang yang passion-nya tidak cocok dengan pekerjaan yang dijalaninya, dia akhirnya tidak ikhlas mengerjakan tugas-tugasnya. Padahal ikhlas dalam pekerjaan adalah bagian dari iman, terutama iman yang berkaitan dengan keyakinan di dalam hati (i&#8217;tiqadun bi al-Janan) dan iman yang berkaitan dengan bentuk amalan (&#8216;amalun bi al-Arkan).</p>
<p>Jadi, kejujuran dan passion dalam dunia pekerjaan semestinya menjadi satu kesatuan yang harus kita miliki karena keduanya mengandung nilai-nilai iman dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Mengenai kejujuran dalam pekerjaan, Rasulullah Saw pernah memberikan janji pada orang yang jujur. Dalam hadits riwayat Imam Turmudzi : Dari Abu Said Al-Khudri ra, beliau berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, &#8220;Pebisnis yang jujur lagi dipercaya (amanah) akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada.&#8221;</p>
<p>Dalam ajaran Islam, kejujuran termasuk salah satu etika dalam bekerja. Memang kita seringkali  sulit menjalankan etika itu. Tapi setidaknya kita bisa mencoba untuk terus menjalaninya, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Bukankah lebih baik jujur dengan kemampuan apa adanya, ketimbang tertekan dengan ketidakmampuan tapi dipaksakan?</p>
<p>Pepatah mengatakan,  “lebih baik menjadi juara dua di antara juara umum daripada jadi juara satu dari yang lemah atau juara utama dari yang bodoh.” Artinya, yang terpenting bukan jadi juara, tapi bagaimana kita bisa memompa kemampuan diri kita sendiri secara optimal dalam menjalani kehidupan ini. Demikianlah wallâhu a’lam. [yogira]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/jujur-dengan-kemampuan-dan-minat-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fatiyah Sukses Mendirikan Al-Fattah</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/fatiyah-sukses-mendirikan-al-fattah/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/fatiyah-sukses-mendirikan-al-fattah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 07:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>husni</dc:creator>
				<category><![CDATA[You Can Do It]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah islam]]></category>
		<category><![CDATA[TK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/wp/?p=8862</guid>
		<description><![CDATA[Fatiyah Puji Astuti [30] yang biasa disapa Ibu Fatiyah oleh anak didiknya, menginginkan masyarakat disekitarnya yang berekonomi rendah bisa lebih maju dalam pendidikan. Dengan niat yang mulia, wanita ini, bersama suaminya N. Kusdaniama dan adik bungsunya Ida Rohayati, mendirikan sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Islam sederhana. Pada Tahun 2002, TK Al-Fattah berdiri diatas tanah seluas 200 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8863" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-8863" title="FatiyahPujiAstuti" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/05/FatiyahPujiAstuti.jpg" alt="Fatiyah Puji Astuti " width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Fatiyah Puji Astuti </p></div>
<p>Fatiyah Puji Astuti [30] yang biasa disapa Ibu Fatiyah oleh anak didiknya, menginginkan masyarakat disekitarnya yang berekonomi rendah bisa lebih maju dalam pendidikan.</p>
<p>Dengan niat yang mulia, wanita ini, bersama suaminya N. Kusdaniama dan adik bungsunya Ida Rohayati, mendirikan sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Islam sederhana. Pada Tahun 2002, TK Al-Fattah berdiri diatas tanah seluas 200 meter persegi (m²) milik H. Abdurohim (ayah Fatiyah). Awalnya bangunan ini adalah sebuah kontrakan yang diubah fungsi menjadi TK, dua kontrakan yang masing-masing luasnya 50 m² diubah menjadi ruang kelas dan kantor. Halaman TK ini tidak mempunyai pagar dan beralaskan tanah. Permainan yang ada juga tidak terlalu banyak, yaitu perosotan, ayunan dan putaran. Walau sederhana, TK yang terletak di Jl Cendrawasih RT 02/05 Kecamatan Ciputat Tangerang, memiliki izin dari Depdiknas. Dan menggunakan kurikulum Departemen Agama.</p>
<p>“Pada awal tahun ajaran, murid yang mendaftar hanya 10 anak. Merekapun  masih terbilang kerabat dan tetangga”. Ujar wanita berjilbab ini dengan nada santun. Peningkatan terlihat di tahun ketiga. Ini berkat kerja keras yang dilakukan ujar ibu tiga anak  ini, pada Tahun Ajaran 2004 murid yang mendaftar hingga 20 anak, bukan hanya tetangga saja tetapi dari orang-orang yang tinggal di kampung sebelah. Kemudian dari tahun ke tahun Al-Fattah mengalami peningkatan, bertambahnya ruang kelas, yaitu sebuah kontrakan diubah menjadi dua ruang kelas B1 dan B2. Begitupun jumlah murid yang terdaftar saat ini sebanyak 60 anak. Halaman sekolah kini telah berpagar, tembok-tembok mulai berwarna dan bergambar hewan seperti layaknya TK lainnya. Struktur organisasi pun tertata.</p>
<p>Karena sejak awal wanita beralis tebal ini berniat membantu masyarakat disekitarnya, maka biaya yang diperlukan untuk masuk Al-Fattah terbilang murah. Pada pendaftaran Tahun Ajaran 2011 besok hanya dikenakan biaya Rp 500.000. Biaya ini sudah termasuk seragam, uang gedung, buku pelajaran, dan uang bulanan sebesar Rp 50.000. Biaya ini sudah diperinci seminim mungkin agar tidak terlalu memberatkan murid yang bersekolah. Walaupun terbilang murah tetapi murid yang bersekolah disini bukan hanya dari kalangan ekonomi bawah saja, ada pula murid yang terbilang mampu untuk bersekolah ditempat yang lebih mahal. Namun, orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di Al-Fattah karena mereka melihat kualitas murid yang telah lulus, mereka  sudah pandai membaca, menulis dan mengenal Islam.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-8865" title="TK-AlFattah01" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/05/TK-AlFattah01.jpg" alt="TK-AlFattah01" width="300" height="227" /></p>
<p>Selain kegiatan belajar, TK Al-Fattah sering mengadakan acara-acara pentas dan peringatan hari nasional dan hari besar Islam. Dalam acara tersebut semua siswa terlibat. Mereka dibagi beberapa kelompok, ada yang bertugas membaca surat-surat pendek, baca puisi dan nasyid. Acara seperti ini rutin diadakan setiap tahun, selain mengadakan kegiatan, sekolah ini aktif mengikuti kegiatan seperti manasik haji dan perlombaan-perlombaan. « <strong>[teks &amp; foto umi]</strong><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/fatiyah-sukses-mendirikan-al-fattah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Rumah Mentari, Komunitas Belajar Gratis di Bandung Utara</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/sekolah-rumah-mentari-komunitas-belajar-gratis-di-bandung-utara/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/sekolah-rumah-mentari-komunitas-belajar-gratis-di-bandung-utara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 07:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[You Can Do It]]></category>
		<category><![CDATA[belajar gratis]]></category>
		<category><![CDATA[rumah mentari]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=8059</guid>
		<description><![CDATA[Masih banyak anak-anak bangsa yang putus sekolah. Masih banyak pelajar yang tidak mengikuti bimbingan belajar karena masalah biaya. Sekolah Rumah Mentari peduli pada hal itu. Biaya sekolah kian mahal, namun terkadang tidak berbanding lurus dengan kualitas pendidikan. Apalagi sampai sekarang masih banyak anak usia sekolah yang terbengkalai, bukan hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-8061" style="margin: 5px 7px;" title="you_rummentari1_ed50" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/you_rummentari1_ed50.jpg" alt="you_rummentari1_ed50" />Masih banyak anak-anak bangsa yang putus sekolah. Masih banyak pelajar yang tidak mengikuti bimbingan belajar karena masalah biaya. Sekolah Rumah Mentari peduli pada hal itu. </strong></p>
<p>Biaya sekolah kian mahal, namun terkadang tidak berbanding lurus dengan kualitas pendidikan. Apalagi sampai sekarang masih banyak anak usia sekolah yang terbengkalai, bukan hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga karena faktor sosial dan lingkungan di sekitarnya. Untung saja, masih ada orang-orang yang peduli dengan kondisi memprihatinkan itu. Misalnya, sejumlah orang relawan pendidikan yang membentuk sanggar atau komunitas belajar <strong>Sekolah Rumah Mentari</strong> [SRM].<img class="alignright size-full wp-image-8064" style="margin: 5px 7px;" title="you_rummentari4_ed50" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/you_rummentari4_ed50.jpg" alt="you_rummentari4_ed50" /></p>
<p>SRM berlokasi di kawasan Ciburial, Cimenyan, Bandung Utara. Sanggar ini memang sederhana. Tapi setiap minggu tempat ini ramai oleh anak-anak yang ingin belajar. Salah satu pengelola SRM, Lala Komara menjelaskan motif didirikan SRM. Menurutnya, SRM dibentuk karena dia dan teman-temannya merasa tergugah oleh beberapa anak yang putus sekolah dari sebuah lembaga pendidikan yang dinaungi sebuah yayasan. “Ada hak anak-anak yang tidak terpenuhi. Mereka tertekan oleh kebijakan yang bersifat komersial. Waktu itu saya dan teman-teman yang masih menjadi guru honorer bertekad untuk keluar saja dari yayasan tersebut dan membuka peluang anak-anak yang putus sekolah untuk belajar,” ujar pria berusia 30 tahun ini.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-8065" style="margin: 5px 7px;" title="you_rummentari5_ed50" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/you_rummentari5_ed50.jpg" alt="you_rummentari5_ed50" />Untuk menjalankan SRM, Lala tidak sendirian. Dia dibantu oleh istri dan sahabat-sahabatnya, yang rata-rata adalah mahasiswa dan alumni perguruan ternama di Bandung, seperti dari Institut Teknologi Bandung [ITB], Universitas Padjadjaran [Unpad], Universitas Pendidikan Indonesia [UPI] dan Universitas Islam Negeri [UIN] Sunan Gunung Djati, Bandung. Merekalah yang bersedia menjadi relawan pendidik di SRM.</p>
<p>Selain untuk anak-anak putus sekolah, SRM pun melayani pendidikan bagi anak-anak sekolah yang kurang mampu mendapatkan bimbingan belajar di luar sekolah. Tak heran, menjelang Ujian Nasional [UN], mereka mendapatkan bimbingan belajar ekstra secara intensif. “Kami membantu anak-anak untuk persiapan UN kelas 3 SMP dan SMA. Biasanya mulai bimbingan antara pukul 3 sampai 5 sore,” kata Lala.<img class="alignright size-full wp-image-8060" style="margin: 5px 7px;" title="you_rummentari6_ed50" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/you_rummentari6_ed50.jpg" alt="you_rummentari6_ed50" /></p>
<p>Selain pelajaran sekolah umum, SRM pun mengadakan bimbingan belajar keterampilan dan keahlian, misalnya elektronik, tata boga, dan keterampilan rajut. Sama seperti kegiatan belajar lainnya, waktu bimbingan ini diterapkan secara fleksibel. “Metode belajar di sini fleksibel, tergantung si anak maunya belajar apa. Tapi biasanya yang banyak datang ke sini pada hari Sabtu dan Minggu,” ujar Lala, yang menyediakan tempat tinggalnya untuk kegiatan di SRM.<br />
Lantaran SRM juga memperhatikan anak putus sekolah, maka para relawannya menyiapkan juga program belajar persiapan paket belajar, yakni Paket A, B, dan C. Lala berharap lewat penyelenggaraan paket belajar ini, setidaknya bisa membantu anak-anak yang masih punya semangat bersekolah.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-8063" style="margin: 5px 7px;" title="you_rummentari3_ed50" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/04/you_rummentari3_ed50.jpg" alt="you_rummentari3_ed50" />Kini ada sekira 50-an peserta didik yang mengikuti kegiatan belajar di SRM. Mereka terbagi-bagi dalam beberapa kelompok usia sekolah. Karenanya, Lala dan relawan lainnya membagi jadwal belajar setiap minggunya yang disesuaikan dengan ketersediaan waktu para relawan pendidik.</p>
<p>“Tempat ini seperti <em>learning camp</em>. Siapa saja bisa belajar di sini. Agar kegiatan belajar di sini terus berlangsung, kami pun berupaya mencari donasi,” pungkas Lala. «<strong> [teks &amp; foto: yogira]</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;">Boks</span><br />
<strong>Sekolah Rumah Mentari</strong><br />
Jl. Golf Raya No 78<br />
Kp. Sekepicung RT 03/RW 05<br />
Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan<br />
Kabupaten Bandung<br />
Tel 0813-94494969 [Lala Komara]</p>
<p><strong>Program &amp; Pendaftaran Relawan</strong><br />
M. Arfah D [0856-24188452]<br />
Surel: <em>marfahd@gmail.com</em></p>
<p><strong>Informasi Donasi</strong><br />
Ima Noor Puspitasari [0857-22055707 atau 022-91647807]<br />
Surel: <em>ima@pusat.itb.ac.id</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/sekolah-rumah-mentari-komunitas-belajar-gratis-di-bandung-utara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quote 25 Maret</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/quote-25-maret/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/quote-25-maret/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 22:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[quote]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7646</guid>
		<description><![CDATA[Keterampilan itu tidak ada sekolahnya. « [Pepatah Turki]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keterampilan itu tidak ada sekolahnya. «<strong> [Pepatah Turki]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/quote-25-maret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan Pendidikan Kita?</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/ada-apa-dengan-pendidikan-kita/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/ada-apa-dengan-pendidikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 22:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[This Friday]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=7578</guid>
		<description><![CDATA[“Enggak makan sekolahan ya?” Ingatkah dengan kata-kata berlogat Betawi ini, yang hingga kini masih kerap terdengar di teve terhadap seseorang yang menunjukkan perilaku yang buruk? Kata-kata ini secara umum menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan sepatutnya menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sedangkan orang yang berperilaku seenaknya saja, tanpa aturan, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-7579" style="margin: 5px 7px;" title="utama_pendidikan_ed49" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/03/utama_pendidikan_ed49.jpg" alt="utama_pendidikan_ed49" width="300" height="196" />“<em>Enggak </em>makan sekolahan ya?” Ingatkah dengan kata-kata berlogat Betawi ini, yang hingga kini masih kerap terdengar di teve terhadap seseorang yang menunjukkan perilaku yang buruk? Kata-kata ini secara umum menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan sepatutnya menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sedangkan orang yang berperilaku seenaknya saja, tanpa aturan, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak pernah mengenyam bangku sekolah, alias tidak berpendidikan.</p>
<p>Pernyataan tersebut sesuai dengan hakekat pendidikan dalam Islam yang seharusnya. Seperti yang diungkapkan Abu ‘Ali al-Husayn bin ‘Abdullah Ibnu Sina yang dikenal sebagai ilmuwan dan dokter legendaris. Menurut Ibnu Sina, pendidikan atau pembelajaran itu menyangkut seluruh aspek pada diri manusia, mulai dari fisik, mental, maupun moral. Tak hanya itu, namun pendidikan juga seyogyanya dapat membentuk individu yang menyeluruh termasuk jiwa, pikiran, dan karakter, yang dapat menyiapkan anak menghadapi masa dewasa. Namun benarkah demikian?</p>
<p>Faktanya, semakin hari semakin banyak orang yang berpendidikan tidak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Jika melihat siswa yang masih duduk TK merusakkan barang, atau memukul temannya, tentu hal ini dimaklumi sebagai akibat anak-anak tersebut belum mampu mengendalikan emosi. Namun jika yang melakukan perbuatan merusak maupun penyerangan terhadap orang lain itu seseorang yang telah duduk di bangku kuliah, maka di manakah salahnya?</p>
<p>Tawuran yang berkali-kali terjadi menunjukkan adanya masalah serius di bidang pendidikan. Walaupun pihak kampus juga perlu dipertanyakan dalam hal ketegasan pemberlakuan sanksi, adanya kesenjangan komunikasi serta kemungkinan-kemungkinan lain, seperti kurangnya kegiatan-kegiatan positif yang diadakan di kampus. Namun pendidikan merupakan sebuah proses yang panjang, sehingga tidak bijaksana jika hanya pihak kampus yang disalahkan.</p>
<p>Selain itu menyerahkan sepenuhnya kesalahan terhadap sistem pendidikan maupun institusi pendidikan juga bukan sebuah solusi yang tuntas. Walaupun pihak sekolah mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, namun tidak akan mampu mendewasakan manusia seutuhnya. Karena pendukung dan pelaksana pendidikan bukan hanya dilihat dari segi tenaga, dana, dan sarana yang disediakan pemerintah. Lebih dari itu, juga kerjasama antara keluarga, masyarakat dan peserta didik secara timbal balik. Pendidikan merupakan tanggungjawab kita bersama, seperti pepatah, “Butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak.”</p>
<p>Orangtua pun merupakan tenaga kependidikan yang utama maupun pertama. Tentu sebagai orangtua, kita tidak bisa lepas tangan, bak menyerahkan adonan tanah liat ke pihak sekolah dan mengharap menerima kembali sebuah bejana yang indah di akhir masa sekolah, tanpa ikut campur membentuknya. Namun jika mendapatkan bentuk yang tidak sesuai, lalu orangtua sibuk menyalahkan pihak sekolah maupun pemerintah. Karena seperti sabda Rasulullah, “<em>Sesungguhnya Allah akan mempertanyakan kepada setiap penggembala apa yang dilakukannya terhadap gembalaannya, menjaganya atau menghilangkannya hingga seseorang akan ditanya tanggungjawabnya terhadap keluarganya</em>.” [An-Nasâi dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam shahih-nya secara marfu’]. «<strong> [esthi] – foto: sxc</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/ada-apa-dengan-pendidikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>INDIPT, Warga Kebumen buat Sekolah Sadar Bencana</title>
		<link>http://www.alifmagz.com/indipt-warga-kebumen-buat-sekolah-sadar-bencana/</link>
		<comments>http://www.alifmagz.com/indipt-warga-kebumen-buat-sekolah-sadar-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 06:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[You Can Do It]]></category>
		<category><![CDATA[indipt]]></category>
		<category><![CDATA[kebumen]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alifmagz.com/?p=6530</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa warga Kebumen membuat sebuah lembaga yang diberi nama INDIPT [Institut Studi dan Penguatan Masyarakat]. Lembaga swadaya ini menjadi wadah pengembangan dan pembangunan sosial/kemanusiaan di Kebumen, Jawa Tengah. Salah satu programnya adalah membuat Sekolah Sadar Bencana. Siapa pun pasti menguatirkan datangnya bencana, khususnya bencana alam. Namun, di Indonesia, terbilang jarang warga di sebuah daerah membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-6531" style="margin: 5px 7px;" title="you_indipt3_ed42" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/01/you_indipt3_ed42.jpg" alt="you_indipt3_ed42" width="300" height="225" />Beberapa warga Kebumen membuat sebuah lembaga yang diberi nama INDIPT [Institut Studi dan Penguatan Masyarakat]. Lembaga swadaya ini menjadi wadah pengembangan dan pembangunan sosial/kemanusiaan di Kebumen, Jawa Tengah. Salah satu programnya adalah membuat Sekolah Sadar Bencana. </strong></p>
<p>Siapa pun pasti menguatirkan datangnya bencana, khususnya bencana alam. Namun, di Indonesia, terbilang jarang warga di sebuah daerah membuat lembaga swadaya yang membuat program khusus untuk mewaspadai datangnya bencana, seperti yang dilakukan INDIPT Kebumen. Lembaga ini berdiri pada Juli 2000. Sebelumnya, INDIPT pun membuat program-program lainnya, seperti program kesetaraan gender, lingkungan, dan pendidikan. Program ini dibuat untuk mengentaskan kemiskinan dan menghindari runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p>Menyoal program Sekolah Sadar Bencana, Direktur INDIPT Akhmad Murtajib mengatakan, Sekolah Sadar Bencana adalah salah satu bagian program INDIPT dalam masalah lingkungan. Para pembimbing dan pesertanya adalah warga Kebumen sendiri. “Sebenarnya sekolah ini sebagai pembelajaran bagi masyarakat untuk memetakan masalah, terutama lingkungan. Kami pun mendorong mereka untuk membaca masalah yang berkaitan dengan lingkungan dan bagaimana cara menyiapkan diri kalau terjadi bencana. Tak hanya bencana seperti banjir atau tsunami, tetapi juga bencana gagal panen,” kata Murtajib.<img class="alignright size-full wp-image-6532" style="margin: 5px 7px;" title="you_indipt1_ed42" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/01/you_indipt1_ed42.jpg" alt="you_indipt1_ed42" width="300" height="240" /></p>
<p>Murtajib menjelaskan, Sekolah Sadar Bencana di Kebumen lebih menekankan pada persiapan warga dalam menghadapi bencana, bukan pada saat bencana terjadi. Menurut Murtajib, sekolah ini bertujuan untuk menerapkan manajemen aset warga. “Dengan cara seperti ini, jika warga mendapat bencana, mereka bisa menyelamatkan aset miliknya, seperti tanah, padi, rumah, dan lain-lain,” kata Murtajib.</p>
<p>Namanya juga Sekolah Sadar Bencana, materi pembelajarannya pun banyak berupa pengenalan lingkungan dan cara melestarikannya. Sedangkan waktu pembelajarannya biasanya dilaksanakan malam hari setelah warga pulang dari aktivitas kerja. “Tapi, yang pasti waktunya menyesuaikan dengan kondisi dan pekerjaan. Sedangkan pelajarannya kebanyakan tentang pemahaman tentang bencana,” imbuh Murtajib. Menurut Murtajib, hari minggu adalah saat yang paling tepat sekolah ini dilaksanakan, tapi itu juga tergantung kesepakatan warga.</p>
<p><img class="size-full wp-image-6533 alignleft" style="margin: 5px 7px;" title="you_indipt2_ed42" src="http://alifmagz.com/wp-content/uploads/2010/01/you_indipt2_ed42.jpg" alt="you_indipt2_ed42" width="225" height="300" />Gagasan Sekolah Sadar Bencana muncul pada tahun 2007. Meskipun sekolah ini belum dilembagakan, Murtajib yakin sekolah ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya masyarakat di Kebumen. Selain menjalankan Sekolah Sadar Bencana, Murtajib lewat lembaga INDIPT mengupayakan juga pembinaan dan pendidikan bagi anak-anak secara swadaya. Pengajar dan pembimbingnya adalah sukarelawan dari warga Kebumen sendiri. «<strong> [yogira] – foto: indipt.org</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;">Boks </span><br />
<strong>INDIPT [Institut Studi dan Penguatan Masyarakat]</strong><br />
Jl. Cincin Kota, Gg. Merpati, No. 4, Karangsari, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia<br />
Tel: +6287-5501864<br />
Surel: <em>indipt@indipt.org</em>, <em>indipt@gmail.com</em><br />
Laman: <a href="www.indipt.org">www.indipt.org</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alifmagz.com/indipt-warga-kebumen-buat-sekolah-sadar-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

